Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work

6.25.2016

Solo, 12 Juni 2016 : Běijīng, wǒ láile !! ( 北京,我来了 ) (Beijing, Aku Datang!!)

CHINA. Finally!!

Ketika aku membaca email dari Air Asia yang mengatakan bahwa beberapa hari lagi akan diadakan promo kejutan Rp 0, aku belum berpikir sama sekali akan mengunjungi China. Aku hanya akan ikut berburu tiket promo, itu saja. Belum ada tujuan dan target yang jelas mau kemana. Kalau angan-angan, ada Myanmar dan Srilanka. Tapi aku ingin mengunjungi kedua negara tersebut tahun ini, sementara promonya untuk tahun depan saja.

Mendekati jam 11 malam, aku tidak bisa tidur. Andrenalinku bergejolak. Rasanya sudah lama sekali aku tidak berburu tiket promo Air Asia lagi. Terakhir aku melakukannya di 2014, saat membeli tiket dari Johor Bahru ke Surabaya, yang akhirnya aku mendapatkan tiket tersebut kemudian perjalanannya kubatalkan. Sudah 2 tahun berlalu, jantungku berdegup kencang.

Jam 11 malam akhirnya datang, promo Rp 0 pun akhirnya dimulai. Boro-boro bisa masuk situs Air Asia, mengeload situsnya sedikitpun tidak bisa. Terlalu banyak pemburu tiket yang menyerbu situs Air Asia dalam waktu bersamaan. Aku menunggu dan mencoba selama beberapa jam, kemudian merasa menyerah karena aku hampir tidak bisa masuk situs Air Asia sama sekali.

Jam 2 pagi, akhirnya aku berhasil masuk situs Air Asia. Entah angin apa, salah satu kota yang aku coba cari promonya adalah Beijing dan aku menghadapi harga yang sangat murah. 229 rm sekali jalan dari Kuala Lumpur! Itu kan hanya sekitar Rp 750.000-an aja. Setara harga tiket dari Surabaya ke Kupang, Surabaya ke Palu, Surabaya ke Manado. Tiba-tiba hati kecilku berbicara, 'Aku harus ke Beijing!'

Sebenarnya aku sudah mendapatkan harga dan waktu yang pas, tetapi karena masih galau antara kota kedatangan dan kota keberangkatan pulang, ane tunda-tunda proses pembayaran. Aku ingin mendarat di Shanghai, kemudian lanjut naik kereta ke Beijing, jadi pulangnya dari Beijing. Tetapi tidak ada jam keberangkatan yang pas. Saat sudah merasa yakin, tiba-tiba harga tiket sudah kembali ke harga normal. Sial, aku telat! Untuk memastikan aku akan berangkat, kemudian aku mengamankan tiket Surabaya - Kuala Lumpur - Surabaya dahulu seharga Rp 540.000 untuk pulang pergi.

Mendekati jam sahur, situs Air Asia kembali sibuk dan susah diakses. Aku memutuskan istirahat sebentar. Jam 5, aku kembali berburu tiket. Angin ajaib apa, harga tiket ke Beijing kembali turun ke harga promo lagi :D. 

Tanpa berpikir panjang lagi, aku segera booking tiket Kuala Lumpur - Beijing - Kuala Lumpur. Sempat ragu pas mau mbayar, tinggal klik pembayaran tahap terakhir. Lalu tiba-tiba ada sebuah suara di otakku, "Ah, masa bodo! Booking aja. Gak tau ntar disananya gimana!" Hahaha. Langsung aja aku klik dan tiketku statusnya sudah berubah menjadi terkonfirmasi.

FINALLY!! AKU BENAR-BENAR AKAN KE CHINA!!

AKU AKAN MELIHAT TEMBOK CHINA!! INI KAN SALAH SATU TUJUAN YANG AKU TULIS DI BUKU MIMPIKU!! (BUKU MIMPIKU YANG BERNAMA PIOPY, BUKU YANG SAMA DIMANA AKU MENULISKAN INGIN KE INDIA DAN TERWUJUD 2012)

PANDA!! Hehehe.

