Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work

7.19.2024

[PART 4] Perjuangan Mencapai Hawai'i : Minta Izin Kerja ke Atasan

Menuju : PART 3

 Konsulat Amerika: "oke selamat visamu disetujui bisa diambil dlm 5 hari kerja"

Galuh: "terimaksih bapak, eh.... mister. Bisakah sy ambil besok? Sy akan ambil disini visanya." (soalnya ndengerin orang yg diwawancara sblm aku, dy bs lgs ambil visanya besoknya)

Konsulat Amerika: bisa tp jam 14.00 ya. Sambil memberi kartu kuning dan catatan kecil.

*****

Aku membawa lembar konfirmasi persetujuan Visa Amerika-ku keluar dari Gedung Konsulat Amerika Serikat dengan hati-hati, kulewati setiap penjaga dengan sopan dan menebarkan senyum. Perasaanku saat itu adalah perasaan bahagia yang datar... Bagaimana ya? Aku bahagia. Aku senang visaku granted, berarti sudah tidak ada yang menghalangi lagi keberangkatanku ke Hawai'i, namun ada sesuatu sangat besar yang sangat mengganjal hatiku saat itu...

...........Bagaimana caraku mendapatkan Izin Kerja........

'Aku mendapatkan visa ini (11 September 2017).... keberangkatanku ke Hawai'i berarti tinggal 7 hari lagi (18 September 2017) dimana aku akan disana sampai 23 September 2017...Bagaimana aku mendapatkan izin tidak masuk kerja selama seminggu??!! 

Padahal pekerjaanku sekarang adalah sebagai pegawai dengan jadwal kerja Senin - Jumat jam 07.00-15.30. Hampir mustahil mendapatkan libur satu minggu kecuali setahun sekali saat Idul Fitri...Oh my.....

'Bagaimana aku mempunyai muka untuk menghadap atasanku untuk (lagi-lagi) minta izin tidak masuk kerja?? Setelah sebelumnya sudah pernah izin juga?'

'Oh....my...what should I do??'

'Apakah aku menunda saja perjalanan ini di liburan panjang (Idul Fitri) tahun depan?? Yang penting kan aku sudah pegang Visa Amerika. Tapi...... Awwwwggg.....  tinggal seminggu lagi mimpiku selama puluhan tahun akan menjadi nyata, aku harus menunggunya setahun lagi?? huhuhu'

Batinku sangat berkecamuk, aku seperti dihadapkan pada situasi yang sangat bimbang. Benar-benar tidak tau apa yang harus kuperbuat...Beberapa bulan yang lalu, aku sempat berpikiran untuk 'berbohong' kepada atasanku untuk bisa mendapatkan izin. Aku sempat punya ide, 'bagaimana kalau aku bilang aku sakit cacar, DB, atau apapun itu? Bukankah kalau sakit yang seperti itu biasanya lama, bisa seminggu atau dua minggu?' Tapi setelah kupikir-pikir, itu sangatlah salah dan tidak etis. Yang pertama, aku tidak ingin menyumpahi diriku sendiri untuk sakit. Yang kedua, kalau atasanku sampai tau aku berbohong, aku ragu dia akan memaafkanku, atau setidaknya memandangku dengan sama. Selamanya aku akan dicap sebagai pembohong. Aku langsung menepis jauh-jauh pikiran itu. Lagipula, di era medsos seperti ini, jejakku sangat mudah untuk dilacak. Nggak mungkin juga kan... selama seminggu penuh di Hawai'i, aku tahan untuk nggak buat status sama sekali karena takut ketahuan berbohong. Ahhhh, aku nggak mau mengambil jalan ini.'

Seperti generasi milenial pada umumnya yang ingin eksis, sembari menunggu taksi Blue Bird yang kupesan lewat telfon datang, aku mengupdate status Instagram tentang keberhasilan mendapatkan visa Amerika-ku. Beberapa teman memberiku selamat, dan bilang, 

"Selamat Luh."
"Keren Luh."
"Akhirnya mimpi lamamu jadi kenyataan, Luh."
" Wah...selamat datang di Hawai'i..."

Di komentar terakhir, aku menjawab dengan lemah, "Sepertinya belum akan berangkat tahun ini bu, nunggu tahun depan...." 

Dengan lamunan dan kegalauanku yang tiada henti, akhirnya taksi pesananku datang. Aku memang tidak membawa transport sendiri ke Konsulat, karena memang disana tidak disediakan tempat parkir. Cukup mahal biayanya, namun jujur saat itu aku nggak begitu peduli.....

2 hari kemudian....

Waktu keberangkatanku semakin dekat,
Aku memutuskan aku harus jujur kepada atasanku (Pak Y)!
Aku harus jujur mengatakan bahwa ini adalah mimpi lamaku, yang sudah kupendam belasan tahun, aku harus jujur aku mau mengajukan izin tidak masuk kerja selama 1 minggu.

Aku sudah sadar konsekuensinya. Atasanku pasti akan berkerut dahinya, pasti akan merasa berat hati...pasti akan merasa aku ini pekerja yang sungguh 'seenaknya sendiri', sering izin hanya untuk 'bersenang-senang'. Aku sadar konsekuensi lainnya juga, teman-temanku mungkin akan nyinyir denganku. Dengan kekeraskepalaanku dan ketidaktaumaluanku. Namun setidaknya, dengan jujur hatiku tenang. Aku tidak perlu menyembunyikan apapun..

Hati kecilku mengatakan, sebelum bertemu Pak Y, aku harus bertemu Pak A dahulu. Pak A adalah bawahan Pak Y, aku mau meminta sarannya gimana cara ngomongnya ke Pak Y. Kebetulan Pak A menurutku orangnya cukup easy going dan bisa berpikiran terbuka. Aku menunggu sore hari, saat pekerjaan sudah longgar untuk mengajak ngobrol Pak A.

Sore akhirnya datang, dan aku melihat Pak A lagi santai. 'Inilah kesempatanku,' kataku dalam hati. Kakiku terasa berat dan terkunci di lantai. Pernah gak kalian merasakan pengen banget melakukan sesuatu, tapi sekaligus sangat tidak pengen melakukannya wkwkw... 

Aku mengangkat tubuhku dengan berat dan mendekati Pak A. Aku bilang dengan lirih, 

"Pak boleh bicara sebentar?" Ujarku dengan jantung yang semakin dag dig dug.

"Boleh, ayo disana," kata Pak A sambil menunjuk bangku di pojokan yang tidak terlalu banyak orang.

Aku duduk, menelan ludah, memantapkan hati, dan mulai bicara. Ini mungkin bakal jadi pembicaraan yang agak absurd bagi Pak A😁.

"Pak mohon maaf sebelumnya ya. Bapak pernah nggak punya mimpi yang udah puluhan tahun mengendap? Dan itu berpotensi menjadi nyata di depan mata kita, namun masih ada 1 penghalang. Jadi gini ceritanya pak. Saya udah punya mimpi ke Hawai'i sejak SMA. Kemarin saya dapat tiket promo pembukaan rute dari Air Asia, dimana harganya cuma 2,7 juta PP. Visa amerika juga saya sudah dapat barusan pak. Cuma saya bingung gimana caranya saya bisa dapat izin kerja pak. Karena tiket promo saya itu berangkatnya senin (18 September 2017), pulangnya senin (23 September 2017)," cerocos ane tanpa henti.

Pak A terlihat diam sejenak, kemudian membalas,

"Ya kalau saya sih gpp Luh, cuma ini semua kan tergantung Pak Y sebagai atasan. Coba kamu temuin dan ngomong langsung ke Pak Y."

"Iya pak, tapi gimana kira-kira reaksinya ya Pak?"

"Saya ga tau Luh, coba kamu temuin dan ngobrol dulu aja," Pak A menjawab dengan sabar.

Ane mengucapkan terimakasih ke Pak A. Selanjutnya ane tidak ingat pasti apakah langsung sore itu menghadap Pak Y atau masih besoknya. Jujur ane agak kurang nyaman menceritakan detail peristiwa menghadap Pak Y karena ane nggak enak bangettπŸ˜•πŸ˜•. Ane sadar ane kok seenaknya banget izin kerja begitu, meskipun belum dapat cuti. Intinya Pak Y akhirnya menyetujui (mungkin dengan berat hati) dan memintaku ke administrasi untuk mengaturnya. Huaaa maafin aku Pak Y. Terimakasih yaa..πŸ₯²πŸ₯²πŸ₯².

