Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work

5.31.2020

Surabaya, 1 Juni 2020: Kenapa Menuliskan Pengalaman Sehari-Hari di Blog?

Beberapa hari terakhir ini aku lagi semangat banget nulis. Kebanyakan topik yang kutulis adalah cerita keseharianku, terutama pada hari-hari dimana aku mengalami beberapa hal kecil, sedang ataupun besar yang tidak ingin kulupakan kenangannya sedikitpun di masa depan. Menulis bagiku seperti menorehkan sebuah memori menjadi sesuatu yang kekal. Sesuatu yang bisa kubuka dan kubaca lagi setiap saat tanpa aku kehilangan emosi, gairah, suasana, saat cerita itu ditulis.
Trust me, berapa tahunpun memori itu sudah berlalu, kalau kita membacanya lagi lewat tulisan/diary, kita akan didera nostalgia dengan perasaan yang menyenangkan, atau bisa juga menyedihkan. Bahkan yang mengejutkan, memori beberapa tahun silam itu kita bisa mengingatnya kembali dengan cukup detail kalau dibantu sebuah tulisan. Sebenarnya hanya lewat foto pun bisa, tapi tidak akan sedetail kalau lewat tulisan. Dimana kita bisa mencurahkan segala apa yang kita rasakan, apa yang kita inginkan, secara lebih detail.

Perasaan seperti,

'Kok aku dulu gak tau malu banget ya.'

'Kok aku dulu bisa seberani ini ya.'

'Kok aku dulu norak banget ya.'

'Kok aku dulu tegar/kuat banget ya. Kenapa sekarang justru lemah?'

'Kok aku dulu lemah banget ya. Lihat aku sekarang hohoho, aku sudah kuat secara mental kan?'

Itulah bagian dari proses pendewasaan. Setiap orang pasti mengalaminya.

Suatu hari, ketika bangun tidur, tiba-tiba aku kepikiran.

'Hidup ini, kok kerasa cepet banget ya. Baru aja perasaan masih malam, dalam sekejap sudah pagi, sekejap sudah siang, bentar lagi sudah malam lagi. Esoknya tanggal sudah berganti. Beberapa minggu lagi bulan sudah berganti. Tahun kemudian berganti. Umur semakin bertambah, kita semakin tua.'

'Apa memori yang sudah kubuat dalam hidup ini? Apa saja yang sudah kulakukan sehingga aku berada di titik ini? Apakah aku akan melupakan keseharianku begitu saja? Aku hanya melakukan rutinitas ini itu, sembari aku bertambah tua tiap hari, tanpa seminggu lagi aku menyadari, apa yang kulakukan seminggu yang lalu? Apa yang kulakukan tepatnya sebulan yang lalu? Setahun yang lalu?'

'Bagaimana perasaanku saat itu? Bagaimana cuaca saat itu? Apakah aku bahagia, apakah aku lagi sedih? Galau? Bagaimana proses pendewasaan yang terjadi dalam diriku? Bagaimana aku menghadapi masalah demi masalah yang datang, sembari tetap berada di jalur yang lurus (tidak dihempaskan ombak?).'

'Aku rasa aku perlu menuangkan semua itu dalam bentuk tulisan.'

Aku tidak ingin merasa hidup ini berlalu begitu saja, tanpa sesuatu menarik yang ingin kuingat dalam keseharian. Aku tidak ingin 1 tahun ke depan aku bertanya-tanya,

"Apa yang tepatnya kulakukan setahun belakangan? Bagaimana bisa aku di posisi ini (entah posisi baik/buruk)? Hal positif apa yang kulakukan setahun belakangan, demikian juga hal negatif apa yang kulakukan?"

"Adakah kemunduran secara mental kepadaku? Apakah aku sekarang lebih kuat / lemah secara mental?"

Aku yakin itu semua akan terjawab jika aku membaca semua tulisan keseharian yang aku buat.

Lalu ada pertanyaan yang muncul di benakku.

"Bagaimana dengan pengalaman-pengalaman menyedihkan atau yang terlalu privacy, apakah kamu juga akan menuliskannya?"

Berpikir sejenak, aku tidak akan menuliskan keduanya secara gamblang. Bagaimanapun setiap orang pastilah mempunyai privacy yang tidak ingin aku share secara publik disini.

Untuk pengalaman menyedihkan, Aku akan menggambarkan sesimpel mungkin. Tidak akan menyebut situasi atau nama orang. Jika dirasa perlu menuliskan, aku akan mengggunakan kata-kata kiasan, perumpamaan, dan sebagainya.

Aturanku hanya 1: Aku tidak mau menjelek-jelekkan orang (baik bernama/tidak) lewat tulisanku. Aku tidak ingin ada emosi/kejengkelan yang muncul lagi saat aku menuliskan/membacanya lagi. 

Meskipun peristiwa menyedihkan itu akan senantiasa hadir dalam hidup, mendampingi peristiwa membahagiakan, tapi aku tidak ingin menyimpan rasa jengkel/dendam ke orang/sesuatu terlalu lama, sampai terabadikan dalam bentuk tulisan. Apakah fungsi melakukan hal itu? Tidak ada. Hanya memperburuk suasana hati, melemahkan mental, dan ujung-ujungnya membuat hidup tidak bahagia/kualitas kesehatan berkurang.

Semoga aku bisa konsisten ya!

Selamat hari Pancasila. 

Surabaya, 28 Mei 2020: Dapat Ikan Gabus Gratis gara-gara Luapan Hujan! dan Sop Saudara Asli Makassar!

Hari ini, mulai dari tengah hari, Kota Surabaya diguyur hujan yang cukup deras. Curah hujan yang begitu tinggi ini lagi-lagi membuatku kuatir dengan Chiko dan Poppy. Aku yang saat ini bisa rebahan dengan santai di ruangan bersih, kering, dan berAC, sedangkan mereka kemungkinan kehujanan dan kedinginan di Taman Danau Angsa sana. Segera aku mengajak temanku untuk turun dan mengecek Chiko serta Poppy.

Seperti dugaanku, area bangunan  berpilar tempat kami meletakkan 'rumah kardus' Chiko dan Poppy terlihat basah kuyup. Demikian juga dengan area di sekitarnya terlihat basah kuyup. Sepertinya hujan deras ini membentuk sudut miring, sehingga bahkan area yang ada tutup bangunannya pun ikut basah semua. Gambar di bawah ini, area yang kuarsir kuning basah semua. Lokasi kardus Chikk dan Poppy ada di lingkaran biru.
Seperti kami duga, Poppy sedang berlindung di bawah kardus dengan kondisi kardus yang sudah basah kuyup di bagian atasnya a.k.a rumah kardus itu seakan sudah akan runtuh. Namun Poppy terlihat kering dan baik-baik saja di dalam kardus. Sementara Chiko, dia tidak ada di dalam kardus. Dimanakah kamu Chiko? Kami berdua sudah yakin pasti, Chiko pasti sedang bersembunyi sambil basah kuyup!