Aku masih tidak percaya. Andrenalinku masih tergoncang. Meski tidak tidur semalaman, aku merasa tidak mengantuk sama sekali. Otakku terus mengagumi keberanianku untuk menekan tombol konfirmasi. Terkadang untuk mewujudkan mimpi, memang dibutuhkan sedikit sekali keberanian. Sedikit keberanian yang akan merubah segalanya.

Semoga Tuhan selalu memberikan kesehatan dan umur panjang untukku, untuk mempersiapkan dan menjalani perjalanan ke China ini. Terima kasih Tuhan!


Tiket Kuala Lumpur - Beijing PP seharga Rp 1.700.000

Tiket Surabaya - Kuala Lumpur PP seharga Rp 540.000

@@@

UPDATE
1 Februari 2017
Status : 50 %

Nggak terasa, waktu keberangkatanku ke China adalah sebulanan lagi. Sampai hari ini, beberapa perkembangan yang kulakukan adalah menyempurnakan rencana perjalanan (itinerary) yang sudah 90 % jadi. Untuk rute fix sendiri, akhirnya aku mengambil Beijing - Datong - Beijing.

VISA, aku ke Konsulat Jenderal China hari ini dan ternyata mereka masih tutup karena masih liburan imlek. Dan bukanya baru besok tanggal 2 Februari...Oh My..padahal sudah jauh-jauh kesini, pulangnya kehujanan lagi. Yaudah gpp, aku akan mengantarkan berkas pengajuan hari Jumat (3 Februari 2017) besok. Semoga lancar. Nanti aku update lagi ya.

Oiya karena ada perubahan jadwal Surabaya-Kuala Lumpur (Awalnya mendarat jam 22 waktu Malaysia jadi jam 18 waktu Malaysia, aku mempunyai kesempatan untuk jalan-jalan di Chinatown dulu malam harinya.
Perubahan jadwal Surabaya-Kuala Lumpur menjadi lebih awal

Sudah booking penginapan di Kuala Lumpur, sebuah kamar single room di Sevennite Inn, seharga 49 Ringgit per malam.

@@@

UPDATE
8 Februari 2017
Mengajukan Visa China

Setelah sempat aku tunda beberapa kali karena kesibukan kerja, akhirnya tanggal 8 Februari, aku berangkat juga ke Konsulat Jenderal China di Surabaya Barat untuk mengajukan Visa Turis China (kelas L). Yap teman-teman, mengajukan Visa China bisa dilakukan di Surabaya.

Alamatnya dimana gan Konsulat Jenderal China?
~ Lokasinya ada di Lantai 5 Gedung Spazio, Jalan Mayjend Soengkono 105, Dukuh Pakis, Surabaya. Nomor teleponnya adalah (031) 60039880. Jam bukanya dari 09.00 AM sampai 04.00 PM, dimana untuk penyerahan aplikasi dilayani dari jam 09.00 AM sampai 03.00 PM sementara pembayaran dan pengambilan paspor dari jam 09.00 AM sampai 04.00 PM. Hari Sabtu, Minggu dan hari libur nasional Konsulat ini tutup.

Gedung Spazio (Sumber Gambar : DISINI)

Situs resminya disini gan:

Apa saja persyaratan yang kubawa saat hendak mengajukan? Ini gan daftarnya:
1. Formulir aplikasi yang sudah kuisi lengkap sebelumnya. 

2. Paspor asli dengan masa berlaku minimum 6 bulan;

3. Fotocopy paspor bagian depan dan belakang yang ada biodatanya;

4. Fotocopy KTP;

5. Pas foto background putih ukuran 4,8 x 3,3 cm;

6. Tiket pesawat PP yang sudah terkonfirmasi;

7. Bookingan penginapan selama di China;

Begini Ceritanya:
Karena sebelumnya udah pernah kesini ( 1 Februari) tapi nggak jadi apply karena Konsulat masih tutup, aku tidak terlalu kesulitan menemukan lokasi Konsulat lagi. Setelah parkir motor, aku segera menuju Gedung Spazio. Oiya untuk ke Lantai 5 kita wajib menuju resepsionis/pusat informasi dahulu untuk menitipkan KTP dan ditukarkan dengan kartu akses lift. Nanti sewaktu akan naik harus menggunakan kartu ini untuk memencet tombol lantai tujuan.

