Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work

8.24.2014

[1] Sawadee Thailand: Mimpi yang Terwujud

23 Januari 2012
Aku akan selalu mengingat tanggal ini. Tanggal dimana mimpiku akhirnya terwujud..Mimpiku untuk bisa menginjakkan kaki keluar negeri. Negara pertama itu adalah Thailand..This is my story in Thailand...

Setelah menunggu selama hampir 10 jam di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta karena antusiasme yang terlalu tinggi mau ke luar negeri pertama kali, akhirnya naik juga gue ke pesawat Air Asia yang bakal menerbangkan gue ke Bangkok. “Huaaahh”, hembusan nafas keras gue membarengi raungan pesawat yang mulai mengudara membelah langit malam Jakarta. Di dalam pesawat gue bersyukur, gue bersyukur berat akhirnya hari ini datang. Hari yang sudah gue tunggu selama hampir 6 bulan. Hari dimana gue akan menginjakkan kaki pertama kalinya di luar negeri, sesuatu yang sudah gue tunggu sejak SMP! 

Aku, menunggu dengan melasnya selama 10 jam di Bandara Soekarno Hatta. 

Penerbangan Jakarta-Bangkok berlangsung selama 3 jam, dan nggak ada yang melebihi rasa antusiasme gue saat pesawat Air Asia ini mulai merendahkan ketinggian membelah langit malam Bangkok. Saat itu gue bisa melihat kerlap-kerlip keemasan lampu Kota Bangkok. Sungguh senang rasanya hati ini, wajah tak hentinya menyunggingkan senyum. Pemandangannya begitu indah dan hati ini rasanya udah nggak sabar pengen cepat mendarat. Saat itu hanya rasa penasaran yang memenuhi benak gue, “Ya Tuhan, kayak apa ya luar negeri? Kayak apa ya Thailand?”

Pemandangan kerlap-kerlip malam Kota Bangkok dari pesawat. Sungguh indah.

Akhirnya pesawat pun mendarat dengan mulus di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok. Saat itu kami cukup bingung. ‘Trus, apa yang harus kami lakukan? What’s next?’ Hahaha. Maklum, wong ndeso yang baru pertama kali ke luar negeri.

Saat itu ada papan penunjuk transfer bus ke berbagai kota di Thailand, kontrol kesehatan, imigrasi, klaim bagasi, transfer dan visa on arrival. Karena setau kami kalau ke luar negeri itu harus bawa paspor dan nanti paspornya di cap, maka kami pun menuju ke imigrasi. Wealah, mau diapain di imigrasi nanti? Kami pasrah aja dan membawa paspor kosong kami dengan rasa sok tau.

Banyak petunjuk eh (papan dengan tulisan warna biru). Dua orang desa dari Solo ini pun bingung.

      Setelah menemukan imigrasi, kami pun segera mengantri untuk mendapatkan cap masuk Thailand di paspor. Disini gue membuat kesalahan besar, karena berdiri persis di belakang temen gue yang paspornya sedang di cap. Ternyata karena gue masih ndeso, gue nggak tau kalau garis merah itu batas buat antrian selanjutnya. Jadilah, ibu imigrasinya bilang “Please step backward behind the line” ke gue, Jiaaahhh......Malu banget sama antrian di belakang gue. Bwahahaha....Maaf ibuukk, namanya juga wong ndeso yang baru pertama kali ke luar negeri, hihihi. Ternyata di imigrasi itu biasa aja. Kita Cuma ditanyain ada keperluan apa di Thailand, menyocokkan wajah dengan foto di paspor, cap masuk, habis itu capcus deh kami diperbolehkan masuk dengan gratis selama 30 hari di Thailand.

Imigrasi Thailand. Awalnya gue berdiri tepat di belakang temen gue dimana hal itu jelas dilarang. Hahaha....

      Saat itu kami memang sudah booking penginapan bernama The Green House yang berlokasi di Khaosan Road. Konon, katanya Khaosan Road itu memang kawasan backpacker di Bangkok. Jadilah di sepanjang jalan kurang lebih 500 meter ini, kita bisa menemukan backpacker dari berbagai negara yang mengunjungi Thailand. Kami semakin tak sabar. Karena tidak ada transportasi umum yang murah dari bandara ke pusat kota, kami pun sharing taksi dengan seorang ibu dari Jakarta yang kami kenal di bandara Soekarno Hatta.