"Chiko.. Chiko.. Chiko....," Aku memanggil Chiko dengan nada khasku. Chiko sudah sangat hafal dengan nada panggilanku ini sehingga aku yakin dia akan segera keluar.

"Meong.. meong..," Chiko keluar dari sudut pilar nomor 1 dengan kondisi badan basah kuyup dan gemetar kedinginan.

"Haduhhh Chikoo!" Reflek temen ane langsung mengambil dan memeluknya untuk memberi kehangatan. Kehilangan Chiki cukup karena 'gejala flu' cukup membuat kami trauma, sehingga jujur kami takut banget kalau sampai Chiko kena flu juga.

Setelah dirasa bulu basah Chiko sudah mengering, ane dan temen langsung gerak cepat membuatkan rumah kardus sendiri untuk Chiko. Karena Poppy kurang suka berdua sama Chiko di 1 rumah kardus, sehingga Chiko sering diusir. Selain itu juga kami mengganti kardus bagian atas rumah Poppy yang sudah basah kuyup dan siap ambruk.

Hujan-hujan sudah tidak kami pedulikan. Kami jalan mondar mandir dari Pilar Taman Danau Angsa, ke mobil, ke minimarket untuk beli kardus bekas, bermodalkan payung kecil. Sementara hujan masih mengguyur Kota Surabaya dengan begitu derasnya.

Setelah memberi makan mereka, main-main sejenak, dan memastikan Chiko dan Poppy sudah kering dan berlindung di rumah kardus masing-masing, akhirnya kami memutuskaan kembali ke rumah. Oiya di jalan sebelum masuk ke rumah, kami sempat mendapatkan pengalaman unik.

Karena saat itu hujan deras, ada saluran air di samping pintu masuk rumah yang membludak. Karena si ujung saluran itu sengaja disumbat sama petugas keamanan, maka banyak ikan-ikan kecil yang terseret, kemudian melompat ke daratan didepannya. Hehe. Jadi lucu banget. Ikan pada berlompatan gitu dari air ke darat. Kesempatan ini tidak kami sia-siakan untuk ikut hunting ikan, yah pikiran pertama kali kami tentunya ikan ini untuk Chiko dan Poppy. Ikan yang paling banyak kujumpai adalah ikan gabus.

Kebetulan saat itu ada juga beberapa bapak-bapak penghuni kompleks rumah juga yang lagi berburu ikan-ikan lompat tersebut.

"Iya mbak. Itu ikan gabus. Banyak kandungan vitaminnya lo!"

Kami segera berjaga di dekat saluran air itu dan langsung mengambili setiap ikan gabus yang loncat ke daratan. Kebanyakan ukurannya relatif kecil sih, tapi ini memuaskan dan menyenangkan banget 😁😁😁. Akhirnya kami mendapatkan ikan gabus setengah gelas Air Mineral Nestle 1.5 liter dan membawanya ke rumah untuk diolah dan direbus. Kami menyudahi petualangan hunting ikan gabus ini karena hujan + angin masih mendera dengan negitu derasnya. Masih musim corona kan, takut aja badan malah ngedrop dan jadi sakit hanya karea hunting ikan gabus. 😁😁
Ikan gabus ini cukup merepotkan, karena suka lompat-lompat dan bau amisnya minta ampun. Setelah dibersihkan, akhirnya kami hanya mengambil 3 ikan yang ukurannya paling besar aja untuk direbus, sementara sisanya yang kecil-kecil kami niatkan release di Danau Angsa.

"Wah hujan-hujan gini kayaknya enaknya makan sesuatu yang berkuah dan panas ni," temen ane buka suara saat dia sudah selesai merebus ikan gabus.

"Hmmm apaan ya. Oya, sop konro??" Balesku cukup bersemangat. Karena perut ini ternyata juga sudah mulai meronta.

"Wahh boleh tuh!"

Akhirnya setelah mandi, kami berangkat ke warung Sop Konro yang cukup terkenal di Kota Surabaya, dan tidak terlalu jauh juga.

"Bawa sekalian ya ikannya. Nanti kita release di kolam." Kata ane.

Namun di perjalanan menuju kolam, ternyata salah satu Cleaning Service mengetahui niat kami untuk release dan malah meminta ikan kami aja😁😁.

Yahhh... Gak jadi release deh. Kasian ikan-ikan ini sebenarnya masih terlalu kecil untuk dikonsumsi.

Akhirnya kami memberikan ikan gabus tersebut dan meluncur ke Warung Sop Konro Losari Klampis Jaya. Disana ternyata Sop Konronya habis, jane akhirnya kami beli seporsi sop saudara dan seporsi bakso bakar.
 Rasanya mak nyusssss enak banget! Harganya juga terjangkau. Lain kali aku akan coba konro bakar disini

Surabaya, 18 Desember 2019: Pagi-Siang Galau, Malam Berangkat ke Lombok

Hari ini aku sedang galau, galauu banget dan sedih akan sesuatu. Sesuatu yang saat itu begitu menekanku, meski itu hanya karena kelebaianku sendiri. Meskipun maaf tidak akan kuceritakan secara gamblang disini. Intinya aku seperti butuh "self recovery", melihat lagi arti hidupku ini secara lebih utuh. Mencari lagi apa tujuanku lahir dan hidup di dunia ini, serta bagaimana secara bijaksana aku menjalani hidup, tanpa terlalu terfokus ke 1 hal yang sebenarnya tidak terlalu penting-penting amat. Namun hanya aku saja yang melebih-lebihkan.

Aku menelepon beberapa teman, namun sama saja. Tidak ada yang bisa benar-benar mengusir kegalauanku, dan membuatku bersemangat lagi. Salah satunya malah membuatku semakin down, aku memutuskan, aku gak mau berdiam di Surabaya, aku harus pergi ke suatu tempat. Mungkin di tempat itulah, aku bisa mendapatkan pencerahan. Aku bisa memandang hidup dengan bijaksana, tanpa terfokus pada hal-hal yang kurang penting.

Sesaat setelah berpikir, aku memutuskan aku akan pergi ke Bali.