Jadilah semuanya sudah siap. Tiket, visa, itinerary, izin kerja. Aku siap berangkat!

[PART 1] Journey to TERNATE : Pantai Jikomalamo dan Danau Tolire

Setelah resmi membeli paket membership Swirijaya Air (Sriwijaya Travel Pass), hal pertama yang ane lakuin tentunya adalah hunting tiket. Kenapa hunting? Karena meskipun kita udah punya Sriwijaya Travel Pass, namun tidak semua tanggal itu harga base fare tiketnya gratis. Ada yang gratis, ada yang masih berbayar murah, bahkan berbayar normal. 

Ane sebenarnya masih belum menentukan, mau mengunjungi daerah mana karena ane belum memetakan tanggal liburan. Namun setelah berpikir sejenak, ane rasa ane pengen mengunjungi tempat yang sama sekali belum pernah kesana. Setelah berpikir sejenak, ane memutuskan : MALUKU UTARA yakni Pulau Ternate. Seru juga kayaknya kesana. Ane langsung saja booking tiket pesawatnya. Saat itu ane beli di tanggal 26 April 2018 jam 3 pagi untuk keberangkatan tanggal 27 April jam 6 pagi dengan rute Surabaya - Makassar - Ternate. Busett, berarti besok berangkatnya! Wkwk.. Ya tapi inilah keuntungannya beli Sriwijaya Travel Pass, kan? Kita bisa random aja tiba-tiba pergi, wong base fare tiket pesawatnya gratis. Cuma bayar pajak, IWJR, admin aja hihihi.

Saat itu total yang harus ane bayar untuk tiket pesawat Surabaya - Ternate adalah Rp 425.800 untuk perjalanan pulang pergi. Ane rencana berangkat tanggal 27 April 2018, dan pulang dari Ternate tanggal 29 April 2018. Iyaa cuma 2,5 hari karena keterbatasan waktu liburku karena saat itu ane masih kerja kantoran.. hikzz..

27 April 2018
Hari ini adalah keberangkatan ane ke Ternate. Jadwal pesawat ane adalah jam 6 pagi, artinya, ane harus berangkat super pagi dari kos. Saat itu ane masih kos di Surabaya Pusat, jadi ane berangkat ngojek sekitar jam 4.25.

Ane sampai T1 Bandara Juanda tepat waktu dan tidak menjumpai masalah berarti saat check in. Ane mendapatkan 2 boarding pass yaitu Surabaya - Makassar, dan Makassar - Ternate. Ane dijadwalkan transit di Makassar selama 1 jam dan dijadwalkan mendarat di Ternate tepatnya di Bandara Sultan Babullah jam 12.15 WIT.

Suasana pagi itu di Bandara Juanda. Foto itu adalah pesawat Sriwijaya Air yang akan membawaku terbang ke Makassar.

Transit di Makassar. Ini adalah pesawat Wings yang ane foto pas turun dari Sriwijaya. Pesawat ane dari Makassar ke Ternate tetap menggunakan Sriwijaya Air 

Penerbangan berlangsung dengan mulus selama total 3 jam. Oya sebelum pesan tiket pesawat, ane sempet nanya-nanya di grup Backpacker tentang Ternate dan ada satu kakak ini - Kak Ai - yang bersedia menemani ane berkeliling pulau. Jadi rencana Kak Ai akan jemput ane pas landing, dan langsung diajak berkeliling.  Ane sendiri ga punya klue mau diajak kemana karena ane sendiri ga bikin rencana perjalanan. Kak Ai sendiri sebenarnya bukan agen tour resmi yang sudah ada tarif pastinya, tapi dia lebih ke pemuda lokal yang siap mengantarkan traveler-traveler untuk keliling Maluku Utara. Jadi masalah berapa tarifnya? Saat itu lebih ke kesadaran dan keikhlasan dari para traveler aja.

"Selamat datang di Bandara Sultan Babullah di Ternate. Waktu menunjukkan pukul 12.30 WIT," seru pramugari Sriwijaya Air saat ane sudah mendarat. Lokasi bandaranya ternyata berada di tepi laut persis. Dan sejak mendarat ane udah disambut dengan gagahnya Gunung Gamalama yang menjulang tinggi. 'Kayaknya bakal cantik banget ini pulau,' kata ane dalam hati.

Sambutan Gunung Gamalama dari Bandara Sultan Babullah

Langit yang sangat cantik❣️

Keluar dari area kedatangan bandara, tiba-tiba ada seorang pemuda yang mendekati ane,

"Mau naik ojek mbak ke pusat kota?"

Ane langsung aja jawab dengan agak cuek, "Oh nggak kak, uda dijemput temen."

Tanpa ane sadar bahwa itu adalah Kak Ai yang ngerjain ane wkwk..

"Woalah.. Kak Ai! Hahaha. Maaf-maaf kak.Salam kenal ya, aku Galuh."

Kak Ai hanya ketawa aja setelah ngerjain ane, dan selanjutnya kita segera motoran ke pusat kota untuk check in penginapan dulu. Ane sendiri gatau penginapannya dimana karena semua diatur Kak Ai. Katanya penginapan ini murah, bersih, dan lokasinya di pusat kota (depan Pantai Nukila persis). 

Sepanjang perjalanan ane banyak bertanya-tanya tentang Pulau Ternate ini ke Kak Ai. Orangnya ramah dan selalu menjawab semua pertanyaan ane dengan jelas. Kesan pertama ane tentang Pulau Ternate ini adalah tenang, jalanan tidak terlalu ramai dan sedikit adem. Sepertinya ane bakalan suka disini. Karena belum makan siang, akhirnya kita mampir dulu di Kedai Ayam Bakar Jawa Timur yang menurut Kak Ai sih salah satu yang paling enak dan laris di Pulau Ternate. Selain rasa ayam bakarnya pas, nasinya juga bisa nambah sepuasnya, jadilah paket combo! Dan setelah ane berhenti dan makan emang enak banget, rasanya pengen nambah nasi terus hehehe..

Setelah makan akhirnya Kak Ai drop ane juga di Penginapan Santoso yang berada di seberang Pantai Nukila persis. Saat itu (2018) tarifnya adalah Rp 100.000/malam dan sesuai penuturan Kak Ai, tempatnya emang simpel, minimalis dan bersih banget. Sebenarnya lebih seperti kos sih, tapi karena terlalu bersih jadilah nyaman banget. Ibunya juga memelihara beberapa kucing yang lucu-lucu banget! Hehe.

Setelah check in, ane pikir kita bakalan santai-santai dulu. Tapi ternyata Kak Ai langsung minta ane ganti baju yang kotor karena kita bakalan langsung snorkeling di Pantai Jikomalamo. Ane seneng-seneng aja sih, wong semua sudah diatur hehe.. karena ane belum ada baju yang kotor, Kak Ai pinjemi bajunya dan kita berangkat ke Pantai Jikomalamo motoran. Sepanjang perjalanan pemandangan yang mendominasi adalah Gunung Gamalama, laut biru yang bersih, dan kehidupan yang cukup sederhana. Ane suka banget sih situasi kayak begini. 


Sekitar setengah jam mengemudi, akhirnya kita sampai di Pantai Jikomalamo. Dan sampai parkirannya aja ane udah dibuat melongo dengan keindahannya.. Oh My Lorddd..... Airnya benar-benar biru bersih dan sejernih itu, ane bahkan bisa melihat dasar lautan dengan jelas. Disempurnakan dengan cantiknya sulur-sulur dari pepohonan dan Pulau Hiri yang berdiri gagah menjulang di depan..
Pemandangan Pantai Jikomalamo dari parkiran motor

Pemandangan Pulau Hiri dari Pantai Jikomalamo

Meskipun pemandangannya udah sebagus itu, dan airnya sejernih itu, Kak Ai bilang spot snorkelingnya bukan disini. Kemudian dia membawaku jalan lagi sekitar 100 meter melewati jalan setapak menuju ke bagian ujung pantai. Katanya disitulah spot snorkeling yang bagus karena banyak karangnya. Aku sih manut-manut aja.