Bayanganku bahwa Konsulat akan sangat ramai dan harus antri lama ternyata salah, karena sewaktu aku masuk cuma ada segelintir orang dan barisan loket-loket yang menunggu pelamar visa. Setelah mendapatkan nomor antrian aku segera menunggu giliranku dipanggil.

Petugas yang menverifikasi persyaratan visaku seorang wanita yang cukup tegas.

"Fotonya kebesaran ya ini, nanti bawa ukuran 4,8 x 3,3 aja," katanya sembari memisahkan beberapa berkas yang dia tidak memerlukannya dari aplikasiku.

Setelah menerima kembali berkasku aku segera bergegas mencari tempat print pas foto. aku berputar kesana kemari mencari dari sekian banyak ruko yang ada disitu. Aku sempat disarankan menuju Fuji Foto tapi katanya foto baru bisa jadi 45 menit lagi karena mesin sedang dipanaskan. Aku menolak dan mencoba mencari alternatif lain.

Mengandalkan google map terkadang bisa menjadi masalah karena aku sempat tertipu dua kali lokasi print foto yang ternyata kenyataannya tidak ada. Setelah hampir satu jam berputar tanpa hasil, akhirnya aku kembali ke Fuji Foto dan langsung print disana dan setelahnya bergegas kembali ke Konsulat.

Untunglah pada penyerahan berkas kedua, tidak ada masalah berarti. Setelah petugas merasa puas dengan ukuran fotoku, dia memberikan slip kertas dimana pasporku dengan visa bisa diambil hari Senin tanggal 13 Februari besok.

Aha! Gampang sekali ya ternyata apply Visa China!

@@@

UPDATE
14 Februari 2017
Visa China sudah jadi

Untuk jaga-jaga supaya tidak terkecoh (ternyata tanggal 13 pas visanya belum ready), aku memberi tambahan sehari untuk pengambilan Visa China. Jadilah aku baru berangkat ke Konsulat tanggal 14. Sebelum berangkat aku sempat memastikan dahulu dengan menelepon langsung ke Konsulat. Mereka mengatakan jika tidak ada telepon dari pihak mereka, pengambilan visa adalah sesuai dengan waktu yang tertera pada slip.

Aku menjalani prosedur seperti kemarin. Oiya perbedaan Visa China ini dengan visa yang lain, kewajiban membayar visa dilakukannya pada waktu pengambilan visa. Karena aku mengambil visa Kelas L dengan servis standar (5 hari kerja) maka aku diwajibkan membayar Rp 540.000. Sebuah Visa China yang cantik telah menempel di pasporku. Thank you God. 

Tahap terakhir: tinggal mengefixkan itinerary, membeli tiket kereta Beijing-Datong=Beijing, tukar ringgit dan yuan. Nanti aku update lagi ya kalau ada perkembangan.

UPDATE
23 Februari 2017
Ganti rute perjalanan

Entah kenapa, semakin mendekati hari H pembelian tiket kereta, aku jadi semakin ragu mau mengunjungi Datong. Hal itu karena aku mendapati Datong adalah kota tambang batubara dengan tingkat polusi udara yang tinggi. Membayangkan akan berjumpa debu dan panas menyengat, membuatku sedikit merubah pikiran. Namun aku tetap memantau tiket kereta api sleeper Beijing - Datong yang katanya akan dibuka hari ini penjualannya. Aku menunggu sampai jam yang ditentukan, dan dalam sekejap tiket kereta di jam yang kuinginkan sudah habis. Buseeet dah cepet banget!! 

PS: Untuk website pembelian tiket kereta api di China, aku memilih ctrip karena berdasarkan pengalaman agan Khairani DISINI, ctrip berani memberi harga paling murah daripada agen lainnya.

Aku mulai memikirkan alternatif kota lain. Bagaimana kalau mengunjungi tempat lain? Taman Nasional yang berupa pegunungan misalnya? Aku mulai mencari-cari di google.