Salah satu temanku mengusulkan, pulang saja dulu ke Solo. Tapi aku benar-benar tidak bisa pulang dalam kondisi galau begini. Aku tidak mau pulang dan  menunjukkan wajah yang suram. Aku ingin pulang ke Solo dengan bahagia.

Aku segera searching tiket ke Denpasar, Bali dan mendapati untuk keberangkatan malam itu, harganya lumayan melambung, 900ribuan lebih perorang. Sedangkan kalau berangkat besok, "hanya" 500ribuan. Aku merasakan dorongan besar untuk berangkat malam itu juga. Aku seperti tidak ingin di Surabaya malam ini. 

Kebetulan saat itu aku punya "credit shell" Airasia sebanyak 350ribuan dari hasil pengembalian pajak penerbanganku ke Tokyo September 2019 yang tidak jadi kulaksanakan. Namun karena malam ini kursi penerbangan Airasia ke Denpasar sudah habis (yang 900ribuan tadi pakai pesawat lain, L*on Air), aku terpaksa mengalihkan penerbangan menggunakan Airasia ke Lombok dan terbang malam itu juga. Untuk penerbangan ke Denpasar, Bali, akan kulakukan keesokan harinya dari Lombok. Jadi penerbangan yang kuambil:

1. Surabaya-Lombok berangkat malam ini jam 21.05
2. Lombok-Denpasar berangkat esok pagi jam 06.20
Sesaat setelahnya aku segera membooking dan membayarnya. Karena ini masih jam 4 sore, aku masih mempunyai waktu beberapa jam untuk bersiap-siap.

Malamnya sekitar jam 19.30 aku segera pesen grab untuk ke bandara. Dan sialnya jalanan menuju bandara malam itu agak ramai sehingga sekitar jam 20.15 aku baru mendekati area bandara. Mana babang grabnya sempat salah menuju Terminal 1, dan keuhkeuh kalau ini turun disitu. Padahal sejak awal aku udah kasih tau kalau Airasia terbang dari Terminal 2.

Saat perjalanan dari Terminal 1 ke Terminal 2 pun babang grabnya malah gak hafal jalan dan seenaknya belok sana sini.

"Aduhh pak.. kekejar nggak ya ini pesawatnya," aku mulai mengeluh karena orientasi arah babang grab ini  untuk area bandara bisa dibilang "agak buruk". Masa salah terus dan gak tau arah. Dalam hati aku sudah pasrah kalau tiketku bakal hangus. Karena setauku, calon penumpang wajib sudah ada di gate 30 menit sebelum keberangkatan. Aku sendiri tidak berani sama sekali lihat jam, aku tidak mau berhenti berharap sebelum aku benar-benar berlari sampai ke gate. 

Setelah si babang grab bertanya kepada beberapa orang, akhirnya sampai juga di Terminal 2 dan ane langsung lari melesat ke area keberangkatan. Sebelumnya aku sudah web check in jadi langsung bisa ke arah pemeriksaan tas dan gate keberangkatan. 

Hhh setelah sampai gate keberangkatan... Ternyata pesawatnya delay. Kesempatan gabut beberapa menit ini segera kumanfaatkan untuk beli mie instan dan air karena aku belum sempat makan malam dari tadi karena tergesa-gesa. Yakali kan.. aku baru beli tiket 5 jam sebelum berangkat.
Akhirnya waktu boarding pun datang dan penerbangan Surabaya-Lombok malam itu berjalan dengan lancar, bahkan hampir gak berasa. Karena penerbangan malam, sepanjang penerbangan selama kurang lebih 40 menit itu, lampu pesawat dimatikan terus sehingga menambah suasana syahdu. Ada momen dimana aku hampir tertidur karena kelelahan, tapu sebelum sempat memejamkan mata aku sudah dibangunkan oleh suara pramugari yang mengatakan bahwa sesaat lagi kita akan mendarat di Bandara Internasional Lombok atau lebih tepatnya Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid.

'Buset.. cepet amat deh. Perasaan tadi baru naik,' ujarku dalam hati.

Turun dari pesawat jujur ane bingung. Jam sudah menunjukkan pukul 11 WITA, sedangkan penerbanganku ke Denpasar kan baru besok jam 06.20 WITA. Pikiran pertamaku saat itu adalah, menemukan tempat dimana aku bisa tidur klesotan di bandara dengan calon penumpang lainnya sembari menunggu pagi. Tapi semakin aku berjalan ke gate kedatangan, tidak terlihat satupun calon penumpang yang tidur klesotan, ataupun tidur di kursi. 😁😁 Gagal total dah ini rencana. Bandara Internasional ZAM /Lombok pun tidak terlalu besar. Saat itu hanya terdapat beberapa penumpang yang terlihat duduk-duduk, namun tidak banyak.

Seperti dugaanku, sesaat setelah aku berjalan di area kedatangan, berbagai supir penyedia jasa transport ke hotel tujuan langsung mengerumuniku. Mereka membujukku dengan segala cara.

"Mbak, ayo mau kemana? Saya antar. Tarif grab saja."

Aku mendengar kata-kata itu hampir dari setiap supir yang menawariku jasa tumpangan. Lah, aku sendiri bingung. Booking hotel aja belum kok udah mau dianter. Emang dianter kemana? Kataku dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.

"Bentar pak. Aku masih mau duduk-duduk dulu." Kataku sambil setengah mengusir mereka dengan halus.

Sebenarnya sih, aku pengen memutuskan dulu. Malam itu mau ngapain hehe. Gabut banget. Mau nginep kok sayang duitnya, soalnya hotel yang deket bandara agak mahal, itupun cuma beberapa jam aja karena jam 04.00 pagi besok aku udah harus ke bandara lagi untuk terbang ke Denpasar. Kalau nggak nginep hotel malam ini kok kayaknya gabut banget. Cuma duduk-duduk doank, mana kursinya gak ada sandaran punggungnya atau pegangan tangannya, murni cuma duduk doang.  Lagipula, malam itu aku juga kerasa agak capek dan butuh tidur.

Akhirnya aku iseng-iseng cek traveloka dan setelah mempertimbangkan sesaat, akhirnya aku booking hotel Dmax Convention yang berjarak hanya 2,7 kilo dari Bandara. Tarifnya gak usah ditanya, sebenarnya cukup bikin backpacker kayak aku bete, 300ribuan hanya untuk 6 jam tidur. Itu seperti halnya membayar 50ribuan untuk setiap jamnya. Wkwk. Jujur ane itu backpacker yang ngirit banget soalnya gan. Tapi yaudahlah.. berhubung ini trip pembunuh galau kan, jadi sekut aja. Dienak-enakin aja dah ini badan. Aku mengamini apa yang kulakukan dan segera mencari driver untuk mengantarkanku ke Dmax Convention Hotel.

Setelah bertransaksi sejenak, akhirnya aku milih salah satu driver yang daritadi tidak menyerah menawariku tumpangan yang katanya "dengan tarif grab". 

"Jadi berapa pak ke Dmax Convention Hotel?"

"40ribu aja mbak."

Buset dah. Aku yang sebelumnya sudah searching diam-diam, dan udah cek aplikasi grab pun langsung protes.

"Tadi katanya pakai tarif grab. Dmax ini jaraknya cuma 2.7 kilo loh pak. Cuman 5 menit aja naik mobil. Ini di grab cuma 20ribu."

"30ribu ya."

"25ribu pak. Fix. Dekat kok. Bapak juga sudah janji pakai tarif grab." Kataku masih dengan pertahanan diriku.

"Okelah.. mari." Kata bapak tersebut.

Ternyata driver yang akan mengantarku ke Dmax bukanlah bapak itu, tapi orang lain. Dengan kata lain bapak itu hanyalah calo yang mencari-cari penumpang di gate kedatangan.

'huh.. pantasan seenaknya aja pasang tarif 40ribu. Dikira aku gak cek ricek apa jarak hotelnya,' ujarku dalam hati.

Selanjutnya perjalanan dengan mobil benar-benar berjalan 5 menit, aku telah tiba di Dmax Convention Hotel. Kamarku berada di lantai atas, dan inilah pemandangannya.
Pertama kali masuk, aku agak takut sebenarnya. Hehe. Meskipun design interiornya cukup modern, tapi kamar ini terlihat suram karena penerangan yang agak kurang. Prosedurku ketika agak ketakutan masuk kamar hotel pasti sama. Aku langsung menyalakan semua lampu, dan menyalakan TV yang menyiarkan saluran olahraga/berita. Selain itu, jika hotel itu ada jendelanya biasanya akan aku buka sesaat, supaya suara dari luar bisa masuk. Tapi eh tapi, inikan Lombok yang gak serame Surabaya. Pas aku buka jendela malah pemandangannya padang luas yang gelap. Autogemeter, aku langsung tutup lagi itu jendela πŸ˜…πŸ˜πŸ˜.

Selain itu sebenarnya aku juga masih agak takut dengan gempa-gempa yang terjadi di Lombok beberapa bulan silam. Yah kan aku di lantai atas ya, masih gak ngerti gitu gimana prosedur keselamatan kalau tiba-tiba sampai terjadi gempa. Mana tangga darurat, mana jalur evakuasi, aku gak ngerti sama sekali.

Tapi aku berusaha meyakinkan diriku, bahwa 'everything is gonna be okay'. Aku mencoba main HP untuk mencari ngantuk, tapi tidak bisa. Lalu aku menyadari kalau aku lapar. 

Aku segera membuka-buka pamflet di meja untuk melihat daftar menu makanan restoran mereka. Sesaat setelahnya aku menelepon resepsionis untuk memesan nasi goreng dan teh panas. Buset dah masih sakit ati aja, habisnya 100ribu lebih hehehe, mana nunggunya lama banget sampai hampir setengah dua pagi baru dateng. Tapi ya lagi-lagi aku berpikir, ini trip untuk membunuh galau. Jadi tidak usah lah terlalu sayang-sayang duit, asal masih logis ya tapii 😁😁😁. Namun jiwa ngiritku tetap ada. Aku sengaja memakan nasi goreng itu hanya separo, separonya untuk nanti sarapan sebelum OTW ke bandara lagi pagi ini hihi.

Selesai makan aku kembali mencoba tidur, namun tidurku tidak benar-benar nyenyak. Aku seperti antara sadar dan gak sadar apakah tidur benaran atau nggak. Aku hanya guling sana, guling sini. Sampai akhirnya jam menunjukkan pukul 04.00 WITA dan aku sadar aku harus segera siap-siap untuk balik ke bandara lagi untuk terbang ke Bali.

Rasanya kok badan ini malessss banget gitu. Maksudnya, aku belum bener-bener tidur pulas dari tadi. Jadi rasanya sebeeel aja udah harus bangun dan beraktivitas lagi. Mana udah bayar mahal, malah gak bisa tidur hahaha. UUBD = Ujung-Ujungnya Balik ke Duit. Alhasil, di tengah waktu yang terus berjalan, aku masih males-malesaaaan aja, tiduran di kasur. Padahal aku udah ada janji sama hotel ini, mau ada "wake up call" jam 04.30, karena aku udah janji mau ikut transport gratis mereka jam 05.00 WITA. Alhasil pas ditelfon "wake up call", aku hanya ngeiyain aja, trus males-malesan lagi. Belum mandi, sisa nasi gorengku belum kumakan, belum siap-siap hihi. Padahal tidur juga enggak. Cuma tiduran doang gitu kayak manusia gak berguna😁😁.

Baru jam 04.45 aku akhirnya mengangkat tubuhku dari kasur dan aku langsung mandi air hangat. Nggak bisa menikmati lama karena telfon kamarku kembali berdering, mengingatkan aku untuk segera turun naik mobil transportasi gratis (dari hotel) untuk menuju bandara.

"Iya pak. Ini saya siap-siap dikit lagi turun," kataku. 

Padahal aku masih baru selesai mandi, baru mau masuk-masukin barang. Sisa nasi gorengku juga belum kulahap habis.

Jam sudah menunjukkan pukul 05.05. Karena aku merasa sudah gak ada waktu lagi, aku hanya makan nasi gorengku sesendok dan langsung berlari ke bawah. Ahhhh sial! Sayang nasi gorengku kanπŸ˜πŸ˜….

"Maaf mbak, mobil sebelumnya sudah berangkat tepat jam 05.00 tadi. Soalnya harus tepat waktu mbak," kata resepsionis saat aku akhirnya check out dan menanyakan mobil transport gratisnya ke bandara.

"Yahhh.. maaf pak. Terus bagaimana ya?" Balasku dengan sedikit tidak bersemangat.

"Nanti tunggu mobilnya balik mbak. Akan diantar lagi."

"Waduh, gpp pak? Maaf banget merepotkan pak. Maaf banget saya telat pak," kataku dengan bersemangat lagi.

"Gpp mbak. Tunggu aja di kursi sana ya."

Yeaa.. gak perlu ngeluarin duit buat grab deh. Hehe. Dasar si malas dan si pelit.

10 menit kemudian mobil hotel datang lagi dan setelah meminta maaf kepada bapak driver karena aku telat, aku sampai di Bandara ZAM/Lombok lagi untuk persiapan terbang ke Bali. Perkiraanku, penerbangan ini bakalan berlangsung sangat singkat karena kedua kota ini sebenarnya jaraknya dekaaat banget. 

Bali, semoga daya magismu menyembuhkan kegalauanku ya! Kataku dengan tersenyum sembari menatap semburat sinar matahari pagi yang mulai merekah.

Surabaya, 29 Mei 2020 : Beli dan Masak Kepiting Asam Pedas. Kepala Pusiiing!

Sudah 25 hari yang lalu sejak aku terakhir makan kepiting. Meskipun kepiting merupakan salah satu makan favoritku di dunia ini, demi menjaga tingkat kolestrolku, aku berusaha memakannya secara tidak berlebihan. Jika di hari H sudah makan kepiting, aku berusaha baru H+7 sd H+14 makan kepiting lagi. Karena berdasar data yang pernah kubaca, kepiting merupakan seafood yang memiliki kandungan kolestrol tinggi selain udang.

4 Mei 2020 adalah terakhir kalinya aku makan kepiting dan kerang. Aku pesan di daerah Mulyosari, karena harganya agak miring. 2 kepiting asam manis ukuran sedang (cenderung agak kecil) dibanderol Rp 38.000, sementara kerang hanya Rp 15.000.
Sejak punya hobi mancing pada awal Mei lalu, aku memang terinspirasi gabung ke "grup jual beli hasil tambak/laut area Surabaya/Sidoarjo" untuk berburu hasil laut/tambak di Surabaya dengan harga miring. Aku sering banget hunting di grup ini dan menandai nomor serta nama-nama penjual yang kebetulan lokasi jualnya di Surabaya Timur - dekat rumahku - dan harganya cukup terjangkau. Malam sebelumnya, aku melakukan pemesanan kepiting bakau hidup kepada Mbak Izzah dan berjanji akan mengambilnya besok. Kepiting yang kupesan sebanyak 1 kg, dengan isi kepiting 8-9 ekor, seharga Rp 65.000. Murah kan?

25 Mei 2020
Keesokan harinya kami mengambil kepiting di Mbak Izzah sesuai lokasi COD dan setelahnya segera memasaknya sebagian menjadi kepiting asam pedas. Kami merebusnya 3x dahulu untuk menghilangkan baunya dan lumpur-lumpur yang menempel.
Dan setelah dimasak bumbu asam pedas.. aku puasssss banget! Aku sampai makan 4 kepiting saking lahapnya. Hehe. Setelah 25 hari tidak makan kepiting. Tidak lupa, 1 kepiting rebus kuambil dagingnya untuk kuberikan camilan kepada Chiko dan Poppy. Chiko terlihat makan daging kepiting dengan sangat lahaaap.
Sorenya kami main sama Chiko dan Poppy di Taman Danau Angsa. Seneng banget rasanya melihat mereka berdua semakin akur dan sering bercanda bersama.

Malamnya, seperti bisa diduga, kepala puyeeeeng.. yah well, mungkin karena pola makanku yang akhir-akhir ini kolestrol semua ya. H-2 sebelum hari ini makan udang laut, H-1 makan sop saudara Makassar (daging sapi) dan hari ini makan kepiting 4 ekor. Puyeeeeng rek. Besok harus makan sayur dulu!

Surabaya, 21 Mei 2020: Bawa Chiki Chiko ke Dokter Hewan

Hari ini keadaan Chiki semakin parah. Sifatnya menjadi semakin pemurung, dan tidak suka didekati manusia. Candaan-candaan Chiko pun tidak digubrisnya sama sekali. Dari yang awalnya suka duduk pakai 2 kaki belakang, kini sudah sering duduk pakai 4 kaki. Seperti sudah tidak mampu menahan berat tubuhnya. Kami sampai mempunyai sebutan baru untuk Chiki, "Chiki Sendu."

Sore ini, didera perasaan yang semakin sedih atas keadaan Chiki, di tengah mendungnya Kota Surabaya, kami nekat membawa Chiki ke dokter hewan/rumah sakit hewan/puskeswan. Aku searching beberapa tempat dan mendapatkan rekomendasi di google map tentang RS Hewan yang bagus dan tidak terlalu mahal di Area Jalan Ahmad Yani, yakni Rumah Sakit Hewan Disnak Provinsi Jawa Timur. Cukup jauh dari Pakuwon - tempatku tinggal - yakni 11 km - tapi yasudah kita jalan saja demi kesehatan Chiki.
Kami sempat mampir ke ATM BRI untuk ambil uang dulu baru meluncur ke RS Hewan Disnak itu, yang ternyata tempatnya berada di dalam area Dinas Peternakan Provinsi Jatim. Tapi betapa kecewanya kami saat diberitahu satpam bahwa karena hari itu tanggal merah, maka RS Hewan Disnak itu libur. Kami sendiri sama sekali tidak tau/ingat bahwa hari itu hari libur. Chiki dan Chiko terlihat tertidur dengan pulas di kursi bagian belakang mobil.

Kami segera mencari Dokter Hewan terdekat lainnya dari situ via goggle map dan mendapatkan 1 klinik lagi berjarak 6 kiloan, yakni UPTD Klinik Hewan yang ada di Jalan Ikan Dorang. Si Kia Rio segera kugas lagi menembus jalanan Kota Surabaya yang mulai didera hujan cukup deras.
Sampai di Jalan Ikan Dorang yang dimaksud goole map, betapa kecewanya kami sewaktu kami tidak menemukan Klinik Hewan tersebut. Tidak ada papan petunjuk lokasi klinik, nomor rumah, dan sebagainya yang bisa kami jadikan petunjuk, sementara hujan semakin deras mengguyur Kota Surabaya. Setelah berhenti sejenak untuk memperhatikan papan nomor setiap rumah, dan tidak menemukan nomor rumah yang kami cari, akhirnya ane menyerah dan mencari Drh lainnya yang ada di dekat situ. Kami menemukan praktek Drh yang menurut google map saat ini buka yakni Praktek Dokter Hewan Alpryna Siagian yang lokasinya dekat Jembatan Merah, Surabaya. Si Kia Rio segera kulajukan kesana.
Sampai di lokasi yang ditunjukkan google map, Alhamdulillah Praktek Drh. Alpryna Siagian buka. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya temen ane, Chiki dan Chiko dipersilahkan masuk. Ane menunggu di mobil, karena sesuai protokol anti Covid 19 yang diterapkan oleh Dr. Alpryna, hanya 1 orang pengantar hewan yang diperkenankan masuk.

Sesuai penuturan teman ane, Chiki dan Chiko segera diperiksa secara cekatan oleh Dr. Alpryna. Pertama mereka ditimbang berat badannya dulu, kemudian diperiksa suhu tubuhnya, diperiksa telinganya, diperiksa bagian anusnya (dimasuki suatu alat). Kemudian juga diambil sampel bulunya sedikit untuk dilihat di bawah mikroskop. Selain itu juga diperiksa detak jantungnya menggunakan stetoskop.

Saat itu keluhan yang dialami Chiki adalah : badan kurus dan lemas, tidak ada nafsu makan, setiap kami masukkan cairan lewat dot maka cairan itu sebagian akan keluar lagi lewat hidung. Selain itu juga matanya radang dan sering mencret. 

Sementara keluhan Chiko: mata sebelah kanannya meradang. Jadi pembuluh di kelopak matanya itu kayak membengkak kemerahan gitu, dan sebagian matanya tertutup oleh selaput.

Menurut penuturan Dr. Alpryna, untuk Chiko, gejala-gejala tersebut dipastikan dengan serangkaian pemeriksaan, didiagnosa menderita cacingan. Sehingga pengobatan tercepat selanjutnya yang dilakukan Drh adalah melakukan penyuntikan obat cacing 3x ke bagian punggung.

Sementara untuk Chiki, Drh menduga ada kebocoran saluran nafas sehingga perlu dirujuk ke RS Hewan yang peralatannya lebih lengkap untuk dirontgen. Jadi saat itu Chiki belum mendapatkan pengobatan apa-apa, karena perlu dibuktikan dulu via rontgen. Obat yang terlalu keras malah ditakutkan bisa membuat kondisi Chiki semakin buruk. Chiki dianjurkan untuk ditaruh di kandang, dan diberi bolam untuk penghangat. Sementara untuk Chiko, dianjurkan untuk bekas suntikan jangan terkena air sampai 2 minggu ke depan, serta diberi Combantrin Sirup anak 2 minggu sekali dengan dosis 0.2 ml saat kondisi sehat.

Gambar di bawah ini adalah hasil pemeriksaan mereka:

Surat rujukan Chiki untuk pemeriksaan lanjutan ke Cat and Day Clinic.
Chiki dan Chiko juga sempat diberi beberapa obat yakni obat berwarna kuning (kata temen ane itu antibiotik) dan vitamin. 
Di bawah ini adalah aturan dosis obat dan biaya pemeriksaan serta obatnya:
Kami pulang ke rumah dengan kondisi cukup lega. Semoga kamu membaik ya Chiki... Kami akan berusaha sebisa mungkin.

Nb: sebelum ke Drh kami sudah sempat mendiagnosa Chiki terkena flu karena dia sering bersin-bersin dan hidungnya meler. Selain itu ane baca di internet, pengaruh flu kucing yang lain adalah ke radang mata. Dimana disaat itu Chiki juga menderita radang mata. Alhasil kamu membeli obat FluCat secara online di Tokped.

Surabaya, 9 Mei 2020: Mancing di Kolam Tambak Kenjeran, dapat apa?

Masih tentang mancing. Setelah dapat pengalaman bahwa mancing di laut itu susaaaah bingit karena adanya arus, akhirnya hari ini kami memutuskan mancing lagi tapi di kolam pancing. Ya.. di kolam yang udah jelas ada ikannya, dimana kita harus bayar ikan tersebut kalau dapat. Setelah browsing sejenak, akhirnya ane memutuskan menuju ke Kolam Pancing Alami yang ada di dekat Merr Kalijudan, tepatnya Jalan Ir. Soekarno. Alasan aku memilih tempat ini adalah, selain jaraknya tidak terlalu jauh dari kediaman ane, juga sistem bayarnya yang hanya bayar ketika dapat ikan aja (yang dihitung per kg berdasar jenis ikan). Jadi selama gak dapat ikan ya gak bayar. Masuk area kolam pancingnya pun gak bayar, hanya bayar parkir aja Rp 5000.
Sampai disana, ternyata ada beberapa perempuan juga yang terlihat sedang memancing sehingga menambah kepercayaan diri ane. Kami segera mencari spot yang teduh di pinggir kolam tambak dan menyiapkan umpan, yakni pelet ikan darat yang kami padatkan dengan sedikit air. Kami sempat dibantu bapak-bapak pemancing di sebelah untuk mencampur pelet dengan air.
Setelahnya kail yang sudah dipasangi pelet kami masukkan dalam kolam dan menunggu..... Menunggu.... Dan menunggu... Sementara beberapa pemancing yang di depan kami beberapa kali sudah mendapatkan strike, yang membuat kami iri setengah mati. Soalnya kail kami sepiii, disentuh ikan pun tidak haha.
Bosan menunggu, ane sempet beli es teh, dan meneguk beberapa kali. Membasahi tenggorokan kering yang daritadi teriak-teriak. 2 kail kami masih sama, tak disentuh sama sekali.

"Apa kita pulang sudah?" Tanya ane ke temen ane yang kelihatan sudah ngantuk dan bosan. 

"Iya udha kita pulang aja." Jawab temen ane. "Ngantuk banget ane."

Haha jadi ya begitulah, 2 pemancing abal-abal ini pulang tanpa mendapatkan 1 ekor ikan pun. Total durasi di kolam aja hanya 1.5 jam sd 2 jam. Beda jauh sama senior-senior pemancing yang udah dari pagi disitu makanya bisa dapat banyak ikan.

Dasar pemancing abal-abal! 😁

Habis ini hobi memancing ane mukai terkikis hilang, digantikan episode adopsi dan memelihara kucing. 😁😁

5.30.2020

Surabaya, 7 Mei 2020: Mancing di Selat Madura!

Setelah kemarin malam ditegur satpam kawasan Pakuwon karena mancing di Danau Angsa, pagi ini kita memutuskan untuk melanjutkan kegiatan mancing tapi di Laut. Target awal kita adalah mancing di bawah Jembatan Suramadu sisi Surabaya. Pagi ini, setelah lagi-lagi nggak tidur, kemudian sarapan selera pedas dan aqua dingin, kami meluncur ditemani sengatan matahari pagi Surabaya dan ancaman Covid 19 yang masih merajalela.  

