Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work

8.24.2014

[1] Sawadee Thailand: Mimpi yang Terwujud

23 Januari 2012
Aku akan selalu mengingat tanggal ini. Tanggal dimana mimpiku akhirnya terwujud..Mimpiku untuk bisa menginjakkan kaki keluar negeri. Negara pertama itu adalah Thailand..This is my story in Thailand...

Setelah menunggu selama hampir 10 jam di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta karena antusiasme yang terlalu tinggi mau ke luar negeri pertama kali, akhirnya naik juga gue ke pesawat Air Asia yang bakal menerbangkan gue ke Bangkok. “Huaaahh”, hembusan nafas keras gue membarengi raungan pesawat yang mulai mengudara membelah langit malam Jakarta. Di dalam pesawat gue bersyukur, gue bersyukur berat akhirnya hari ini datang. Hari yang sudah gue tunggu selama hampir 6 bulan. Hari dimana gue akan menginjakkan kaki pertama kalinya di luar negeri, sesuatu yang sudah gue tunggu sejak SMP! 

Aku, menunggu dengan melasnya selama 10 jam di Bandara Soekarno Hatta. 

Penerbangan Jakarta-Bangkok berlangsung selama 3 jam, dan nggak ada yang melebihi rasa antusiasme gue saat pesawat Air Asia ini mulai merendahkan ketinggian membelah langit malam Bangkok. Saat itu gue bisa melihat kerlap-kerlip keemasan lampu Kota Bangkok. Sungguh senang rasanya hati ini, wajah tak hentinya menyunggingkan senyum. Pemandangannya begitu indah dan hati ini rasanya udah nggak sabar pengen cepat mendarat. Saat itu hanya rasa penasaran yang memenuhi benak gue, “Ya Tuhan, kayak apa ya luar negeri? Kayak apa ya Thailand?”

Pemandangan kerlap-kerlip malam Kota Bangkok dari pesawat. Sungguh indah.

Akhirnya pesawat pun mendarat dengan mulus di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok. Saat itu kami cukup bingung. ‘Trus, apa yang harus kami lakukan? What’s next?’ Hahaha. Maklum, wong ndeso yang baru pertama kali ke luar negeri.

Saat itu ada papan penunjuk transfer bus ke berbagai kota di Thailand, kontrol kesehatan, imigrasi, klaim bagasi, transfer dan visa on arrival. Karena setau kami kalau ke luar negeri itu harus bawa paspor dan nanti paspornya di cap, maka kami pun menuju ke imigrasi. Wealah, mau diapain di imigrasi nanti? Kami pasrah aja dan membawa paspor kosong kami dengan rasa sok tau.

Banyak petunjuk eh (papan dengan tulisan warna biru). Dua orang desa dari Solo ini pun bingung.

      Setelah menemukan imigrasi, kami pun segera mengantri untuk mendapatkan cap masuk Thailand di paspor. Disini gue membuat kesalahan besar, karena berdiri persis di belakang temen gue yang paspornya sedang di cap. Ternyata karena gue masih ndeso, gue nggak tau kalau garis merah itu batas buat antrian selanjutnya. Jadilah, ibu imigrasinya bilang “Please step backward behind the line” ke gue, Jiaaahhh......Malu banget sama antrian di belakang gue. Bwahahaha....Maaf ibuukk, namanya juga wong ndeso yang baru pertama kali ke luar negeri, hihihi. Ternyata di imigrasi itu biasa aja. Kita Cuma ditanyain ada keperluan apa di Thailand, menyocokkan wajah dengan foto di paspor, cap masuk, habis itu capcus deh kami diperbolehkan masuk dengan gratis selama 30 hari di Thailand.

Imigrasi Thailand. Awalnya gue berdiri tepat di belakang temen gue dimana hal itu jelas dilarang. Hahaha....

      Saat itu kami memang sudah booking penginapan bernama The Green House yang berlokasi di Khaosan Road. Konon, katanya Khaosan Road itu memang kawasan backpacker di Bangkok. Jadilah di sepanjang jalan kurang lebih 500 meter ini, kita bisa menemukan backpacker dari berbagai negara yang mengunjungi Thailand. Kami semakin tak sabar. Karena tidak ada transportasi umum yang murah dari bandara ke pusat kota, kami pun sharing taksi dengan seorang ibu dari Jakarta yang kami kenal di bandara Soekarno Hatta.

