Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work

2.26.2019

Pengalaman Cabut Gigi Geraham Bawah di Drg. Erwin Djuarsa SURABAYA

Ilustrasi Drg
Sumber : DISINI

Jadi ceritanya udah 6 bulan terakhir ini aku menahan sakit gigi yang sering datang dan pergi (lebih sering datangnya). Tentu saja ini dipicu oleh gigi geraham bawah ane yang emang udah rusak parah. Kerusakannya itu bisa ane gambarkan, mahkota giginya tinggal separo pinggir-pinggirnya saja, bagian tengah giginya udah hilang sehingga berwarna coklat tua. Sisa mahkota yang tinggal pinggir-pinggirnya saja itu kalau tiba-tiba patah, sering meninggalkan bekas tajam yang siap membuat lidahku sariawan kapan aja. Dan tambahan yang membuat parah, sering muncul benjolan dan akhirnya pecah menjadi nanah pada bagian gusi luar, serta 1 bulan terakhir mulai tumbuh polip pulpa di bagian tengah gigi yang sudah terkikis habis.

Kalau ABSES ini udah menyebabkan kumat sakit gigi? Naudzubilaah.... Sakitttnya! Lebih sakit dari sakit gigi biasa karena kambuhnya biasanya tengah malam (kasusku), menimbulkan nyut-nyutan yang terpusat pada satu gigi itu, dimana nyut-nyutannya konstan, tajam, dengan sela waktu setiap nyut-nyutannya itu 1 detik. Rasanya kepala? Nggak usah ditanya. Udah kayak mau pecah. Sampe leher dan pundak ikutan pegel.

DIAGNOSISku sendiri dari baca-baca artikel kedokteran: GIGIku ini mengalami INFEKSI. Dimana terdapat ABSES gigi pada bagian akar gigi. Aku baca lebih jauh, ABSES yang menyebabkan infeksi ini kalau tidak ditangani bisa menyebabkan hal yang lebih serius (INFEKSI bisa menyebar sampai ke otak atau bagian vital yang lain).

Gigi yang bolong sejak aku SMP. hmm seandainya saat itu aku sadar untuk merawat, mungkin akibatnya gak akan sefatal ini. Mungkin masih bisa aku pertahanin. Ya teman, kesadaran emang selalu datang terlambat. Tapi aku berniat mau mencoba hidup sehat, yang kumulai dari mencabut gigi sialan yang selalu membuatku kesakitan ini.

Seperti kebanyakan orang lain, ane takuuut. Takut banget kalau harus duduk di kursi pesakitan gigi itu dan bayangin gigiku dicabut pakai tang. Padahal ane sebelumnya udah 4x juga bolak balik dokter gigi untuk tambal gigi, tapi untuk cabut, ini pengalaman pertama. Saking takutnya, aku sampai baca semua pengalaman orang di blog maupun melihat video-video pencabutan gigi di Youtube. Hampir 80% mengatakan tidak sakit, sementara sisanya 20 % mengatakan sakit sedikit/sakit. Semakin survei, ane malah semakin takut dan enggan ke dokter gigi hehehe..

Tapi ane mempunyai teman yang terus memotivasi ane untuk ke Drg secepatnya. Dia ngomong, "Kamu mau gigimu busuk kayak gitu? Mau infeksinya nyebar kemana-mana? Ayo dah aku anterin ke Drg hari ini."

Tapi ane selaluuuu aja ada alesan buat nunda ke Drg. Mulai dari sakit perut, belum siap, banyak kerjaan, dan lain-lain. Dan akibatnya ane harus menahan sakit gigi yang selalu datang semau dia, kadang nggak tau aturan. Dan ini membuat ane seriiiing banget liatin gigi ane lewat kaca. Ane lihat kira-kira ini sakit nggak kalau dicabut, dan setiap melihat gigi ane lewat kaca, ane pasti udah merasa siap dan fix mau cabut ini gigi. Tapi kalau udah hari H siap mau ke Drg, nyaliku ciut lagi. Begitu berkali-kali sampai akhirnya aku benar-benar ke Drg pada Hari Kamis, tanggal 13 September 2018 (setelah dipaksa berat oleh temanku wkwkwk). Aku datang ke Drg. Erwin Djuarsa yang alamat prakteknya berada di Jalan Tidar.

Kamis, 13 September 2018
Waktu ane datang udah ada 2 pasien yang menunggu dengan muka cemas. Sepertinya mereka juga sama seperti ane, ketakutan wkwkwk. Melihat adanya 'temen sakit gigi' yang lain, ane jadi lebih berani dan percaya diri.

"Ckreek" pintu praktek dibuka. "DEG DEG DEG" jantung ane langsung berdebar, satu pasien yang datang lebih dahulu masuk, namun hanya 10 menit langsung keluar bawa resep, sepertinya dia masih belum boleh dirawat giginya, mungkin masih bengkak/infeksi. Pasien kedua yang bersamaku gantian masuk ke ruang praktek.

"Kita pulang udah ee, aku takut." rengekku ke temenku.

" Ah, udah. Diem aja, gak sakit kok. Tenang. Gak Sakitt", (kebetulan teman ane emang udah pernah 2x dicabut giginya.

"Ckreeekk", pintu ruang praktek dibuka, pasien sebelum ane udah dipersilahkan keluar. DEG DEG DEG...mati ane...Ini artinya giliran ane. Ane segera masuk dan menjelaskan keluhan ane ke Drg. Irwan dengan jantung yang gedar-gedor.