Sewaktu di jalan, ane mengusulkan ke temen untuk melihat area di dalam Pantai Kenjeran Baru dulu, siapa tau bisa masuk gratis dan mancing tenang disana. Eh ternyata pas sampai tempatnya, untuk masuk area Pantai Kenjeran Baru, tetap bayar htm Rp 25.000 seperti biasanya. Males juga ya belum apa-apa dah keluar duit. Akhirnya kami memutuskan terus ke utara, mencari spot mancing di Pantai Kenjeran Lama. Rencana pertama yang mancing di bawah Jembatan Suramadu sisi Surabaya malah jadi option terakhir kami. Karena yah jujur ane masih belum PD aja disana, takutnya isinya bapak-bapak doank haha.

Menyusuri tepi Pantai Kenjeran Lama, akhirnya kami berhenti di Taman Suroboyo. Setelah memastikan ke penduduk setempat, kami mendapatkan kepastian bisa mancing di pinggir situ tapi tunggu airnya pasang dulu sejaman lagi. Yah.. padahal semangat udah membara banget. Dan sebenarnya di jalan menuju sini tadi kami udah sempat melihat beberapa pemuda yang sudah mulai mancing di pinggir pantai. Tapi kita ikutin aja nasehat penduduk setempat yang kebanyakan berprofesi nelayan itu. Tentunya mereka lebih paham kan. Gak enak juga kan, udah beberapa bapak-bapak kasi tahu tapi kita tetep ngeyel.

Waktu 1 jam itu kami manfaatkan untuk memotong-motong umpan (udang mati) di dalam Taman Suroboyo. Setelahnya bermain sama kucing-kucing liar disitu. Selama menunggu itu penduduk setempat terus mempengaruhi ane untuk sewa kapal aja supaya bisa mancing di tengah laut dengan harga sewa Rp 200.000 sampai sore. Katanya bakalan susah mancing di pinggir laut, apalagi aku gak pakai joran pancing jadi gak bisa lempar kail jauh. Tapi karena niatku mancing hari ini hanya iseng (males di awal udah keluar duit banyak aja), akhirnya ane tolak terus tawaran mereka.

"Gak usah pak gpp. Kita main-main aja kok pak. Cuma mau nyoba aja mancing di pinggir laut." Jawab ane dengan sopan sambil menolak tawaran mereka.

Disitu sembari menunggu ane juga sempat membeli kerang darah hasil nelayan setempat. Awalnya kami tidak tertarik karena lagi nggak pengen kerang. Tapi setelah tau harganya murah banget, 1 tangkup mangkok (tinggi sekitar 10 sd 15 cm, diameter 20-25 cm) cuman Rp 10.000, akhirnya kami memutuskan beli 1 tangkup mangkok. Lumayan lah nanti bisa masak kerang rebus, salah satu makanan favoritku ketika dimakan dicocol dengan saos jawara.

Air laut pun mulai pasang dan kami memutuskan segera mulai mancing. Bapak-bapak nelayan setempat masih keuhkeuh menawari kami 'naik kapal aja', tapi kamu tetap bersikeras untuk mencoba mancing di pinggiran dulu.

Baru sedikit berjalan ke titik mancing, kami sudah diteriaki,

"Mbak.. jangan lewat situ. Banyak ular!" Kata bapak-bapak dari kejauhan

"Lah tadi katanya suruh lewat sini. Kenapa gak bilang daritadi pas kita jalan kesini ya?" Kataku ke temanku. Haha. Malu aja belum apa-apa jalan ke titik mancing aja udah salah. Kok kelihatan kayak anak kota yang gak bisa apa-apa. 

Kami mencari jalan lain yang lebih aman untuk ke titik mancing incaran kami dan mulai melempar kail (2 kail) Well, karena kami nggak pakai joran, otomatis lemparan kail gak bisa terlalu jauh. Hanya maksimal 1.5 meter aja dari batu-batu pinggir pantai. Sepertinya bakal jadi misi yang susah nih. Mana kailnya nyangkut-nyangkut terus ke batu-batu di pinggir pantai.

"Eh ada yang nyentuh-nyentuh ni kailnya," kataku bersemangat ke temanku.

"Mana-mana, tarik!" Kata temanku.

Kejadian kailku disentuh-sentuh itu terjadi berulang-ulang kali namun gak sekalipun kami dapat ikan. Sementara sengatan matahari semakin panas. Kami tidak bisa mancing dengan posisi duduk karena itu benar-benar di pinggir pantai yang berbatu. Mana batunya licin.

"Eh ada ular laut.. ular laut. Asem aku takut!" Kata temenku sembari menjauh dari posisi dia berdiri.

Kami masih bertahan sekitar setengah jam di "titik mancing sambil berdiri" itu sampai akhirnya kami menyerah saat kailku lagi-lagi nyangkut ke batu. 

"Ahhhh sudahlah.. ayo kita naik kapal aja." Kataku dengan agak emosi karena mata kailku benar-benar nyangkut dengan suksesnya di bebatuan bawah air.

"Gak usah sudah.. sayang duitnya." Kata temen ane.

"Udahlah gpp.. buat pengalaman.. lagian Alhamdulillah hari ini ada tambahan transferan dari klien Ngawi. Hitung-hitung bagi rejeki ke orang di masa pandemi." Kata ane sok bijak.

" Ya udahlah ayo."

Akhirnya dengan menahan malu karena kekeraskepalaan kami, ane balik lagi ke bapak-bapak nelayan itu dan melakukan negoisasi singkat. Kami mendapatkan kapal yang tepat, dan mendapatkan waktu memancing sampai jam 12 siang.

"Nggak beli makanan dulu mbak?" Kata bapak pemilik kapal.

Kami yang nggak pengalaman mancing, hanya grusa-grusu aja tanpa mikir bahwa kami belum makan sejak pagi hehe. Dan mancing sampai jam 12 siang di tengah laut tentunya akan mengocok-ngocok perut. Akhirnya aku beli seplastik pentol.

Perahu mulai berjalan ke arah tengah laut dengan ombak yang cukup bergelombang. 

" Wah ini pemberat pancingnya kurang berat ini mbak, nanti gak kerasa kalau disentil ikan. Biar saya ganti punya saya," kata bapak pemilik kapal.

"Iya pak. Itu kami kemarin beli kail dan pemberat untuk mancing ikan tawar. Jadi pemberatnya cuma segitu." Timpal teman ane.

"Iya mbak, mancing di danau sama laut itu beda mbak. Di laut ada tantangannya yakni arus. Kalau di danau kan tenang aja kondisinya. Jadi mancing di laut harus pakai pemberat yang pas supaya kerasa waktu disentil ikan."

Kami hanya manggut-manggut mendapatkan ilmu baru ini.

"Ini kailnya diulur sampai dasar laut ya mbak," kata bapaknya lagi.