Sesaat kemudian kita telah sampai, dan tanpa menunggu lama Kak Ai yang udah bawa fin dan mask langsung ajak ane nyebur. Karena ane gak bisa renang, Kak Ai benar-benar pegangin dan dorong ane selama snorkeling wkwk.. berasa punya jet dalam air karena ane tinggal diam aja udah jalan. Saat itu kondisi laut sedikit kurang bersahabat. Ombak agak kencang sehingga membuat kondisi perairan agak keruh. Implikasinya, kami nggak bisa terlalu melihat karang-karang cantik dibawah sana. 

Selesai dari Pantai Jikomalamo, Kak Ai membawa ane melanjutkan petualangan ke sisi bagian barat Pulau Ternate, tepatnya ke Danau Tolire Besar.



Selesai dari sini, kita beranjak lagi ke Danau Tolire Kecil yang berada di tepi pantai. Disini kita sempat duduk-duduk dan pesan kuliner khas Ternate yang terkenal, pisang sambal. Kita sempat duduk-duduk dan bercerita di gubuk-gubuk yang tersedia di tepi pantai sampai sekitar jam 7 malam.

Malamnya Kak Ai ngajak makan malam di ayam bakar yang sama dengan tadi siang. Ane sih fine-fine aja karena memang seenak itu.. hehe.. jam 9 malam akhirnya petualangan ane selesai saat Kak Ai drop ane di Penginapan Santoso. Kak Ai bilang besok pagi akan kembali menjemput ane. Well, terimakasih banyak kak!

Solo, 8 Januari 2012 : Operasi pertama ane.. karena...

Jogja, 30 Desember 2011..

Lokasi : Kos ane di Sagan 

Ane masih ingat dengan jelas, detik-detik sebelum kejadian itu. Detik-detik sebelum sebuah jarum jahit terinjak dan 'patah sebagian' sehingga tertinggal di kaki kanan ane... Peristiwa itu terjadi dengan sangat cepat, tanpa ane pikirkan atau duga sebelumnya.

***

Surabaya, 10 Oktober 2021

Cerita ini kutulis di Surabaya, pada 10 Oktober 2021. Jadi udah cukup lama ya, 10 tahun yang lalu 😁 jadi ane sendiri kurang bisa menceritakan secara detail. Tapi untuk gambaran kasarnya masih bisa, samar-samar ane masih bisa mengingat salah satu kejadian memilukan itu... kejadian ini terjadi saat ane menginjak akhir semester 3 di perkuliahan. Kejadian ini terjadi 1 hari menjelang ujian akhir semester, dan 3 Minggu menjelang perjalanan backpacking pertama ane ke Thailand, Kamboja dan Malaysia. Memang benar-benar apeeeesss!

***

Jogja, 30 Desember 2011

Masih teringat dengan samar, sore itu ane Habis selesai mandi dari perkuliahan yang melelahkan, dan berniat ingin leyeh-leyeh di kasur kosan sambil facebookan di laptop. Saat itu ane emang lagi hobi-hobinya facebookan, dan browsing tentang artikel-artikel ilmiah/geologi gitu gan.

Seperti biasa, kamar ane di kos Sagan ini memang berantakan banget gan. Buku-buku, kertas, pakaian, kadang tersebar gitu aja. Salah satu hal kecil yang tersebar juga, dan luput dari perhatian ane adalah sebuah jarum jahit kecil yang tersangkut di karpet di bawah kasur. Jarum jahit yang mungkin dibawa ibu ane pas berkunjung untuk memperbaiki baju/kancing ane, dimana ibu ane mungkin lupa mengambilnya kembali pas selesai njahit.

Kamar kos ane pas lagi beres-beres kamar (biasanya ga seberantakan ini). Jarum itu posisinya di karpet hijau yang di depan itu

Masih teringat dengan jelas, awalnya ane facebookan (di laptop) dengan posisi tiduran miring di kasur. Tapi sesaat kemudian, karena ingin ganti posisi sambil duduk, ane putar pelanting posisi ane ke karpet hijau. Bisa dipahami ya, jadi yang awalnya tiduran miring di kasur jadi duduk di karpet. Otomatis pas pelanting badan itu kan kaki kanan ane yang mendarat duluan di karpet hijau dengan hentakan yang lumayan keras. Saat itulah ane merasakan suatu sakiiiiiit yang luar bisa di kaki kanan ane (yang menapak duluan dengan keras). Seperti tertusuk sesuatu, namun ane nggak bisa memastikan itu apa, karena ane benar-benar nggak lihat barangnya. Ane juga awalnya nggak nyadar "kemungkinan" itu jarum, karena ane masih meringis-ringis saking sakitnya. Ane nggak nangis, tapi sempat meringis-ringis sambil mengerang saking sakitnya. Setelah ane amati dengan detail baru ane sadar, ada lubang kecil di spot yang sakit banget itu, yakni di bagian bawah jempol kaki kanan ane. Disitu baru ane sadar..

'Oh my God.... Kayaknya ane nginjak jarum!'😭😭😭

Saat itu pikiran pertama yang melintas di benak ane, 'JARUMNYA PATAH NGGAK YA?? DIA KETINGGALAN DI KAKI ANE NGGAK YA' 

Reflek pertama ane saat itu adalah, ane berusaha mencari jarum utuh/patahan jarum tersebut di sekitar karpet. Kalau dia nggak patah, pasti bisa ditemukan di sekitar karpet kan. Namun ane cari-cari benar-benar nggak ada...Disitulah ane mulai bimbang dan agak ketakutan.

"Jangan-jangan emang jarum tersebut tertinggal sebagian di kaki ane.. makanya sakitnya luar biasa..."

"Eh tapi aku nggak ada bukti juga kalau dia patah di kakiku. Mungkin aja kan jarumnya udah geser kemana I don't know pas kesentak kakiku."

Benakku berperang saat itu. Ane nggak tau mana yang harus ane percayai atau yakini. Yang jelas saat itu ada 1 hal pasti di pikiranku,

"Kalau jarumnya patah dan ketinggalan sebagian di kakiku, berarti ane harus operasi..... Mati....."

"Dalam seminggu lagi ane akan ujian akhir semester 3, dan 3 Minggu lagi ane akan berangkat backpacking ke Thailand, pertama kalinya keluar negeri.. Sesuatu yang sudah kutunggu berbulan-bulan.... Ya ampun.."

Sebenarnya biarpun operasi pun, jatuhnya operasi ringan kan ya gan. Tapi bagi ane yang belum pernah operasi, membayangkannya aja udah ngeriiii 😭😭.

Pikiran-pikiran negatif itu membuat ane memaksa otak untuk berpikir 'Sudahlah optimis saja, jarum itu pasti tidak tertinggal di kakiku!'. Jadilah selama beberapa hari ane berusaha nggak mikirin hal tersebut dan mulai fokus ke kesibukan ane kuliah.

Namun semakin lama kok ane merasa kaki ane mulai aneh ya. Rasa sakit kalau ane lagi duduk hampir nggak ada, hanya berasa sakit ketika buat jalan. Selain itu di area sekitar tempat ketusuk jarum itu warnanya jadi merah cenderung keunguan. Ane mulai berlogika, kalau memang jarumnya ga ketinggalan mestinya ga kayak gini dong ya! Ane mulai kawatir lagi.

Beberapa hari setelahnya, ane sedang pulang kampung ke Solo. Disitu ane cerita sama ortu perihal kaki ane, dan gak pake lama ane pun diajak ke RS B di Solo untuk periksa. Saat itu yang nerima dokter umum dan ane langsung menceritakan kronologi kejadiannya. Eh sama dokternya malah kaki ane yang ketusuk jarum itu dipencet-pencet hadeuuuuhh! Harusnya dia bernalar kan ya, untuk tau pasti harus dirontgen. Tapi ane hanya dikasih antibiotik dan obat-obatan anti infeksi lainnya. Mana pas periksa ane dokternya lagi flu, dan pas pulang 1-2 hari kemudian ane malah ketularan juga flu. Alamakk..... Gak sembuh dari penyakit malah dapat penyakit!