"Mari kita periksa dulu," kata Dr. Irwan dengan lembut. Mati ane, inilah saatnya pembantaian gigi ane.

Ane didudukkan di kursi pesakitan gigi dan mulai dikorek-korek gigi yang sakit.

"Wah udah parah ini. Dicabut aja ya." kata Drg Irwan dengan tenang. "Woeee dok, ini gigikuuu. enak banget ngomong dicabut, emang gak sakit apa???" deruku dalam hati wkwk.

"Eh maaf, masih bengkak ya ini di gusi samping. Masih keluar nanahnya juga. Belum bisa dicabut ini. Saya kasih antibiotik dulu ya, hari senin atau selasa balik lagi baru dicabut." Tambah Drg. Irwan lagi.

HUAAAAHHHH ada perasaan lega di hati ane. Wkwkwk. Ada perasaan menggerutu juga, padahal udah siap mental dan udah berani datang ke Drg gini, malah ditunda cabutnya. yaudahlah, akhirnya ane membayar 100ribu dan menukarkan resep ke apotek, waktu itu ane dikasih Antiobiotik Amoxan 500 gr dan Eflagen untuk menyebuhkan infeksi ane dulu. Fiuuuh, ane pulang dengan tenang, tapi masih membawa 'gigi yang penuh sampah' ini di mulut ane wkwkwk

Akhirnya hari Rabu (mundur satu hari dari yang diperintahkan dokter), ane pun akhirnya dateng ke dokter gigi siap-siap untuk dieksekusi. Itupun atas desakan teman ane yang menjamin bahwa CABUT GIGI ITU NGGAK SAKIT! Sebelumnya mental ane ciut lagi hehe.

Akhirnya jam 4 kurang aku sudah duduk dengan begitu manisnya di ruang tunggu Drg. Erwin Djuarsa. Di plakat depan ruang praktek Drg. Tertulis pelayanan akan dibuka jam 4. Dan tampaknya aku pasien kedua. Pasien pertama adalah seorang nenek-nenek yang sepertinya ingin pasang gigi palsu.

Akhirnya datang juga waktuku dieksekusi. Setelah memeriksa gigiku beberapa saat, Drg. Ivan Djuarsa (Anak Drg. Erwin Djuarsa yang sedang menggantikan ayahnya) mulai menyuntikkan obat bius ke sekeliling gigiku. Aku udah meringis siap nahan sakit, eeeh....ternyata gak sakit sama sekali hanya cekit-cekit doank sumpah hehe...Beberapa saat kemudian gigi dan sekeliling gusiku sudah panas dan mati rasa.

Setelah disuntik mulailah Drg Ivan mengeluarkan senjata pamungkas Drg yakni tang buat nyabut gigiku. Dengan segenap kekuatan gigiku dicungkil. Aku tidak merasakan sakit sama sekali hanya pas ditarik akar giginya itu kerasa banget boo....kayak separuh hidup ikut terangkat gitu wkwk lebay...

"Udah satu akar keluar ya.. kurang satu lagi..." Drg. Ivan ngomong dengan tenangnya..

'Weladalah...tak kira udah kecabut semua...' kataku dalam hati. 'Oke siap dok', batinku. Yang penting cabut semua dok sisa gigi-gigi yang sudah menyiksaku berbulan-bulan ini.

"Silahkan meludah dulu ya..habis ini gak boleh meludah lagi," kata Drg. Ivan dengan tegas.

Aku meludah dan melihat darah merah kental mengalir dari mulutku. Agak ngeri juga. Setelah berkumur Drg Ivan kembali menggeluti sisa akar gigiku.

Tang dan alat lainnya masuk lagi, dan delllll...akhirnya ketarik juga gigi satunya... Rasanya....oh tak bisa digambarkan....bahagia bangeeeeeettttt...Ya ampun...siksaaan ini akhirnya berakhir...

Setelahnya Drg. Ivan memberikan kapas lumayan tebal untuk membersihkan darah yg masih ada di mulutku.. Dan setelahnya menyuruhku menekan bekas cabutan dengan kain kasa yang lumayan tebal.

"Ditekan selama 2 jam ya..Jangan disentuh-sentuh pakai lidah.. Ini saya buatkan resep..."

"Iya dok...." Huaaaaa terharu banget hari paling bahagia di hidupku.....Aku membayar Rp 300.000 dan keluar dari tempat praktek dengan hati bangga. Kebetulan di dekatnya ada warkop. Beberapa orang memperhatikanku karena mulutku sedikit terbuka dan seperti menahan sesuatu.

"Hehehehe...bangga nih habis cabut gigi!" kataku dalam hari..

Akhirnya setelah itu aku segera pulang, membeli obat sesuai resep..

Pertanyaanya, 'sakit nggak setelah biusnya habis?'

ane bilang sih nggak sakit ya.. Tapi besoknya sd 3 hari ke depan ane masih merasakan sakit yg lumayan (tapi lebih sakit pas giginya masih ada)... Baru benar-benar sembuh total di H+5 pencabutan..

Jadi saranku buat teman2 yg giginya bolong dan mulai sakit, infeksi, dll, jangan takut cabut gigi ya! Kalahkan ketakutan kalian. Cabut gigi itu nggak sampai setengah jam, tapi rasa bahagianya, terharunya setelah itu bakal ngalahin ketakutan kalian..

1 comments: