Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work

1.04.2020

Solo, 5 Januari 2020: PAGI dan SECANGKIR TEH


PAGIKU. Beginilah pagiku hari ini, ditemani segelas teh, hembusan udara sepoi-sepoi dan pemikiran-pemikiran ringan akan hidupku.

Aku menyukai kesunyian dan suara-suara di pagi hari. Momen favoritku dalam 24 jam adalah momen sebelum dan sesaat matahari terbit serta momen malam hari menjelang dini hari. Sepi... Sunyi... Menenangkan batin dan pikiranku.

Ruangan tempatku duduk ini hanya taman kecil berukuran kira-kira 1.5m x 2.5 m di sebelah kamar depan rumah kakakku. Sebenarnya sedikit kurang nyaman karena terlalu sempit, namun inilah tempat dimana aku bisa merasakan sedikit privacy dan kedamaian ketika sendiri.

Nanti, ketika rumah baruku sudah fix milikku dan diserahkan kuncinya, aku pastikan akan membuat sebuah ruangan/tempat khusus untukku "me time". Ruangan itu akan kubuat senyaman mungkin. 

Pagi ini, sambil menunggu sesaat lagi aku akan berangkat kerja ke Ngawi. 

1.02.2020

2 Januari 2020 : PERJUANGAN BELI RUMAH, Hari ini bayar booking rumah

2 Januari 2020

Sudah hari kedua di tahun 2020, Colomadu - tempat tinggalku sekarang - masih dilanda hujan setiap hari dengan intensitas sedang sd besar. Sebelum hari ini, kegalauanku masih sama. Kapan aku bisa beli rumah? Tidak mungkin kan aku mau tinggal di rumah kakakku (tempatku ngetik sekarang) seterusnya? Meskipun ini adalah kakak kandungku, dan sekalipun tidak merasa keberatan aku tinggal di rumahnya, namun aku juga ingin mandiri. Aku ingin suatu saat bisa punya rumah sendiri. Menata rumahku seminimalis mungkin sesuai minat dan keinginanku. Ya.. aku memang menyukai gaya hidup minimalis.

Keinginan punya rumah ini sudah ada dari dulu, hanya aku tidak pernah mempunyai keberanian untuk sekedar cari info sekalipun. Meskipun aku sering dengar selentingan 'rumah subsidi', dengan harga Rp 90.000.000 sd Rp 130.000.000, namun aku masih ragu. Uang sebesar itu? hmmm... Padahal aku orang yang berprinsip sangat anti sama yang namanya utang. Jiwaku, jiwa yang mencintai kebebasan, tidak mau dibebani pemikiran harus membayar cicilan setiap bulan.

Hingga pada akhirnya sekitar bulan Oktober 2019, disaat aku merasa tabunganku sudah sedikit mencukupi, aku meminta orangtuaku untuk mencarikan rumah sederhana di sekitar Boyolali-Karanganyar. Awalnya aku minta dicarikan tanah, namun setelah berpikir ribet harus bangun dari 0, akhirnya aku meminta mereka mencari rumah subsidi saja.

Dari sekian perumahan subsidi yang dilihat, aku merasa cocok dengan bentuk rumah di Griya Sejahtera 1 di Randusari, Teras, Boyolali. Namanya tipe rumah subsidi, bentuknya sederhana dan berdempetan, dengan tipe 36 dengan dua kamar. Tapi dengan kepribadianku yang menyukai sesuatu yang minimalis, kurasa itu sudah lebih dari cukup. Lagipula aku tipe orang yang suka bepergian.

 Kenampakan rumah di Griya Sejahtera 1

Aku dan keluargaku segera menghubungi marketing Griya Sejahtera 1 dan mendapatkan penjelasan untuk persyaratan dengan metode pembayaran Kredit (KPR) ataupun CASH (cash keras atau cash bertahap). Dari penjelasan marketingnya, karena pekerjaanku konsultan tambang freelance, maka aku tidak bisa memenuhi persyaratan untuk KPR. Pilihanku hanya dua, cash keras atau cash bertahap 6 bulan. Perbedaan harga rumah sendiri kalau di KPR dengan di CASH adalah 50 juta hikz. Jadi subsidinya hilang kalau aku bayar pakai CASH, dimana itu satu-satunya pilihanku.