6 Januari 2012

Setelah mengkonsumsi obat dari dokter RS B diatas, ane merasa kondisi kaki ane nggak membaik malah memburuk. Kaki ane di area yang tertusuk rasanya jadi semakin nyeri dan berwarna semakin merah. Ane mulai berpikir fix ini pasti ada yang ga beres. Sebenarnya ane benar-benar dilanda kebimbangan. Bagaimana tidak, 2 hari lagi aku bakalan mulai ujian akhir semester III. Saat itu setauku, kampusku belum ada option untuk mengadakan ujian susulan/ulangan. Jadi ane bener-bener gatau kalau ga ikut ujian jadinya nilai ane gimana..

Namun disisi lain ane juga berpikir kalau dibiar-biarin semakin lama, kalau memang ada jarum yang tertinggal didalam, kakiku bisa infeksi. Dan ane nggak bisa dan nggak sanggup membayangkan konsekuensi lanjutan dari hal itu. Selain itu, dalam kurun waktu kurang dari 2 minggu lagi ane bakalan traveling pertama kalinya ke luar negeri yaitu ke Thailand. Masa sampe disana mau overthingking (OVT) terus bertanya-tanya ada jarum atau tidak. Hhh melelahkan setelah beberapa hari ini ane bertanya-tanya hal yang sama terus.

Akhirnya ane mengambil keputusan. BESOK HARUS KEMBALI KE RS & HARUS RONTGEN!  Nggak ada lagi tapi-tapi. Ane harus tau kondisi kaki ane dan segera mencari solusinya!


........

7 Januari 2012

Sudah H-2 ujian, dan hari ini kegiatan ane adalah belajar makul pertama ujian yaitu sedimentologi. Ane belum jadi juga ke RS untuk rontgen. Benar-benar lupa alasannya apa.. mungkin tiba-tiba hati dan perasaan ane belum siap lagi. Malah hari ini ane ngayal tentang Hawai'i lagi wkwk.. benar-benar ya.. Kalau itu terjadi sekarang (Juli 2024 ane nulis ini), ane bakal parno parah dan langsung ke RS. Mana sempet mikir ginian🀣


 8 Januari 2012

RS B, Solo

Sudah H-1 ujian, dan ane merasa udah ga bisa menunda-nunda lagi. Ane harus ke RS sekarang juga! Pagi itu sekitar jam 10 tanpa babibu, ane langsung ngajak bapak ane ke RS B lagi. Sepanjang perjalanan ane benar-benar OVT dan takut. Ane takut banget kalau sampai harus operasi karena sepanjang hidup ane belum pernah operasi. Namun ane gak mau pikiran menderita terus-terusan.....

Paginya ane masih belajar

Setengah jam kemudian ane dan bapak udah sampai RS B dan langsung menuju IGD. Kali ini dokternya seorang ibu-ibu (sebut saja Ibu Dokter) dan setelah menjelaskan kronologi ga pake lama dia langsung arahkan ane ke ruang rontgen! Nahhhh ini maksud ane dari lama😭😭😭.

Rontgen dilakukan cepat, hanya 5 menit dan kemudian hasilnya diserahkan ke ibu dokter. Ibu dokter langsung melihatnya di alat pembaca rontgen (yang disinari dari belakang sehingga bisa terlihat dengan jelas). Dan yahhhh..... Permisa... Disitu terlihat dengan sangat jelas ada jarum sepanjang +- 1.5 cm yang bertanggar miring di kakiku wkwkwk....


Terjawab sudah semua rasa penasaran ane. Benar potongan jarum itu memang tertancap di kakiku. Trus sekarang gimana?? Aku tau bakalan harus operasi, tapi apakah harus sampai opnam??

Bu Dokter bilang akan dioperasi pengeluaran jarum saat itu juga di ruang IGD. Whatt? Ane pikir bakalan harus di ruang operasi dan menunggu jadwal operasi. Tapi mungkin kasusku termasuk ringan kali ya.. saat itu ternyata yang mengoperasi bukan bu dokter langsung, tapi 2 dokter laki-laki muda (mungkin dokter yang lagi koas). 

Hal pertama yang mereka lakukan adalah melakukan pembiusan menggunakan suntik. Bisa agan bayangkan, ane yang udah tau pasti didalam kaki ane ada jarum, nyeri, ngeri, ehhh malah ditusuk bius suntik 5x πŸ₯²πŸ₯². Ane menahan nyeri dengan meringis-ringis. Ane minta bapak ane temani di ruang operasi karena ane bener-bener takut.

Selanjutnya kaki ane sudah berasa kebal dan panas, dan 2 dokter koas itu mulai mengeluarkan peralatan sakti mereka, pisau bedah,πŸ™„πŸ™„. Dalam sekejap mata mereka telah membelah kaki ane dan mulai mencari-cari jarum itu. Karena ane ga dibius lokal, ane sempet lihat sejenak kaki ane yang sedikit terbelah itu dan menangis ketakutan sambil megangin tangan bapak ane🀣🀣.

Cukup lama 2 dokter muda itu mengubek-ngubek kaki ane, sesekali dibantu ibu dokter. Dan akhirnyaaa setelah 30 menit jarum itu telah dikeluarkan, dan kaki ane mulai dijahit lagi.. oh leganyaaaaa!!😭😭..... Selesai operasi Ibu Dokter menunjukkan potongan jarum itu yang sudah dikeluarkan. Ibu dokter juga bilang kalau ini sudah hampir infeksi. Oh my God... Untung ane bawa disaat yang tepat.

Selanjutnya ane masih disuruh tiduran di kasur dan bapak ane segera bergegas menebus obat. Ane masih dilanda rasa ngeri... sekaligus lega bahwa ini semua sudah berakhir.. artinya tinggal pemulihan saja. Kalau ditanya rasanya, meskipun sudah dijahit ane masih merasakan belahan bekas bedah operasi itu.. hikz..

Beberapa saat kemudian bapak ane telah selesai menebus obat, dan ibu dokter bilang ane bisa langsung pulang. Ane hanya disuruh kontrol setiap seminggu sekali. Oh well, ane agak kaget sebenarnya boleh langsung pulang. Tapi yaudahlah itu yang terbaik... Lagipula besok aku ujian. 

Bapakku membonceng ane pelan-pelan dengan motor. Sampai rumah ibu ane langsung menyambut ane dengan kuatir, dan setelahnya ane disuruh makan untuk segera minum obat. Salah satu obat paling penting adalah pereda nyeri. Dengan obat itulah ane masih bisa belajar materi sedimentologi untuk ujian besok.


Ane inget banget setiap habis efek obat pereda nyeri, ane nangis kesakitan sambil pegang buku sedimentologi wkwkwk... Oh my Lord, what an experience.....






















7.18.2024

Yogyakarta, 16 Februari 2015 : Kisah si Lemari

16 Februari 2015
Jalan Wonosari KM 8, Yogyakarta

'Tidak ada yg pernah bilang bahwa hidup itu mudah. Harus terus berjuang,,,,mbuh piye engko akhire,,'

Itu adalah status FB ane tertanggal 16 Februari 2015.

Hahaha ane ingat banget hari ini ! Malam ini ane ada janji COD sama salah seorang agan di dekat Jalan Wonosari KM 8. Ane membeli sebuah lemari plastik dari agan ini yang dihargai Rp 65.000. Rencananya sih ane mau jual lagi ini lemari. Saat ini emang ane lagi demeeeeen banget yang namanya jual beli.

Eh tapi pas ambil lemarinya, ternyata keciiiil gan. Tingginya 1 meteran aja. Ladelah!! Wkwk.. tapi ane juga sekarang mikir sih, misal lemari itu ternyata lebih besar, trus ane bawanya gimana?? Orang ane ngambilnya pake motor wkwk odong!