Kata kunci "National Park in China" dan aku mendapati ini:
Taman Nasional Jiuzhaigou (Sumber: DISINI)

Waduh, ini dia! Aku mau kesini! langsung klop rasanya melihat gambar ini. Tetapi aku langsung putus asa melihat jaraknya dari Beijing yang jauh sekali. Taman Nasional Jiuzhaigou terletak di Provinsi Sichuan yang berjarak 1871 kilometer dari Beijing. Aku menyerah. Dengan waktu hanya 3 hari di China, aku tidak mau hanya capek di jalan. Tiket pesawat mahalnya bukan main.

Aku melanjutkan pencarian. Mataku terbelalak untuk kedua kalinya ketika tidak sengaja melihat gambar ini di google image. WOW, apa ini? Seperti Grand Canyon!
Taman Nasional Geologi Yuntaishan (Sumber: DISINI)

Aku langsung membuka situs yang memuat gambar tersebut dan mendapati bahwa nama tempat ini adalah Yuntaishan Global Geopark, alias Taman Nasional Geologi Yuntaishan. WOW! Tempat yang pas untukku yang seorang geolog. Aku melihat lokasinya di google map. Hatiku bersorak kegirangan karena ternyata jaraknya tidak terlalu jauh!! Jarak Beijing - Yuntaishan Global Geopark adalah sekitar 700 km dan ada kereta api malam kelas sleeper untuk kesana! Yeah! Ini dia, aku akan kesini.
Jarak Beijing ke Taman Nasional Geologi Yuntaishan adalah sekitar 700 kilometer (GOOGLE MAP)

Lokasi Yuntaishan Global Geopark ini berada di Provinsi Henan. Kota terdekat dengan taman nasional adalah Zhengzhou, Jiaozuo dan Xinxiang. Ini artinya, aku mempunyai tiga opsi untuk rute kereta yakni Beijing - Zhengzhou, Beijing - Jiaozuo, dan Beijing - Xinxiang. Aku langsung melihat via web http://english.ctrip.com/ apakah pembelian tiket kereta ketiga kota tersebut sudah dibuka, ternyata pembelian tiketnya baru dibuka besok pagi. Semoga besok dapat tiketnya ya!
Tiga kota terdekat dari Taman Nasional Geologi Yuntaishan yakni Zhengzhou (di selatan), Jiaozuo (di barat daya), dan Xinxiang (di timur) (GOOGLE MAP)

UPDATE
24 Februari 2017
Beli tiket kereta Beijing - Zhengzhou

Trauma dengan kejadian kemarin (tiket kereta Beijing - Datong cepat sekali habis hanya dalam hitungan menit), aku benar-benar stand by di depan PC kantor untuk membeli salah satu dari tiket berikut : Beijing - Zhengzhou,  Beijing - Jiaozuo, dan Beijing - Xinxiang. Pokoknya aku harus mengunjungi Yuntaishan Global Geopark! Titik!

Menurut penuturan di situs http://english.ctrip.com/ ,booking tiket ke Zhengzhou/Jiaozuo akan dibuka jam 17.30 hari ini. Setelah browsing mengenai perbedaan waktu antara Indonesia - China (dimana China satu jam lebih cepat dari WIB, atau setara WITA), sejak jam 16.00 aku sudah stand by. Penjualan akan dibuka jam 16.30 WIB nanti.

Pukul 16.30,tanpa pikir panjang, aku segera booking tiket kereta Beijing West - Zhengzhou (karena Beijing - Jaiozuo sudah habis). Aku memilih kereta api yang berangkat malam (21.23 sampai di Zhengzhou jam 05.40) dengan tarif yang luar biasa mahalnya (193 CNY atau setara Rp 442.000). Sedih...sedih kenapa mahal banget. Tapi gpp, asalkan itu terbayar dengan keindahan Yuntaishan Global Geopark nanti!
Konfirmasi pembelian tiket kereta Beijing - Zhengzhou via ctrip (GALUH PRATIWI)

Untuk tiket kereta Zhengzhou - Beijing, Jiaozuo - Beijing atau Xixiang - Beijing, baru bisa dibeli besok mulai 17.30. Semoga besok dapat tiketnya ya!!