Setelah dihitung Mbak Anita - Marketingnya -, harga rumah dengan metode pembayaran CASH Bertahap 6 bulan (sesuai metode yang kupilih) sudah termasuk biaya kelebihan tanah di belakangnya, biaya balik nama, dan notaris adalah Rp 163.000.000. Hikz jadi mahal ya kalau CASH. Namun ini adalah kesempatan besarku, mumpung aku masih punya tabungan dan aku belum mempunyai sesuatu urgent yang harus kulakukan. Dengan penuh tantangan, rasa sesak mengeluarkan uang sebanyak itu, akhirnya aku memutuskan membeli rumah itu.

Karena aku rencana membayarnya secara CASH bertahap, kewajiban rumah subsidi seperti tidak boleh dikontrakkan, tidak boleh dijual serta harus ditinggali (tidak boleh kosong), otomatis gugur. Rumah itu sepenuhnya hak-ku, apakah mau kujual, kukontrakkan ataupun sementara kubiarkan kosong.

Bagiku yang jiwa petualang, 1 rumah dan 1 mobil KIA RIO sudah cukup. Rencana aku hanya akan membeli 1 barang lagi untuk touring, yakni motor Nmax. Aku tidak suka terlalu kebanyakan barang dan aku rasa itu sudah lebih dari cukup. Aku tinggal membuat tabungan masa tua ataupun asuransi. Sesudahnya, tinggal kerja dan traveling. Pikiranku sudah agak longgar karena aku tidak harus memikirkan lagi, "apakah aku mau tinggal di rumah kakakku seterusnya?".

2 Januari 2020, sekitar jam 15.00, aku melakukan pembayaran booking sebesar Rp 500.000 sembari mengumpulkan persyaratan pembelian seperti KTP, KK, Surat Lajang dan NPWP. Akan kumulai kusiapkan besok, dimana maksimal 2 minggu lagi aku sudah harus membayar DP. Dengan pembayaran DP itu, aku sudah diberi kunci rumah dan siap ditinggali.

Aku mengucap syukur yang sedalam-dalamnya pada Tuhan, aku diberi keberanian untuk melakukan hal besar ini. Menurutku ini hal besar, karena aku benar-benar mengumpulkan uang itu dari 0, semua hasil kerja kerasku sendiri mengerjakan dokumen-dokumen tambang. Aku akan mengupdate perkembangan pembelian rumah ini ketika aku sudah menyerahkan persyaratan dan memberikan DP. Thanks GOD.

Kwitansi pembayaran booking calon rumahku
 

12.31.2019

1 Januari 2020 : RESOLUSI 2020 - Mendapatkan Kebijaksanaan

1 Januari 2020.
Tidak terasa ya.. Hari ini waktu sudah memasuki tahun 2020. Kejadian demi kejadian, pengalaman demi pengalaman baik maupun buruk, datang dan pergi di hidupku. Hal senang, hal sedih, berputar bagai roda, dan aku tau akan terjadi kembali dan terus berulang. Ya.. itulah memang realita kehidupan yang setiap manusia harus terima. Ada saat-saat bahagia, saat sedih, saat kecewa, datang silih berganti. Kita tidak bisa menolak kesedihan, kekecewaan, kematian. Selama kita hidup, hal-hal tersebut akan selalu datang mendampingi kebahagiaan.

Resolusi. Setiap orang membicarakannya setiap pergantian tahun, tidak terkecuali 2020 ini. Kalau resolusiku pada awal tahun 2018 adalah:
"2018. Tahun yang baru. Semangat baru. Mimpi baru.
Berkelana ke tempat lebih jauh. Menyelami lebih banyak hal-hal indah di dunia ini."
Sedangkan tahun 2019 adalah:
"2019, I will not fear and worry DICTATE my life"
Maka resolusiku tahun 2020 adalah,
"Aku ingin menjadi lebih bijaksana."
Seperti resolusi yang sederhana, namun aku yakin tidak semudah pengucapannya. Karena kebijaksanaan adalah hal yang bisa dibilang langka ditemukan pada manusia era sekarang. Era dimana seakan-akan pengakuan dari orang lain adalah segalanya, dimana hal tersebut dilakukan dengan 'perlombaan status' di media sosia.