Periode ini memang saat ane lagi gencar-gencarnya dan semangat-semangatnya jualan online. Ane biasa menjual barang-barang belas dan berbagai barang lainnya di grup jual beli barang bekas anak kos Yogyakarta. Dan lemari diatas sebenarnya ane beli untuk dijual lagi, karena berdasar fotonya sih masih bagus banget kondisinya. Tapi realitanya pas sampe rumah ane pake aja. Pernah sih ane jual dan orangnya sempet datang liat. Tapi karena kekecilan akhirnya gajadi. Yahh.. akhirnya itu lemari masih sama ane sampai 2024 ini 😁😁🀣. Ane sengaja pake lemari kecil ini untuk menaruh baju-baju ane, supaya ane tetap minimalis dan gak nambah-nambah baju terlalu banyak. Ulala..😁😁

Surabaya, 16 Oktober 2017 : Beli Mobil :)

"Thanks God...."


Dua kata itulah yang terucap dalam hatiku di Surabaya pada tanggal 16 Oktober 2017, jam 11 siang. Aku telah resmi meminang Si Mitsubishi Kuda!

Sebenarnya sebelum membelinya, Suzuki Katana adalah tipe mobil pertama yang melintas di pikiranku. Tujuan utamaku ke mobil sebenarnya juga untuk touring keliling Indonesia, dimana sejak pulang dari Hawai'i keinginan terbesarku adalah road traveling di negaraku tercinta, Indonesia! Aku rasa dengan bentuk mobil yang relatif simpel serta jaminan mesin Jeep Suzuki yang oke, ini adalah mobil yang sempurna.

Setiap hari kerjaanku adalah buka OLX di bagian mobil bekas. Aku memang tidak berencana membeli mobil baru karena harga-harganya yang relatif masih tinggi, serta Aku PALING MENGHINDARI yang namanya KREDIT. Entah kenapa dengan tipe 'jiwa bebas' ku, Aku merasa kredit itu kayak Aku terpenjara hehehe. Karena dengan kredit berarti Aku harus bertahan di kantorku sekarang sampai kredit lunas (beberapa tahun). Aku pasti gak berani keluar karena belum ada penghasilan tetap untuk mengangsur setiap bulan. Padahal Aku berencana segera resign karena ingin fokus di kegiatan wiraswasta yang sekarang kulakukan. 

Karena ada sedikit tambahan budget, Aku sedikit menaikkan target. Dan saat mencari-mencari di OLX, mataku tertuju ke Mitsubishi Kuda. Bentuknya modern, gagah dan sepertinya cocok untuk touring. Target kukunci. Aku mau beli Mitsubishi Kuda. Jujur, saat itu yang ada di kriteriaku hanyalah bentuk/body luar mobil. Aku belum tau masalah keborosan BBM (bahwa mobil dengan bensin relatif lebih boros daripada mobil diesel), berapa jarak tempuh dengan BBM per liter, kekuatan mesin untuk medan naik turun gunung, dll. Aku baru tahu dan menyadari semua itu saat konsultasi dengan pemilik Showroom Mobil SS 21 di Diponegoro.

Dan tibalah hari itu, 13 Oktober 2017, di Showroom Mobil SS 21 Giant Diponegoro Surabaya saat Aku menemukan mobil idamanku, Mitsubishi Kuda warna hitam tahun 2003 yang entah dimataku terlihat gagah. Aku tidak mempedulikan status second, tahun keluaran atau apapun itu. Karena Aku sudah merasa love at first sight sejak pertama kali melihat My Horse ini. Tentu saja love at first sight-ku ini diperkuat dengan penjelasan pemilik Showroom bahwa kalau dimasa depan mau digunakan touring, memang lebih baik memakai yang diesel karena relatif lebih murah dan mesinnya kuat (saat itu perbandingan bensinnya sekitar 1:14). Setelah meminta waktu sejenak kepada pemilik Showroom, aku akhirnya memantapkan hati untuk men-DP sebesar 4 juta. Kekurangannya wajib dibayarkan saat mobil selesai tune up.


Dan akhirnya pada Senin, 16 Oktober 2017, setelah selesai melakukan pembayaran, aku resmi memiliki Si Kuda. Sebuah barang yang mungkin dua tahun lalu hanya sebuah impian belaka, sekarang benar-benar menjadi milikku. 

NB: Rencana Si Kuda akan kuajak berpetualang ke berbagai tempat di Indonesia! Can't wait!

Surabaya, Juli 2017 : Pengalaman Sial dan Pahit selama di Eropa!

Ketika postingan ini sedang diketik, aku baru saja menyelesaikan petualangan dua minggu solo backpacking di Turki, Islandia dan Eropa Barat. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan karena aku melakukan perjalanan sendiri dan ini adalah pertama kalinya aku pergi jauh bahkan hampir ke kutub utara! Aku memulai perjalanan dari Surabaya ke Kuala Lumpur dengan menggunakan Airasia, diikuti oleh Kuala Lumpur ke Istanbul dengan menggunakan Turkish Airline. Dari Istanbul, aku melanjutkan penerbangan ke Paris dengan menggunakan Turkish Airlines.


Masih foto dengan santainya di Stasiun Tram EMINONU, Istanbul. Kamu akan banyak sial setelah ini hahaha. I Love Turkey by the way,

Dan kemudian dari paris, aku terbang lagi ke Reykjavik, Islandia. Di sinilah petualangan sesungguhnya dimulai. Semuanya benar-benar berawal dari kesialan. Oya, cerita di bawah ini berupa potongan-potongan cerita yang paling tidak terlupakan selama disana. Supaya tidak kepanjangan, nantinya akan kubagi menjadi beberapa PART tulisan. Untuk cerita selama di Eropa sendiri, akan kubuat sendiri dengan bahasa yang tidak kalah asik tentunya.

1. Handphone Tertinggal di Mesin X-Ray di Bandara Internasional Kuala Lumpur
Aku sudah begitu santainya naik airport shuttle train dari imigrasi Bandara Internasional Kuala Lumpur ke gate keberangkatanku, gate 34. Perjalanan tersebut memakan waktu sekitar 5 menit sebelum aku tersadar ada sesuatu yang salah, 'KENAPA HP-KU TIDAK ADA DI SAKUKU?!'. Dengan perasaan berdebar-debar dan pikiran yang kalut, aku segera memeriksa tasku. Sudah kubongkar semua dan nihil! Ya ampuunnn...HPku dimana? huhuhu.. Aku berusaha fokus dan mengingat-ngingat kapan terakhir kali aku mengeluarkan HP.

'Seingatku sejak masuk di kereta tadi aku sama sekali tidak mengeluarkan HP...Eh bener nggak ya? Apa aku mengeluarkan dan lupa? Duh..jangan-jangan jatuh lagi... Mati aku. Gimana ceritanya kalau HPku hilang? Nomor sebagian besar klienku aku simpan disitu.. Lalu gimana bisa update cerita juga selama di Eropa nanti? Ya ampun...kenapa aku ceroboh banget sih!'

'Eh..sebentar.. kalau misal HPnya nggak jatuh, berarti terakhir kali aku keluarkan adalah pas pemeriksaan X-Ray barang bawaan sebelum menuju gate keberangkatan. Ya, tidak salah lagi! Oh ya ampunn...semoga masih disana HPku..'

Aku mengutuki diriku sendiri sembari menunggu laju kereta yang seakan menjadi melambat saat aku menyadari HPku ketinggalan. Pikiranku hanya satu, aku harus kembali ke bagian imigrasi. Saat kereta sudah sampai di gate keberangkatanku, aku segera meloncat keluar dan menaiki kereta berikutnya yang kembali ke imigrasi.

'Cepat please...cepat berangkat!'

Perjalanan dengan kereta seakan berlangsung selamanya. 10 menit, tapi terasa seperti satu jam. Saat kereta kembali tiba di area imigrasi, aku segera meloncat keluar dan bertanya kepada sekelompok petugas bandara KLIA, dimana lokasi imigrasi?

Mengikuti petunjuk arahnya, aku segera berlari. Saat itu aku memang cukup pesimis HPku masih disana. Tapi saat melihat area pemeriksaan barang menggunakan XRay, aku tersadar. Pasti HPku disitu. Tidak salah lagi!