      Saat perjalanan dari bandara ke pusat kota Bangkok itulah aku bisa benar-benar melihat luar negeri secara langsung. Ternyata begini, seperti ini. Salah satu hal yang unik adalah, di sepanjang jalan kami banyak menjumpai foto-foto raksasa Raja Thailand. Dengan menganut sistem pemerintahan monarki konstutisional, mereka memang sangat mengagungkan dan menyayangi rajanya. Aku belajar budaya baru itu untuk pertama kalinya disini. Kalau di negaraku, kebanyakan foto calon legislatif di jalan hahaha.

     Setengah jam kemudian, sampailah kami di Khaosan Road dan inilah perjuangan sebenarnya karena kami harus mencari The Green House dari sekian banyak penginapan. Tapi hal itu justru membuat kami tambah bersemangat. Ternyata Khaosan Road meski sudah malam masih sangat ramai dan penuh dengan bule. Di sepanjang jalan banyak dijumpai penginapan, restoran, travel agen, 7eleven (supermarket internasional favorit backpacker), pedagang kaki lima, pedagang baju maupun layanan pijat. Pokoknya suasananya sangat hidup, santai dan backpacker abis. Aku benar-benar menikmati hari pertama di Bangkok ini.



Suasana malam Khaosan Road, kawasan backpacker paling terkenal di Bangkok. Cozy banget gan..

      Setelah memutari Khaosan Road sampai ujung, kami tak jua menemukan penginapan kami. Mulai curiga, jangan-jangan penginapan abal-abal aja nih, mana udah kami booking. Bertanya kepada beberapa orang, ternyata penginapan kami itu tidak di Khaosan Road, tapi di seberang jalan Khaosan. Suasananya tidak kalah cozy, tetap ramai dan musik berdentam-dentam dengan kerasnya dari beberapa cafe yang berjajar. Kami pun segera masuk untuk mandi dan merebahkan badan.

      Meskipun saat itu badan terasa sangat capek, tetapi suara musik yang berdentam-dentam di bawah seakan memanggil-manggil kami untuk bangkit dan jalan-jalan lagi. ‘We are in Thailand man, masak mau diisi dengan tidur aja?’ hehehe. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah 7eleven yang berada tidak jauh dari penginapan. 7eleven merupakan supermarket internasional yang berbasis di Amerika Serikat, dan barang-barang yang dijual memang kebanyakan kebutuhan backpacker gan. Harganya relatif lebih murah daripada beli di luar. Disini gue beli sisir dan air minum 1,5 L. Pergi jauh-jauh selalu lupa bawa sisir, klasik. Hahaha.

      Kami pun melanjutkan petualangan lagi, saat itu dengan begitu banyaknya pedagang makanan khas Thailand di pinggir jalan, aku jadi penasaran bagaimana rasanya. Hal ini sempat memicu perdebatan dengan travelmate, karena dia tidak mau coba, tapi gue paksa dan paksa, akhirnya mau juga. Saat itu kami pesan toum yam soup udang.

Toum Yam Soup Udang...

      Melihat kenampakan toum yam soup untuk pertama kalinya, gue yakin banget kalau makanan ini sepertinya enak. Tapi setelah dirasakan kuahnya, Astofiruloh aseeeem n sengak banget gan. Kami yang orang Jawa terbiasa dengan makanan manis malah akhirnya nggak doyan dan makan udangnya aja. Haha, dasar. Emang siapa suruh aneh-aneh? Akhirnya travelmate menyerah baik dengan udang maupun kuahnya, dan gue yang harus menghabiskan sendirian. Akhirnya karena nggak enak dengan travelmate, gue yang bayar toum yam soup-nya. Hahaha, kapok dah beli ini.
      Setelah selesai makan dan mengitari Khaosan Road lagi sejenak untuk foto-foto, kami pun memutuskan untuk kembali ke penginapan dan beristirahat. Bukan perkara mudah untuk tidur dengan begitu kerasnya suara musik di bawah. But we’re in vacation. That’s not problem, isn’t it? 

Perjalanan Membelah Indonesia Tengah-Timur Selama 1 Bulan: I Found My Self!

Rute penjelajahanku selama satu bulan. Mulai dari Surabaya-Makassar-Bulukumba-Tana Toraja-Gowa-Maros-Surabaya-Banyuwangi-Denpasar-Kupang-Soe-Atambua-Surabaya-Solo.