Ingin diakui lebih keren, lebih kaya, lebih adventurous, lebih berani, lebih mapan, dan sebagainya. Seringkali bahkan kita tidak sadar, status-status media sosial kita yang penuh dengan kata-kata motivasi dan 'pembanggaan diri yang terselubung', ataupun pamer yang nyata-nyata itu mungkin saja membuat orang lain yang membacanya DOWN. 
Orang lain yang mungkin merasa dirinya tidak keren, merasa dirinya introvert, tidak punya kawan, tidak punya uang, tidak adventorous karena mungkin tidak punya keberanian, tidak punya uang ataupun kawan, hidupnya masih berkekurangan, dan sebagainya. 
Bijaksana disini maksudku, aku ingin memahami kehidupan ini secara lebih dalam. Beberapa poin yang kutekankan antara lain:

a. Dalam hidup kita tidak bisa menghindari yang namanya kebahagiaan, kesedihan, kematian, kekecewaan, kesuksesan, dan sebagainya. Ketika kita mendapat situasi salah satu diatas, sikapilah dengan sewajarnya, jangan berbahagia berlebihan atau sedih berlebihan. Karena ingat, roda akan terus berputar dan harapan akan selalu ada. Dengan bijaksana kita akan lebih siap menghadapi segala hal dalam hidup kita tanpa merasa depresi berlebihan atau bahagia berlebihan yang cenderung mengarah ke kesombongan. Karena apa? Karena jika kesedihan itu datang, percaya saja kebahagiaan akan mengikutinya kelak. Demikian juga ketika kebahagiaan datang, suatu saat kesedihan akan mengikutinya pula.

b. Jangan menggantungkan kebahagiaan kepada kejadian/orang lain
Munculkanlah kebahagiaan dari dasar hati kita sendiri yang paling dalam, jangan tergantung kepada tempat, pada orang lain, pada kejadian. Karena situasi tempat, sifat orang lain, kejadian bisa berubah dan itu adalah sesuatu yang tidak bisa kita kontrol. Ketika tidak sesuai dengan harapan kita, kita akan menderita. Namun jika kebahagiaan kita munculkan dari dalam hati sendiri, tidak peduli tempat dimana, orang lain mau memperlakukan kita gimana, kejadian seperti apa, batin kita, mental kita akan senantiasa stabil. Akibatnya kita terbebas dari penderitaan.
Menggantungkan kebahagiaan ke orang lain/kejadian seperti halnya seperti kita di tempat gelap dan menyalakan lilin serta berharap lilin tersebut akan selamanya menyala, tanpa suatu saat habis meleleh dan mati. Kebijaksanaan disini dimaksudkan, kita harus dipenuhi kesadaran, ketika menyalakan lilin, suatu saat lilin tersebut akan habis meleleh dan mati. Dan saat itu terjadi, kita harus menerimanya. Jika kita tidak mau dengan konsekuensi tersebut, sejak awal hendaknya tidak menyalakan lilin, namun fokuslah untuk melihat dalam kegelapan. Niscaya ketika kita fokus, titik terang dalam kegelapan itu akan kita dapatkan pelan-pelan.

c. Mengurangi kemelekatan
Kemelakatan adalah salah satu sumber penderitaan yang paling besar, dan ini tidak akan pernah bisa lepas dari manusia, apalagi di era sekarang. Yang akan kulakukan adalah mengurangi kemelekatan. Tentu saja aku membutuhkan uang, tentu saja aku akan mencintai seseorang, tentu saja aku akan disergap rasa rindu, rasa marah, rasa sedih, namun aku tidak ingin semua perasaan tersebut menguasaiku. Bijaksana disini maksudnya, aku ingin mengurangi fokusku kepada sumber kemelekatan tersebut dan akan berfokus pada pengembangan diriku sendiri sesuai poin diatas.