Untung saja area pemeriksaan barang Xray sedang sepi, aku langsung saja bertanya kepada sekelompok petugas yang sedang duduk-duduk.

"Bapak..apakah ada HP ketinggalan?"

"Apa itu HP?" tanya mereka setengah tergelak.

"Handphone. Sepertinya saya meninggalkan Handphone saya disini." Aku berkata dengan setengah tergesa-gesa dan kalut. Karena kalau sampai tidak kutemukan disini, aku tidak tau lagi harus mencarinya dimana.

"Kamu pakai simcard apa?" tanya bapak itu lagi.

"INDOSAT pak.."kataku dengan tidak yakin. Maksudku, apa mereka tau Indosat?

"Ini. Lain kali hati-hati." katanya sambil menyerahkan HP Infinix Hot Note 600 kesayanganku..

"Huaahhh...ya ampuun.. Trimakasih bapak..trimakasih.." Kataku dengan wajah yang sangat lega.

Aku meninggalkan area pemeriksaan dan segera naik kereta yang sama lagi untuk menuju gate keberangkatanku. Namun kali ini perasaanku sudah ringan, aku siap menuju Turki!

Tak lupa aku melakukan insta story dulu di Instagramku. Hehehe.

2. Lupa Tanggal
Siang itu, sekitar jam 14.00 waktu Turki, aku sedang duduk dengan begitu santainya di Tram Istanbul Jurusan T1. Aku sangat senang karena baru saja mengunjungi Area Taksim di jantung kota Istanbul yang cukup terkenal, rasanya benar-benar nggak nyangka bisa menginjakkan kaki disini. Seorang Galuh mengunjungi Turki... Ya ampun..benar-benar sebuah mimpi yang jadi kenyataan. Eh, bahkan aku nggak pernah bermimpi mengunjungi Turki. Ini benar-benar sebuah bonus yang luar biasa dari Tuhan.

Aku terus-terusan memandangi pemandangan Kota Istanbul dari dalam tram. Benar-benar tidak kulewatkan sedikitpun hal yang tersaji di depanku, karena waktuku sangat terbatas disini. Aku hanya mempunyai waktu transit 10 jam sebelum terbang ke Paris sore ini. Jadi aku benar-benar memanfaatkan setiap menit dengan maksimal. 

Sudah terbayang, hari ini tanggal 21 Juni 2017, malam ini aku akan mendarat di Paris, kemudian akan mencari penginapanku dan setelahnya mengunjungi Menara Eifel di malam hari. Kemudian esoknya tanggal 22 Juni 2017, aku akan mengunjungi Musium Louvre di Paris yang terkenal. Ya ampun..itinerary yang menyenangkan. Aku membayangkan sembari tersenyum. Oh..terimakasih Tuhan sehingga aku bisa mengunjungi tempat-tempat ini.

Saat sedang memperhatikan beberapa orang Turki di dalam tram, tidak sengaja mataku menangkap layar digital yang menampilkan tanggal dan jam hari itu, jantungku melompat! Oh Ya Tuhan!! 

Ini tanggal 22 Juni 2017!!

'What the....!!! Hari ini adalah tanggal 22 Juni 2017! Bagaimana aku bisa begitu ceroboh? !! Bodoh! Berarti seharusnya sekarang aku di Paris. Bagaimana dengan penerbanganku ke Reykjavik ??! Itu berarti hari ini juga. Duh! Sekarang posisi saya masih di Istanbul, penerbanganku dari Istanbul ke Paris baru saja mendarat pukul 18.00! Duh..jam berapa lagi penerbanganku dari Paris ke Reykjavik? Kenapa semuanya kacau begini setelah hari yang menyenangkan.. Huhuhu,' tangisku dalam hati sembari tanganku gemetaran mencari Etiket Paris-Reykjavik.

'Pokoknya kalau jamnya gak memungkinkan buatku untuk mengejar penerbanganku ke Reykjavik, aku akan beli tiket lagi. Karena Reykjavik di Islandia adalah tempat yang benar-benar ingin kukunjungi di perjalanan ini.'

Aku membaca E-tiketku dengan gusar dan ingin menangis lega rasanya setelah mengetahui jam keberangkatan pesawatku Transavia dari Paris ke Reykjavik adalah jam 22.00 malam ini. 

'Berarti aku masih mempunyai waktu sekitar 3 jam. Eh tapi ini terbangnya bukan dari CDG (Charles de Gaulle) Airport, tapi dari Paris Orly Aiport. Duh jauh nggak ya? Ya Tuhan.. semoga cukup waktunya. Sama-sama masih di Paris, semoga nggak terlalu jauh.'

Pikiranku langsung kacau begitu mengetahui hari itu tanggal 22 Juni 2017. Rasanya hanya ingin secepatnya kembali ke Bandara Istanbul Ataturk. Aku yang awalnya ingin mengunjungi Selat Bhosporus, langsung mengurungkan niatku. Lagipula itu sudah jam 14.00, sementara penerbanganku ke Paris jam 16.00. Aku segera naik tram untuk menuju bandara. Oh,... benar-benar merusak mood di hari yang sudah diawali dengan indah.

Aku segera teringat, aku mempunyai Etiket Musium Louvre dan tertunduk lesu setelah mengetahui aku baru saja membuang 15 Euro sia-sia, dan kesempatan untuk melihat salah satu museum terbaik di dunia. Kepalaku tambah tertunduk saat aku mengetahui harus membayar tagihan kartu kredit 19 Euro untuk penginapanku di Paris, Hostel Jacob, Karena aku tidak muncul.

Tapi ada rasa syukur yang teramat sangat dalam hatiku! Jika aku tidak melihat layar digital di tram secara tidak sengaja, aku akan mengira itu adalah tanggal 21 Juni 2017, dan setelah mendarat di Paris, aku langsung menuju ke pusat kota Paris untuk mencari Hostel Jacob. Dan tebak apa yang terjadi selanjutnya, Chaotic !! Bahkan, aku mungkin bisa batal mengunjungi Reykjavik dan aku yakin itu akan membuatku menangis.

3. Kamera Sony Alpha 5000 Ketinggalan di Ruang Boarding Bandar Istanbul Ataturk, Turki
Di ruang boarding Bandara Istanbul Ataturk, aku duduk di samping seorang pria Prancis. Sembari menunggu boarding, kita mulai mengobrol topik ringan. Yah kebetulan, pikirku. Dia kan orang Paris, pasti dia tahu jarak dan metode transportasi dari Bandara CDG ke Bandara Orly. Dan apakah waktu 2,5 jam yang kupunya cukup untuk mengejar penerbanganku ke Reykjavik. Supaya memperjelas maksudku, aku berniat memberikannya E-tiketku Paris-Reykjavik supaya dia bisa membacanya.

Karena aku meletakkan kamera di bagian atas daypack, sebelum mengambil E-tiket aku harus mengeluarkan kamera. Aku ingat dengan jelas,aku mengeluarkan kamera dan meletakkannya di sisi kiriku (tepatnya di samping pinggulku). Sewaktu meletakkannya disitu, aku sudah memberikan warning ke otakku, JANGAN SAMPAI LUPA!

Sepertinya keinginanku untuk mendapatkan informasi dari pria Prancis itu sia-sia karena bahkan setelah kutunjukkan E-tiket, dia masih belum juga paham maksudku. Bahasa Inggrisnya memang agak kacau, dia malah bilang begini:

"Tidak, tidak. Ini penerbangan ke Paris, kita akan mendarat di Bandara CDG."

"Bukan Mister, maksudku apakah jarak antara Bandara CDG dan Bandara Orly Sud jauh? Cukupkah waktu 2,5 jam untuk sampai kesana?"

Sekali lagi dia tidak mengerti maksudku dan malah terus menerus berkata kita akan mendarat di Bandara CDG. 

Ah yah, gak ngerti ni orang. Yasudah aku pasrah dan berniat mencari informasi sesampainya di Bandara CDG Paris saja. 

Akhirnya waktu boarding tiba. Dan kalian bisa menebaknya, aku lupa mengambil dan memasukkan barang di samping pinggangku!! Ya, kameraku! Aku mulai mengantri dengan santainya dan kemudian naik bus khusus untuk sampai ke kaki pesawat!