Aku segera mengulur kailku sampai aku merasa pemberat menyentuh dasar laut. Kedalamannya kuperkirakan sekitar 5 meteran. Selanjutnya kami menunggu..... Menunggu....dan menunggu tanpa kepastian. 😁

"Doh lama banget ya..." Belum apa-apa ane sudah mengeluh. Dasar tukang mancing abal-abal! Wkwk.

"Iya mbak.. lama harus sabar.." kata bapaknya.

Kami terus menunggu. Kailku beberapa kali seperti disentil-sentil ikan, tapi setiap kusentakkan selalu zonk. Tidak ada ikan yang tersangkut kail.

"Waduh, aku pusing nih. Mual," kata temen ane.

"Lah.. belum apa-apa udah mual. Katanya orang laut, kok malah ane yang lebih kuat," balas ane ke temen ane sambil meledek.

Yah gimanapun itu kan baru jam 9 pagi, sedangkan kita dapat kesempatan mancing sampai jam 12 siang. Jangan sampai rugi donk.

Akhirnya ane menyuruh temen ane tiduran aja di bagian tengah kapal. Sementara senar pancingnya dihandel oleh bapaknya. Jadi bapaknya pegang 1 senar kail, aku 1 senar kail.

Selang beberapa saat kemudian, bapaknya mengatakan bahwa ada yang tersangkut ke kailnya. Langsung kami disuruh narik dan ternyata benar, kami mendapatkan 1 ikan seperti "kakap putih" ukuran kecil (panjangnya +/- 15 cm).  Hehe seneng banget rasanya, strike pertama hari itu.
Selanjutnya kail yang dipegang bapaknya kembali dimakan 2 ikan lagi, satu ikan dukang panjang +/- 22 cm, dan satu ikan kakap putih lagi walau ukuran kecil, panjang +/- 10 cm. Kailku kok masih sepi-sepi aja.

Kami beberapa kali pindah tempat karena titik mancing tersebut udah benar-benar sepi. Kail kami sama sekali tidak disentil-sentil lagi.

Selama menunggu dapat ikan itu, kami beberapa kali bertukar cerita dengan bapak pemilik kapal. Beliau bercerita kalau pekerjaannya sehari-hari adalah mencari kerang hijau. Csra mencarinya adalah mengambilnya secara langsung di dasar laut dengan menyelam. 

"Hah, menyelam pak? Beneran?" Tanyaku dengan penasaran.

Gimanapun kan air laut di Selat Madura ini cukup keruh, berombak dan kedalamannya lumayan juga, antara 4-5 meter.

"Iya mbak, biasanya supaya tahan lama di dalam air, saya nyelam pakai kompresor. Tau kan, alat yang ada di tambal ban itu biasanya."

Ane hanya terhenyak aja.

"Berapa lama pak biasanya nyelam untuk nyari kerang hijau?"

"Ya tergantung mbak, biasanya dari pagi sampai siang. Kalau beruntung sehari bisa dapat 70 kg, tapi kalau lagi sedikit ya bisa cuma dapat 10 kiloan aja. Tapi ini lagi gak melaut soalnya masih bulan puasa, libur sebulan."

"Biasanya dijual berapa pak per kgnya?"

"10 ribu mbak."

Ane hanya manggut-manggut sambil sesekali membayangkan kerasnya pekerjaan bapak ini. Menyelam di laut berjam-jam, hanya untuk mendapatkan Rp 10.000/kg tentunya bagiku serasa gak sesuai ya. Tapi bagi beliau, mungkin ini satu-satunya cara untuk mencari uang.

"Kalau selama puasa gini, kapalnya buat apa pak?" Tanyaku lagi.

"Biasanya kita sewain ke wisatawan yang mau keliling laut sekitar sini mbak. Biayanya Rp 20.000/orang."

"Oh iya.. cuma ini karena pandemi pasti lumayan berkurang ya pak," kataku menimpali.

"Iya mbak, kalau hari biasa sepi. Biasanya agak ramai itu kalau minggu."

Dalam hati ane berujar, 'Ya Tuhan.. lancarkanlah rejeki bapak ini.'

Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB dan tidak ada tanda-tanda kail kami akan dimakan ikan lagi. Laut begitu sepiiii aku rasa. Mungkin karena hari ini cukup berombak.

"Sudah pak. Kita balik saja." Kataku.

"Oh ya pak, apa ada yang jual kepiting di sekitar sini dengan harga agak miring?" Tanyaku lagi.

"Oh itu, ada teman saya. Coba tak panggilnya. Kayaknya dia baru dapat kepiting laut." Jawab bapaknya sambil memanggil nelayan dengan perahunya yang mau kembali ke daratan.

"Ada kepiting pak?" Kata bapak pemilik kapal kami ke temannya itu.

"Wah gak ada pak. Cuma dapat ikan sekilo aja. Tapi harus kubawa pulang, buat bukti ke bini kalau kerja," katanya setengah tergelak.

"Oh yaudah pak gpp, " kata ane. Kasihan juga sih dia sudah melaut semalaman terus hasilnya kami beli gitu aja dengan harga miring.

Akhirnya bapak pemilik kapal kami memanggilkan temannya yang lain, dan ternyata temannya itu dapat udang laut lebih dari 1/2 kg.

"40ribu aja mbak," kata bapak tersebut ketika aku tanya harga udang.

Kami pun setuju dengan harga tersebut. Dan bapak penjual ini malah menambahkan 2 cumi dan beberapa ikan.

"Memang lagi susah dapat ikan mbak, ombaknya lagi besar. Saya melaut dari tadi jam 3 pagi, sampai hampir jam 11 siang ini cuma dapat segini."

"Iya pak. Kami mancing dari tadi juga cuma dapat 3," kataku menimpali.
Akhirnya setelah selesai bertransaksi di tengah laut, kami pun kembali ke darat dan disambut sama bapak-bapak nelayan lain. 

"Gimana mbak, dapat apa aja?" Tanya mereka.

" Cuma 3 pak, agak susah karena ombaknya tinggi. Ni kami malah beli udang di tengah laut," kataku setengah terpingkal.

"Woo iya mbak. Lain kali lebih lama mancingnya. Supaya dapat banyak," jawab mereka.

"Siaap pak."

Akhirnya setelah memberi sedikit rejeki (yang kutambahi sedikit) kepada bapak pemilik kapal yang mengantarkan kami mancing, kami pun bergegas pulang ke rumah. Benar-benar pengalaman tak terlupakan. Hari itu kami membawa pulang berbagai macam hasil laut, ada kerang darah 1 tangkup kresek, udang laut lebih dari 1/2 kg, cumi, dan berbagai macam ikan. Hari ini kami akan pesta seafood! 😁