UPDATE
25 Februari 2017
Beli tiket kereta Jiaozuo - Beijing

Dari tiga kota terdekat dengan Yuntaishan Global Geopark, Jiaozuo adalah kota yang paling dekat. Oleh karenanya aku menfokuskan diri mencari tiket Jiaozuo - Beijing. Pembelian tiketnya akan dimulai pukul 17.30 atau 16.30 WIB hari ini. aku kembali stand by seperti kemarin.

Mendekati jam 16.30 sampai setelahnya, aku bingung kok status tiket Jiaozuo - Beijing langsung sold out (habis) semua. Mana mungkin secepat itu kan orang booking, kutunggu selama beberapa saat status sold out itu tidak juga berubah. Aku mulai kuatir dan mengecek status tiket di situs yang lain yakni www.chinahighlights.com, tetapi memang benar totalnya menjadi lebih mahal dibandingkan http://english.ctrip.com/Sewaktu akan membayar aku iseng-iseng membuka ctrip kembali dan ternyata status tiket sudah terbuka kembali (tidak sold out). Aku segera booking. Lumayan selisih tiketnya antara ctrip dengan chinahighlights antara Rp 30.000 - Rp 40.000.
Konfirmasi pembelian tiket kereta Jiaozuo - Beijing via ctrip (GALUH PRATIWI)

Lagi-lagi aku memilih kereta api yang berangkat malam (21.57 sampai di Beijing jam 05.34) dengan tarif yang luar biasa mahalnya (193 CNY atau setara Rp 442.000). Mahal. Kereta api China memang luar biasa mahal ya. hehehe. Tapi aku yakin akan bahagia dengan perjalanan ini. Meski waktu sangat mepet dan dipastikan selama 2 malam aku akan tidur di kereta terus, tidak masalah. 

####

Surabaya,
28 Maret 2017

Ceritanya nyusul ya! Masih sibuk re-stock kantong untuk pesiapan backpacking selanjutnya! Hehehe. But this was amazing experience.












6.24.2016

[PART 15] Tinta Hindustan : Gua Dungeshwari

Seperti halnya Varanasi yang merupakan kota tersuci bagi umat Hindu, Bodhgaya merupakan salah satu kota tersuci bagi umat Buddha karena disinilah tempat Siddharta Gautama memperoleh pencerahan sehingga akhirnya ajarannya menjadi panutan umat Buddha seluruh dunia. Bodh Gaya merupakan sebuah kota religius yang terletak sekitar 11 kilometer sebelah selatan Kota Gaya. Keduanya terletak di negara bagian Bihar di sebelah timur laut India. Bodh Gaya ini adalah salah satu titik pemberhentian akhirku, dimana yang terakhir adalah di Kolkata sebelum pulang ke Indonesia.

Tidak mempunyai petunjuk transportasi apa yang akan kami gunakan keliling Bodhgaya, penjaga penginapan merekomendasikan menyewa mobil sekaligus supir dari temannya dengan tarif 1000Rs. Kami segera menyetujuinya karena ingin sedikit merasakan kesenangan dan kemudahan di hari-hari terakhir trip India ini. Keluar penginapan, pemandangan kontras sudah menyambut kami. Di sekitar bangunan penginapan kami yang notabene dianggap bangunan mewah, di sekitarnya berdiri pemukiman penduduk miskin yang sungguh mengenaskan. Anak-anak bermain di tempat becek yang begitu kotornya tanpa ada pengawasan dari orangtua. Aku tidak menyadarinya kemarin karena keadaan sudah gelap. Mobil yang kami tumpangi menghempaskan debu ke arah anak-anak malang itu, seakan tak mempedulikan kontras kehidupan yang ada.

Tatapan mata anak-anak penuh pengharapan itu tidak pernah lepas dari keberadaan kami jika melewatinya. Ya, kami seakan menjadi artis disini. Setiap pergerakan kami seakan tidak bisa lepas dari kedua bola mata mereka yang sebening air pegunungan. Memang, orang India mempunyai paras hitam manis yang khas. Kami mengamati mereka yang sedang bermain di jalanan sementara mobil terus melaju. Tempat pertama yang akan kami kunjungi adalah Bukit Dungeshwari dengan Gua Mahakala yang terkenal.