      Saat perjalanan dari bandara ke pusat kota Bangkok itulah aku bisa benar-benar melihat luar negeri secara langsung. Ternyata begini, seperti ini. Salah satu hal yang unik adalah, di sepanjang jalan kami banyak menjumpai foto-foto raksasa Raja Thailand. Dengan menganut sistem pemerintahan monarki konstutisional, mereka memang sangat mengagungkan dan menyayangi rajanya. Aku belajar budaya baru itu untuk pertama kalinya disini. Kalau di negaraku, kebanyakan foto calon legislatif di jalan hahaha.

     Setengah jam kemudian, sampailah kami di Khaosan Road dan inilah perjuangan sebenarnya karena kami harus mencari The Green House dari sekian banyak penginapan. Tapi hal itu justru membuat kami tambah bersemangat. Ternyata Khaosan Road meski sudah malam masih sangat ramai dan penuh dengan bule. Di sepanjang jalan banyak dijumpai penginapan, restoran, travel agen, 7eleven (supermarket internasional favorit backpacker), pedagang kaki lima, pedagang baju maupun layanan pijat. Pokoknya suasananya sangat hidup, santai dan backpacker abis. Aku benar-benar menikmati hari pertama di Bangkok ini.



Suasana malam Khaosan Road, kawasan backpacker paling terkenal di Bangkok. Cozy banget gan..

      Setelah memutari Khaosan Road sampai ujung, kami tak jua menemukan penginapan kami. Mulai curiga, jangan-jangan penginapan abal-abal aja nih, mana udah kami booking. Bertanya kepada beberapa orang, ternyata penginapan kami itu tidak di Khaosan Road, tapi di seberang jalan Khaosan. Suasananya tidak kalah cozy, tetap ramai dan musik berdentam-dentam dengan kerasnya dari beberapa cafe yang berjajar. Kami pun segera masuk untuk mandi dan merebahkan badan.

      Meskipun saat itu badan terasa sangat capek, tetapi suara musik yang berdentam-dentam di bawah seakan memanggil-manggil kami untuk bangkit dan jalan-jalan lagi. ‘We are in Thailand man, masak mau diisi dengan tidur aja?’ hehehe. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah 7eleven yang berada tidak jauh dari penginapan. 7eleven merupakan supermarket internasional yang berbasis di Amerika Serikat, dan barang-barang yang dijual memang kebanyakan kebutuhan backpacker gan. Harganya relatif lebih murah daripada beli di luar. Disini gue beli sisir dan air minum 1,5 L. Pergi jauh-jauh selalu lupa bawa sisir, klasik. Hahaha.

      Kami pun melanjutkan petualangan lagi, saat itu dengan begitu banyaknya pedagang makanan khas Thailand di pinggir jalan, aku jadi penasaran bagaimana rasanya. Hal ini sempat memicu perdebatan dengan travelmate, karena dia tidak mau coba, tapi gue paksa dan paksa, akhirnya mau juga. Saat itu kami pesan toum yam soup udang.

Toum Yam Soup Udang...

      Melihat kenampakan toum yam soup untuk pertama kalinya, gue yakin banget kalau makanan ini sepertinya enak. Tapi setelah dirasakan kuahnya, Astofiruloh aseeeem n sengak banget gan. Kami yang orang Jawa terbiasa dengan makanan manis malah akhirnya nggak doyan dan makan udangnya aja. Haha, dasar. Emang siapa suruh aneh-aneh? Akhirnya travelmate menyerah baik dengan udang maupun kuahnya, dan gue yang harus menghabiskan sendirian. Akhirnya karena nggak enak dengan travelmate, gue yang bayar toum yam soup-nya. Hahaha, kapok dah beli ini.
      Setelah selesai makan dan mengitari Khaosan Road lagi sejenak untuk foto-foto, kami pun memutuskan untuk kembali ke penginapan dan beristirahat. Bukan perkara mudah untuk tidur dengan begitu kerasnya suara musik di bawah. But we’re in vacation. That’s not problem, isn’t it? 

0 comments:

Poskan Komentar