Aku bersiul dengan senang hati. Ah well, aku tidak terlalu peduli dengan masalah kelupaan tanggal ini lagi. Entahlah, rasanya bahagia. Islandia! Aku benar-benar akan mengunjunginya! Bahkan di pikiranku tidak ada rasa menyesal sedikitpun karena tidak sempat mengeksplor Paris. Ah sudahlah Paris suatu saat saja.

Sesaat kemudian, bus telah sampai di kaki pesawat. Aku menemukan tempat dudukku sesuai tiket dan mulai mengatur semuanya untuk persiapan lepas landas ke Paris. Sementara menunggu, aku mulai mencari kamera untuk melihat foto-fotoku selama di Istanbul seharian dan kemudian tercengang.....

Ya ampun, kameraku ??! Dimana Kameraku ???! Masya Allah.....

Aku berusaha keras untuk sekali lagi tenang dan mengingat kapan dan dimana aku terakhir memegangnya atau mengeluarkannya.

Sialan, pikiranku berteriak dan berkecamuk. Aku tidak bisa pergi ke Islandia tanpa kamera. Karena selain kamera Sony Alpha 5000 yang sekarang tidak jelas ada dimana ini, aku hanya membawa kamera Action dan handphoneku yang kualitas gambarnya kurang bagus. Membayangkan menangkap semua keindahan Islandia dengan kamera yang kurang bagus membuatku putus asa. 

Perlu beberapa saat bagiku untuk menyadari, aku telah meninggalkan kamera di ruang boarding. Bisa kuingat dengan jelas, aku memang belum memasukkan kamera itu!

Sh*t!! Ngapain aku harus aneh-aneh nunjukin E-tiket sih? Ya ampun.. kenapa cobaan tak henti-hentinya datang di perjalanan pertamaku ke Eropa. Setelah semuanya berjalan dengan begitu lancar di Istanbul. Mental dan fisikku benar-benar lelah diserang oleh semua kebodohanku ini. Duh...bisa turun lagi nggak ya.. Mana pesawat udah mau berangkat lagi.

Aku segera berlari ke arah bagian belakang pesawat untuk mengabari Pramugari Turkish Airline, dan bertanya apakah aku bisa kembali ke ruang Boarding untuk mencari kameraku. Wajahku sangat gusar, hatiku tak karuan rasanya. Ya ampun..gimana kalau hilang..

Pramugari muda tersebut segera bertanya kepada pramugari seniornya di bagian depan, dan seperti yang sudah kuduga, jawabannya:

"Tidak, Kamu tidak boleh kembali ke ruang boarding. Begini, tenang saja. Kamu tunggu disini, kami akan mengabari staf kami di ground sana untuk mencari kameramu."

"Please Madam Help me.... Thank you." kataku dengan lesu sembari menunggu di dekat pintu masuk pesawat.

Karena semakin lama penumpang mulai berdatangan, aku berjalan dengan lunglai kembali ke kursiku di belakang. Rasanya benar-benar ingin menangis. Kenapa aku begitu bodoh dan ceroboh? Dari kemarin masalah, masalah dan masalah terus. Bahkan aku belum sampai ke destinasi pertama! Rasanya hanya ingin menyerah, pulang ke Indonesia dan melupakan semua mimpiku huhuhu....

Sesaat kemudian salah satu pramugari mendekatiku (karena melihat wajahku yang sangat gusar) dn menghiburku..

"Kamu tenang saja. Staf kami sedang berusaha mencari kameramu. Kalaupun misalnya tidak ketemu, kamu lapor saja di bagian lost and found di Bandara CDG, okey? Ketika kameramu ketemu, kami akan memberikannya kepadamu."

Aku hanya mengangguk lesu.

'Tidak mungkin sempat. Sampai Bandara CDG saja aku harus cepat-cepat menuju Bandar Orly, aku nggak akan sempat mengurus di Lost and Found. Aku memejamkan mataku.. berusaha menahan air mata yang seakan ingin merangsek keluar dari sudut-sudut mataku. Semua bayangan tentang keindahan Islandia seakan menguap.. Aku tidak akan bisa mengabadikannya dengan kamera yang bagus.. Oh ya Tuhan...tolonglah aku..'

Selanjutnya pandanganku hanya terfokus pada pintu masuk pesawat. Kalau sampai pintunya tertutup dan tidak ada pramugari yang mendekatiku dengan membawa kamera, berarti aku memang harus menerima kenyataan. Kameranya memang hilang.

Tepat 10 menit sebelum jadwal keberangkatan, tiba-tiba pramugari yang tadi menghiburku terlihat membawa kamera berwarna hitam dengan senyum yang sumringah. Sepertinya dia tahu aku bakal sangat bahagia ketika melihatnya menghampiriku dan menyerahkan kameraku! "Oh yaaaa Tuhaaaannn...terimakasih-terimakasih.." kataku dengan perasaan lega yang langsung menjalar ke semua bagian tubuhku.

Oh Ya Tuhan, Galuh Pratiwi, You're really stupid lucky people!! Welcome to Paris! Welcome to Iceland!

4. Kamera Sony Alpha 5000 Rusak πŸ™„
Hari ketiga di Islandia, aku sedang roadtrip bersama 2 orang Indonesia. Satu bernama Bu Padma, solo traveler dari Kalimantan; satunya bernama Kak Willy, seorang WNI yang sudah lama bermukim di Islandia dan sudah menjadi warga negara Islandia. Jadi ceritanya aku dan Bu Padma ikut private tour yang diadakan sama Kak Willy. Seharian kita berdua benar-benar dibawa Kak Willy berkeliling sisi Islandia yang sangat cantik. Sore itu saat berada di salah satu spot wisata, saat aku bersiap mau memotret pemandangan menggunakan satu-satunya kamera andalanku untuk trip ini, Sony Alpha 5000 (kamera yang sebelumnya hampir ketinggalan di Bandara Istanbul Ataturk), tiba-tiba terdengar suara aneh dari kamera,

"Srrrttt.. krkkk"

Seperti ada sesuatu yang menyangkut setiap kamera mau 'clap' menangkap foto.

'Oh sial... Apalagi ini ?!' kataku dalam hati.

Aku segera mencobanya lagi, mungkin hanya kebetulan saja kan. Tapi sama,

"Srrtt.. krkk.. srrtt.. krkk," setiap aku mau mengambil foto.

Kucoba matikan kamera sejenak untuk mencobanya lagi, tapi sama saja, tetap suara nyangkut itu yang keluar. Apalagi ini😭😭😭.

Kak Willy sempat melihat kegusaranku dan menanyakan ada apa. Aku coba menyerahkan kamera ke dia, dan setelah diutik-utik sejenak, dia bilang ini memang ada yang error jadi ga bisa dipakai.

Ane berdiam dan seakan masih tidak percaya.. oh my God😞😞.. kamera ini kan satu-satunya penangkap foto bagus yang ane bawa. Selain kamera itu ane cuma bawa HP Infinix Hot Note 2016 dan Action Cam Xiaomi, dimana keduanya kalau untuk ambil gambar gak bisa clear kayak kamera😭. 

Hari itu yang awalnya menyenangkan untuk ane tiba-tiba jadi menyebalkan. Ane bener-bener sebel dan ga habis pikir, 'kenapa harus rusak sekaraaaaaang??? Kenapa pas ane lagi traveling disini?? Sehabis ini kan ane bakalan masih ke Belanda, Italy, Yunani, gimana ane bisa ambil foto kenangan yang bagus kalau kameranya rusak??!!! Huaaaa...😭😭 tangisku dalam hati.

'Gak mungkin aku benerin kamera disini atau di Belanda (tujuanku selanjutnya) , pasti mahal bangetπŸ₯²πŸ₯²πŸ₯²,' gumamku dalam hati.

'Atau aku beli HP aja di Belanda atau Italy? Ahhh tapi sayang duit lah, pasti mahal juga,' aku terus berperang dengan pikiranku sendiri sembari menatap nanar pemandangan di luar mobil yang disetiri Kak Willy.