Mobil berjalan perlahan menyusuri jalanan di Bodh Gaya. Jalanan ke Bukit Dungeshwari yang berjarak 15 kilometer dari Kota Bodh Gaya didominasi oleh dataran luas yang dikelilingi oleh perbukitan yang menghampar jauh disana.Karena India sedang memasuki musim penghujan, bisa ditebak, semuanya menghijau menyegarkan. Di sepanjang jalan saya banyak melihat satu hal unik yaitu rumah-rumah penduduk lokal yang ditempeli kotoran sapi di sepanjang dinding luarnya. Menurut penuturan sopir kami, kotoran sapi itu digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak. Sungguh memang sapi adalah hewan yang berjasa, semua bagian tubuhnya bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia.

Perjalanan menuju Gua Dungeshwari (GALUH PRATIWI)

Perjalanan menuju Gua Dungeshwari (GALUH PRATIWI)

Semakin mendekati Bukit Dungeshwari, jalanan semakin menanjak dan melewati jalanan tanah. Di kiri kanan jalan saya menjumpai bebatuan tua yang menghampar luas. Bebatuan tua berwarna coklat kemerahan itu tersingkap luas, ada yang berupa bongkah-bongkahan dengan retakan disana-sini. Hal itu tentu saja lumrah terjadi karena menurut sejarah geologinya, kerak benua India merupakan salah satu kerak benua berusia paling tua di dunia. Pemandangan didominasi oleh perbukitan hijau dengan pepohonan yang menghampar luas.
Bukit Dungeshwari dengan batuan tuanya (GALUH PRATIWI)

Reruntuhan batuan di Bukit Dungeshwari (GALUH PRATIWI)

Di sepanjang jalan menuju tempat parkiran, kami sempat menjumpai beberapa pengemis yang mengulurkan tangan di luar mobil sana. Kami hanya bisa bergeming karena supir sama sekali tidak menurunkan kecepatan. Mungkin baginya terlalu biasa melihat begitu banyaknya pengemis yang meminta-minta disini. Dengan jumlah penduduk yang melebihi 1 miliar ( empat kali jumlah penduduk Indonesia), tentunya persaingan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak tidak akan mudah. Seseorang harus teredukasi dan mempunyai keterampilan. Sisanya? harus tabah menerima nasib bekerja seadanya.

Menurut penuturan supir kami, atraksi utama dari Bukit Dungeshwari ini adalah Gua Dungeshwari / Gua Mahakala yang berada diatas bukit sana. Ya, untuk menuju kesana memang kami wajib treking sesaat (sekitar 20 menit). Tapi rute treking yang sudah disemen bagus ditambah pemandangan indah seakan membuar treking ini tidak berarti. Menurut salah satu papan yang saya baca di pinggir jalan treking, jalan ini dibangun atas sponsor dari dua bersaudara dari Thailand (Mantavone Ratsaphong dan Khamsav Southiphong Ratshaphong), anggota keluarga mereka, serta anggota Perkumpulan Lao French 2004. Sebelum mendapat sponsor dari mereka, bisa dibayangkan, mungkin masih berupa jalan tanah.

Treking menuju Gua Dungeshwari (GALUH PRATIWI)

Di sepanjang jalan kami banyak menjumpai monyet yang berkeliaran bebas dan sapi yang merumput di kiri kanan jalur treking. Sesekali saya melihat pengemis dengan badan kurusnya yang sungguh membuat saya iba dan memberinya beberapa rupee. Saya juga sempat membeli biskuit untuk diberikan kepada monyet-monyet diatas nanti.
Sapi di sepanjang perjalanan (GALUH PRATIWI)

Beberapa saat sebelum sampai di atas, saya sempat menjumpai seorang peziarah tua botak yang menggunakan jasa angkut lokal berupa keranda sederhana yang terbuat dari bambu. Keranda tersebut diangkut oleh beberapa lelaki India usia tanggung dengan tubuhnya yang terlihat kuat dan kekar, seakan sudah terlalu biasa melakukan kegiatan ini. Hal tersebut cukup wajar karena banyak peziarah usia lanjut yang berkunjung kesini, dimana mereka sudah tidak sanggup lagi kalau harus treking. Saya rasa metode transportasi ini cukup efektif, bisa memberikan penghasilan untuk orang lokal.
Alat angkut menuju Gua Dungeshwari (GALUH PRATIWI)