15 Mei 2014
di dalam Kereta Sritanjung jurusan Surabaya-Banyuwangi

Well, kenapa ya kalau liburan rasanya waktu berjalan cepat bangat? Yah, meskipun cukup singkat, liburan ke Sulawesi Selatan ini telah menyembuhkan kegalauanku yang sempat mencapai to the max sebelum berangkat. Hehe. Sekarang bisa dibilang, galauku sudah hilang. Aku hanya ingin bercerita, aku ingin mengekplore lagi setiap sudut Indonesia. Aku ingin menunjukkan pada orang-orang bahwa Indonesia adalah negara yang sangat indah, dan mereka sangat harus mengunjunginya. Aku banyak melihat sesuatu yang menyulutkan semangatku selama traveling.

Pada tanggal 15 Mei 2014, pukul 11.38 am, di Stasiun Gubeng Lama Surabaya adalah saat aku mengucapkan selamat tinggal (sementara) buat kedua travelmate-ku yang sudah bersama-sama selama 9 hari 8 malam terakhir ini. Mereka harus melanjutkan perjalanan ke Jogja, sementara aku ke Bali. Sedih? Sedih bangat, sekarang kerasa bangat bedanya. Aku di kereta Sritanjung jurusan Banyuwangi sendirian, yang biasanya ada teman cerita-cerita. Tapi aku percaya, kita tidak akan pernah sendiri. Kita akan selalu menemukan teman di sepanjang jalan.

Well, trip ke Sulawesi Selatan ini merupakan salah satu trip yang paling berkesan untukku. Hal itu karena aku kembali melihat budaya Indonesia yang begitu mengesankannya, terutama saat di Tana Toraja. Hal ini membuatku semakin mencintai negaraku dengan keindahan alam dan budayanya.
Over all, kami berhasil mengunjungi 4 kabupaten dan 1 kotamadya yakni:

1. Kabupaten Maros -->  Bantimurung, Gua Batu, Gua Mimpi, Kompleks Gua Purbakala Leang-Leang
2. Kabupaten Bulukumba --> Tanjung Bira, Pembuatan Kapal Pinisi, Pulau Liukang
3. Kota Makassar --> Pantai Losari; Makassar City Hall; Kuliner Mie Titi, Coto dan Pisang Epe; Otak-Otak Bu Elly;
4. Kabupaten Gowa-->  Air Terjun Parangloe
5. Kabupaten Tana Toraja-->  Batutumonga, Lokatonda, Kota Rantepao, Kete Kesu, Londa, Sulaya, Gambira

Capek? Sangat. Tapi tidak ada yang bisa menggantikan kepuasan ketika aku berhasil mengunjungi semua tempat itu. Tempat-tempat yang awalnya hanya sering kulihat di internet/TV, sangat senang ketika bisa melihat semuanya secara langsung.

Foto di Makassar Hall

Setelah sekian lama, akhirnya bisa mengunjungi Bantimurung kembali..

Air Terjun Parangloe, Kabupaten Gowa. Butuh sekitar 2 km trekking dari tempat parkir.

Keindahan Pantai Tanjung Bira Timur dengan latar belakang Kapal Pinisi

Akhirnya sampai juga di Tana Toraja :)

Cerita mengharukan?menyebalkan? Of course ada, inilah yang membuat perjalanan semakin berwarna bukan? Cerita mengharukan terjadi ketika kami sedang di Kabupaten Tana Toraja. Disana, kami ditampung oleh saudara teman kami yang adalah seorang dokter gigi. Baiknyaaa....masyaAllah....Beliau adalah salah satu dokter gigi paling terkenal di daerahnya, dan disaat pasiennya sedang menumpuk, beliau masih sempat menemui kami, mencarikan aku charger BB, mengantarkan kami ke pool bus naik mobil saat hujan deras, menyewakan kami motor dan meminjami kami 1 motor tril untuk keliling toraja, membelikan kami makan, bahkan berpesan kalau ada teman/saudara yang mau ke Toraja dipersilahkan menginap di rumahnya dan di saat akhir, malah mengucapkan terimakasih karena kami bersedia mampir di rumahnya selama di Tana Toraja. Aduh kebalik bapak, kami yang berterimakasih sekali.....

Selain Pak Dokter, kami banyak bertemu teman baik selama di Sulawesi. Saat perjalanan dari Makassar ke Bulukumba, kami bertemu pasangan Perancis-Perancis half Thai (Boni dan Surya) sehingga menambah teman baru. Kami banyak bercerita tentang budaya negara kami masing-masing, sehingga perjalanan menjadi terasa tidak lama. Selain itu, saat pulang dari Bulukumba ke Makassar, kami bertemu dengan 2 teman lagi asli Makassar (Kak Oliv dan Kak Doni). Mereka menyayangkan kenapa kami tidak ke Pulau Selayar dan Pulau Takabonerate, dan malah mentraktir kami kopi dan pop mie (gue) saat pulang, padahal baru kenal, terimakasih kakak. Hehehe.

Cerita menyebalkan terjadi ketika kami dipalak habis-habisan oleh supir kijang yang mengantarkan kami dari Kabupaten Bulukumba ke Kota Makassar. Tidak main-main, kami bertiga dimintai uang total 500.000 untuk membayar biaya transportasi kijang. Hal itu dikarenakan kijangnya tidak penuh, jadi kami harus membayar kekurangan 1 orang. Gimana nggak lemes...Padahal jarak Bulukumba-Makassar hanya sekitar 5 jam perjalanan. Tapi yasudah, biarlah itu menjadi salah satu pengalaman yang tidak boleh diulang.

Singkatnya, tanggal 15 Mei 2014, akhirnya berakhirlah petualangan kami menjelajah Sulawesi Selatan. Kami mengakhiri malam di Bandara Hassanudin dengan makan ikan kakap dan tidur klesotan di Mushola Bandara dengan membawa sejuta kenangan. Thanks Celebes!!
                                                                                                         ***

BALI
15-16 Mei 2014
Pukul 22 Waktu Indonesia Barat, akhirnya sampailah aku di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Ujung Timur Pulau Jawa. Apa yang aku lakukan? Pulau Bali akan menjadi tujuanku selanjutnya, bukan berlibur, hanya sebagai tempat transit sebelum melanjutkan petualangan berikutnya a.k.a menuju bandara. Aku akan terbang ke Kupang dari Denpasar sore ini.

Saat bertanya kepada seorang pedagang tentang ferry ke Pulau Bali, mas-nya menyarankan aku untuk ambil bus Banyuwangi-Denpasar yang banyak stand by di depan pelabuhan, jadi nyebrangnya bareng bus. Karena menurutnya sangat rawan bagi aku untuk jalan sendirian tengah malam. Tapi karena sudah pernah menyeberang Pulau Bali tengah malam, aku tetap bertekad akan naik ferry sendirian dan mengambil bus menuju Denpasar saat sudah sampai Pulau Bali. Ternyata semuanya berjalan lancar, penyeberangan hanya berlangsung selama 1 jam dan aku terdampar sendirian di Pulau Bali tengah malam. Apa yang harus aku lakukan? Jujur aku nggak tau.

Akhirnya setelah bertanya kepada beberapa petugas, aku dibilang bahwa bus ke Denpasar baru ada jam 2 pagi, padahal saat itu waktu baru menunjukkan jam 24.00 WITA. Yaudah gue pun berhenti di sebuah warung kopi kecil dan ngobrol-ngobrol dengan pemilik warung serta Bapak Polisi. Mereka sangat membantu dan menunjukkan bus mana yang harus kutumpangi untuk menuju Denpasar. Thank you!!! Jam 2 lebih sedikit, akhirnya aku sudah berada di Bus yang akan mengantarkanku ke Denpasar.

Perjalanan selama 3 jam dari Pelabuhan Gilimanuk ke Denpasar berlangsung cukup lancar dan cepat. Di dalam bus aku banyak merenung, aku merenungkan tentang kehidupan yang kujalani sekarang, betapa aku sangat menikmati proses ‘melarikan diri selama sebulan’ dari rumah ini. Hehehe. Rasa rindu ke rumah seakan tidak ada, hanya ada rasa rindu untuk keluarga. Bagaimanapun, aku ingin seperti inilah kehidupanku kelak. Mempunyai beberapa usaha wiraswasta bidang travel agency yang bisa kupercayakan pada seseorang sementara gue-nya terus mbolang. Haha. Gue bisa membayangkan di masa depan, traveling menjadi semacam gaya hidup dan mungkin suatu saat akan menjadi kebutuhan, pasar yang menarik.

Singkatnya, setelah naik ojek seharga 50rb dari Terminal Ubung, sampailah aku di Bandara Ngurah Rai, segera menuju mushola untuk sekedar merebahkan badan sampai menunggu waktu check in jam 12.30 nanti. Di mushola ini, aku berkenalan dengan seorang teman asal Jawa juga yang akan menuju Kupang. Dia bercerita tentang pekerjaannya di Pertamina sebagai penyalur minyak di NTT.  Jadi setelah sampai Kupang, dia akan berkeliling NTT (ke pulau-pulau kecil juga) menggunakan kapal pertamina untuk menyalurkan minyak. Aku sangat tertarik dengan pekerjaannya dan membayangkan betapa asyiknya bekerja seperti itu, bisa berkeliling NTT bahkan sampai pulau-pulau kecilnya dengan gratis. Menunggu selama berjam-jam menjadi tidak terasa karena aku sangat menikmati cerita teman baru ini, akhirnya pukul 13.00 aku segera menuju ruang keberangkatan untuk check in.

Oya cerita lucunya, pagi-pagi gue sempat dimarahi petugas kebersihan Bandara Ngurah Rai karena mandi di kamar mandi (yang harusnya kamar mandi kering). Eee, emang gue pikirin? Hehehe (edisi nakal dikit).


Suasana Bandara Ngurah Rai pagi hari...


KUPANG
16 MEI 2014
Entah kenapa, setiap kali kembali ke Pulau Timor aku merasakan seakan sedang pulang kampung setelah sekian lama. Hmm, mungkin perasaan yang terlalu lebe. Tapi aku benar-benar merasakan kenyamanan setiap kali menginjakkan kaki disini, ini adalah ketiga kalinya aku ke Timor.

Segera setelah turun di bandara, aku sudah dijemput oleh beberapa kawan dari Universitas PGRI yang salah satu kost-nya menjadi host selama gue di Kupang. Hmm, mereka baik-baik sekali. Pertanyaan utama, apa yang gue lakuin di Timor untuk ketiga kalinya? Hmm, simak saja.

Sebenarnya salah satu tujuan utama datang ke Timor adalah pulang kampung, dan tentulah jalan-jalan tidak kulewatkan jika kebetulan teman-teman host gue itu sedang kuliah. Ada temen gue yang tanya, “Lah, lo kan udah pernah ke Kupang? Ngapain kesana lagi?”. Gue jawab, “ Kupang itu nggak selebar daun kelor, masih banyak tempat wisata yang belum gue jabah.” Jadilah kegiatan gue selama 10 hari di Kupang lebih banyak dihabiskan dengan jalan kesana kemari.

Karena kebetulan bisa mendapat pinjaman motor selama 3 hari, gue pun langsung ajak 2 teman pgri motoran sampai ke Soe untuk mengunjungi Air Terjun Oehala. Jadi tebaklah, 1 motor boncengan 3 orang, gue yang boncengin, yang tengah nggak pakai helm, hahaha. Gue pikir jarak Kota Kupang-Soe itu seperti Jogja-Solo, eee ternyataa 110 km dan belok-belok ala pegunungan tak aes-aes dan sepi nyenyet (selama ini gue biasa naik bis dan tidur jadi nggak terasa terlalu lama pas lewat pegunungan). Dan dinginnyaa, awii (karena Benua Australia mulai masuk musim dingin). Sempat mau jatuh 1x pas membelok curam gara-gara sebelumnya gue ngetawain orang di depan gue yang mau jatoh, Astafirulloh.


Air Terjun Oehala, Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Selain Soe, selama disana gue juga kembali mengunjungi desa KKN gue tercinta, Desa Rinbesi Hat di Atambua. Disana nginap di rumah salah seorang adik, dan gue belajar banyak tentang cara menggembalakan sapi (ternyata gampang, tinggal pukul aja bokong sapi pakai ranting mereka udah tau jalan sendiri), memasak di lopo, makan nasi kacang maupun nasi jagung, mandi di sumur umum dengan pakaian lengkap masih dipakai, angkut-angkut air cukup jauh untuk air minum, mendengarkan percakapan Bahasa tetun terus menerus, digigit kutu busuk, wuaah pokoknya Atambua selalu jadi tempat yang nyaman dan menyenangkan buat gue. Always.

Disini gue jadi tau bagaimana anak-anak Atambua dididik sejak kecil, di Atambua semua anak seakan sudah disetting untuk membantu orangtuanya bahkan tanpa disuruh sekalipun. Misalkan membantu panen padi, membantu menyiram sayuran, memasak, angkut air. Itu semua dilakukan bahkan oleh anak-anak SD-pun, tanpa mengeluh atau apa. Bandingin disini yang anak-anak kecil aja udah sibuk main tablet/ipad, eaaaa -,- (iri belum bisa beli ipad ya? Hehehe, nggak pengen juga).

Over all, selain Soe dan Atambua , aku menghabiskan waktu di Timor dengan jalan-jalan keliling Kota Kupang. Mulai dari menggeje sore-sore dengan main ke Pura Oebanantha. Soalnya unik khan, di Kupang yang mayoritas Nasrani ada Pura, jadi gue penasaran. Pas lihat orang berdoa di dalam Pura, gue lihat mereka pada ga pakai sandal, yaudah gue pikir masuk di Pura ga boleh pakai sandal, yaudah sandal gue cangking. Eh waktu mereka selsai berdoa, mereka pada nanyain kenapa aku nggak pakai sandal. Hahaha, daripada malu gue jawab aja deh kaki lagi sakit. Gue ditanyain asalnya darimana, agamanya apa, dll. Ternyata Pura ini welcome untuk semua agama, aku menghabiskan beberapa saat disini untuk merenung religi dan melihat sunset,kebetulan memang pura-nya di pinggir laut!


Gerbang masuk Pura Oebananta

Sore yang syahdu kuhabiskan di pura...

Gue selalu merasa orang-orang disini sangat baik dan suka membantu, seperti beberapa kali aku dibantu dicarikan dan diberhentikan bemo saat tanya ‘bemo apa yang harus dipakai ke tempat tujuan’; gue sempat digratiskan naik bemo (padahal bemo-nya nggak lewat jalur gue, gue malah dianterin dan supirnya nggak mau dibayar hikz hikz); gue sempat mau diantarkan ke Gua Monyet oleh supir Bemo lampu 1 dan katanya gak bayar, tapi gue nolak karena nggak enak dan itu bukan jalurnya; gue sempat diantarkan pakai mobil oleh seorang yang gue tanyain ‘ dimana letak Mall Flobamora’, katanya kasihan karena gue dari Jogja dan sendirian; gue ketemu dengan Kak Inda (teman jalan-jalan dari Kupang) yang ngobrol seru dan malah traktir gue (makasi kakak). Hehehe, Terimakasih semuanya. Itu semua yang bikin gue cinta mati sama Timor, bukan kemodernan maupun kekayaan yang gue cari, tapi keramahan dan kebersahajaan orang-orangnya.


Bemo (diskotik berjalan) Kota Kupang yang berjasa mengantarkan ane keliling kota.. ajeb-ajeb!

Over all, tempat di Kupang yang gue kunjungi selama perjalanan ini adalah Taman Doa Oebelo, Pantai Manikin, Cafe Forjes, Pantai Tedis, Pantai Ketapang Satu, Pantai Pasir Panjang, Mall Flobamora, Goa Monyet-Pelabuhan Tenau, Pura Oebanantha, Pasar Oeba, dll uokeh.


Kejar sunset di Pantai Pasir Panjang, Kota Kupang

Salah satu sudut spot foto Taman Doa Oebelo di Kabupaten Kupang

Menikmati kesendirian di Pantai Manikin, Kota Kupang

Bersantai di seberang jalan Gua Monyet di dekat Pelabuhan Tenau..

Panas-panasan di Pantai Ketapang Satu, salah satu pantai paling terkenal di Kota Kupang..

Pada 29 Mei 2014, pukul 15.35 gue harus kembali menelan pil pahit karena harus pulang dan meninggalkan Pulau Timor. Saat pesawat Lion Air  tujuan Kupang-Surabaya sedikit demi sedikit mulai mengudara, hati ini terasa sangat hancur dan hanya bisa melihat Pulau Timor yang semakin lama semakin mengecil dan menghilang. See you next time, Timor!
   ***

30 Mei 2014
02.00 am
Pukul 02.00 pagi, tanggal 30 Mei 2014, aku harus menerima kenyataan bahwa proses ‘kabur dari rumah’ selama satu bulan itu akhirnya berakhir sudah. Aku sudah berada di kamarku lagi, mengetik jurnal traveling ini, sambil pikiranku masih berkelana membayangkan semuanya. Semua pengalaman yang kini hanya terekam di memori dan hanya bisa dituangkan dalam tulisan maupun gambar. I’ll do it again for sure!