Semakin mendaki keatas, jalanan menjadi semakin sempit dan berundak. Monyet-monyet semakin banyak keluar dan menggoda kami, meminta secuil makanan. Tapi nanti dulu, kami melanjutkan perjalanan keatas sampai menemukan sebuah bangunan yang seperti kuil. Di belakang bangunan tersebut terdapat dinding tinggi terjal dengan goresan kekar disana-sini. Bendera doa Tibet warna-warni terlihat dikaitkan pada dinding, berkibar-kibar mengirimkan mantra dan doa ke seluruh penjuru dunia. Setelah melewati beberapa undak-undakan, terlihatlah beberapa gua yang merupakan tujuan utama perjalanan kami. Gua yang paling utama tentulah Gua Dungeshwari/ Gua Mahakala, yakni gua tempat dimana Sang Buddha mengasingkan diri dan menghabiskan waktu selama 6 tahun untuk bermeditasi sebelum Ia pergi ke Bodh Gaya untuk realisasi akhir. Di dalam gua ini terlihat patung emas Sang Buddha dalam kondisi yang sangat kurus. Pada bagian bawah ptung terdapat banyak dupa dan lilin para peziarah. Teman saya yang beragama Budha sempat melakukan sembahyang disini.
Kondisi jalan menuju Gua Dungeshwari (GALUH PRATIWI)

Tebing tinggi terjal (GALUH PRATIWI)

Bendera doa (GALUH PRATIWI)


Gua Dungeshwari(GALUH PRATIWI)

Salah satu kuil Buddha (GALUH PRATIWI)

Salah satu kuil Buddha (GALUH PRATIWI)

Selain Gua Dungeshwari, terdapat juga dua kuil kecil Budha lainnya yang juga untuk mengenang perjalanan spiritual Sang Buddha. Selain itu terdapat juga beberapa patung dewa-dewi Dungeshwari yang ditempatkan di dalam gua. Kami menghabiskan beberapa saat disini untuk memberikan penghormatan. Para peziarah datang silih berganti untuk melakukan sembahyang. Bau dupa dan bakaran lilin terlihat memenuhi mulut gua yang berukuran kecil tersebut. 

Selain kedua nama tersebut, Gua Dungeshwari juga populer disebut Sujata Sthan oleh orang-orang lokal. Ada cerita menarik di balik itu, dimana Sujata adalah perempuan penolong Sang Buddha. Ketika Sang Buddha sedang melakukan meditasi yang sungguh menyiksa dirinya, ia menjadi lemah dan kelaparan. Ketika ia beristirahat di bawah pohon banayan, seorang perempuan desa bernama Sujata menawarinya makanan. Buddha menerima persembahan tersebut dan memakannya. Persetujuan eksplisit Buddha tersebut menunjukkan Ia kebenaran Ilahi yakni penyiksaan diri yang berlebihan atau perendahan diri bukanlah jalan yang benar untuk memperoleh pencerahan. Buddha memperoleh pengetahuan baru dari peristiwa ini yakni mengikuti jalan tengah merupakan jalan untuk mencapai nirwarna. Sujata Sthan atau Kuil Dungeshwari didirikan sebagai simbol untuk mengenang peristiwa ini.

Kami menghabiskan waktu beberapa saat disini. Mengenang perjalanan Sang Buddha, menikmati pemandangan savana dan perbukitan yang menghampar luas kehijauan serta kedamaian hati yang nyata. Setelah menunggu teman saya beribadah dan memotret-motret, kami segera kembali ke bawah. Sebelum pulang tak lupa kami mampir memberikan biskuit yang sudah kami beli ke monyet-monyet. Saya rasa Gua Dungeshwari merupakan salah satu tempat yang paling penting bagi Sang Buddha karena disinilah Ia mendapatkan pengetahuan baru yang menuntunnya untuk memperoleh pencerahan di Bodh Gaya nanti.
Pemandangan Bodh Gaya dari Bukit Dungeswari (GALUH PRATIWI)

Bukit Dungeshwari (GALUH PRATIWI)