'Ah tapi yasudahlah Galuh. Paling tidak kan kamu sudah bisa mengambil foto-foto selama transit di Turki dan selama 2,5 hari di Islandia.. nanti di Belanda, Italy sama Yunani kamu pakai HP atau action cam aja
. Gpp.. sama aja kok..' kataku menghibur diri sendiri.

Beberapa saat kemudian, aku membenarkan pikiran terakhirku dan sudah berada di fase penerimaan. Aku berpikir mau seberapapun menolak takdir, sama saja. Kameranya tetap rusak, aku masih di Islandia, aku akan tetap ke Belanda, Italy dan Yunani. Jalani takdir saja....

Selanjutnya Kak Willy masih mengajak kami ke satu wisata iconic yaitu Blue Lagoon. Karena aku udah ga ada kamera yang bagus, Kak Willy membantuku mengambil foto dengan HP Nokianya. Hasilnya pun bagus bangett dan dia share semua fotonya ke aku.

5. Ditegur seorang wanita di Belanda, "Why you take my photo?! Please delete it"
Hari kedua di Amsterdam, sore itu aku lagi jalan santai setelah seharian eksplore. Aku benar-benar menyukai dan mengagumi tata kota di Amsterdam. Semuanya diatur dengan rapi, estetik dan membuat hati nyaman. Hal itulah yang membuatku suka mengambil foto-foto suasana jalanan menggunakan Infinix Hot Note 2016-ku. Aku memang hobby menfoto suasana jalanan saat traveling, karena dengan melihatnya lagi ane jadi bisa kembali merasakan suasana saat itu.

Saat sedang asik mengambil beberapa foto suasana jalanan, dan setelahnya berniat naik metro untuk ke tujuanku selanjutnya, tiba-tiba ada seorang perempuang yang menghampiriku dengan terburu-buru,

"Excuse me, why you take my photo?" Tanyanya dengan nada bicara dan pandangan yang kurang bersahabat.

Ane kebingungan setengah mati. 
'Hah? Foto anda? Kapan saya menfoto anda ya?' ekpresi wajahku yang kebingungan kalau diartikan dengan kata-kata mungkin seperti ini.

"What? I don't take your photo. I just take photo for the view and street. I'm a tourist. I take photo from around," kataku membela diri karena aku benar-benar kebingungan. Aku nggak tau si mbak ini siapa, dan kapan aku menfotonya. Bahkan kalaupun ga sengaja kefoto, kalau dia posisinya cukup dekat, harusnya aku sadar dong ya. Nyatanya aku benar-benar ga tau dan ngeliat sama sekali.

"No. You just take my photo. Why you take my photo?" Kata dia dengan nada semakin memojokkaku.

"No, I don't take your photo. Why I take your photo?" Balasku setengah kesal karena aku benar-benar gatau manusia random ini siapa.

Untuk membuktikan akhirnya aku buka HP Infinixku dan kutunjukkan ke dia foto-foto yang kuambil. Aku menunjukkan aku banyak mengambil foto dari tadi bahkan sebelum di area ini, dan SEMUANYA BENAR-BENAR HANYA FOTO PEMANDANGAN. Aku bahkan galiat sama sekali si mbak ini lagi dimana saat foto kuambil. Bahwa aku benar-benar seorang turis, dan tidak ada pentingnya dan gunanya sama sekali mengambil fotonya. Memang dia siapa??? Artis?? Kalaupun merasa difoto dan diganggu privasinya, at least ngomong baik-baik lah ga nuduh sembarangan. Liat dulu fotonya di HP ane kayak gimana, baru nuduh. Ane nulis ini pun masih kesel wkwkwk...

Akhirnya aku ngalah supaya si mbak puas. Ane juga kepikiran ga mau sampe berurusan dengan polisi di negara orang. Ane delete beberapa foto-foto pemandangan terakhir yang ane ambil. Dan setelah itu dia ngoyor pergi gitu aja sambil tetap menggerutu. Hh dasar orang aneh..!

Yah... Itulah sekelumit pengalaman sial dan menyebalkanku selama di Eropa. Tapi in the end, aku berhasil menerima dan mengatasi semuanya. Kadang aku kagum juga sama diriku yang dulu😁😁. Nanti untuk cerita lengkapnya pengalaman di Eropa akan aku tulis sendiri per-part. Mumpung lagi semangat-semangatnya nulis. Ciao....

[Journey of Sulawesi] PART 1 : Eksplore Bantimurung!

 Bandara Hassanudin, 8 Mei 2014

08.00 WITA

Dengan tiket promo Rp 5000 yang ane dapat dari Air Asia setahun sebelumnya, akhirnya menginjaklah kaki ane buat yang kedua kalinya di Pulau Sulawesi, tepatnya di Bandara Hasanuddin, Kabupaten Maros. Rencananya, kami akan mengelilingi Pulau Sulawesi selama 7 hari ke depan dengan target tempat yang dikunjungi adalah Kabupaten Maros, Kota Makassar, Kabupaten Bulukumba, Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Gowa.

Karena kami hanya 3 mahasiswa nekad dengan duit pas-pasan dan keinginan mengunjungi tempat  yang begitu banyak, maka tiada cara lain untuk melakukannya selain dengan cara backpacker abis. Niat awal ini langsung diuji saat kami mencari transportasi ke luar bandara yang kabarnya ada free shuttle bus, tapi ternyata sudah tak ada. Alternatif cara untuk keluar bandara adalah berjalan kaki sejauh kurang lebih 2 km atau naik bus Damri. Akhirnya kami memutuskan naik bus Damri, tapi setelah di dalam dan menanyakan tarifnya (yang ternyata jauh dekat sama-sama Rp 25.000). 

Rugi donk ya, padahal kalau jauh itu bisa sampai Kota Makassar yang berjarak 20 km dari bandara. Inilah ujian awal bagi perjalanan kami, akhirnya dengan muka dikebalin kami keluar dari bus dan berjalan kaki. Hahaha.

Info Update: Shuttle bus gratis dari bandara sampai cabang luar bandara sekarang sudah tidak ada lagi. Jadi alternatif jika ingin hemat adalah jalan kaki sejauh kurang lebih 2 km sampai cabang luar bandara dan naik pete-pete warna biru (angkot) sampai ke tempat tujuan.

Perjuangan harus berjalan kaki ditemani terik matahari Sulawesi ini akhirnya berakhir saat kami sampai di cabang luar bandara. Karena bandara ini sudah terletak di Kabupaten Maros, maka rencananya kami akan langsung melanjutkan perjalanan ke Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. Untuk menuju salah satu taman nasional Indonesia ini, bisa dilakukan dengan naik pete-pete warna biru dari cabang luar bandara sampai Pasar Maros (Rp 6000) dilanjut pete-pete dari Pasar Maros sampai ke pintu masuk Bantimurung (Rp 4000). Dari pintu masuk Bantimurung ini, bisa dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 500 meter sampai ke gerbang masuk Bantimurung. Kalau males jalan kaki, minta tolong supir pete-pete aja untuk ngantarin sampai gerbang masuk Bantimurung. Biasanya supirnya mau n gratis.

Bantimurung merupakan salah satu taman nasional yang digunakan sebagai tempat penangkaran kupu-kupu terbesar di Indonesia. Wisatawan lokal yang ingin memasuki taman ini diwajibkan membayar Rp 20.000/orang. Segera kami menitipkan tas-tas besar di penjaga loket dan melanjutkan petualangan menjelajah Bantimurung dengan tas daypack.

Bantimurung ini merupakan suatu kompleks taman nasional yang bisa dibagi menjadi beberapa destinasi menarik seperti Air Terjun Bantimurung, Gua Batu, Gua Kasi Kebo, Gua Mimpi dan Musium Penangkaran Kupu-Kupu. Untuk masuk ke destinasi terakhir membayar kembali Rp 5000. Cukup murah karena di dalamnya kita bisa melihat berbagai jenis kupu-kupu dari berbagai family yang sudah diawetkan. Oya, mulai bulan Juni 2014 TN Bantimurung akan menyediakan fasilitas shuttle car gratis untuk keliling kompleks taman.


Destinasi pertama kami adalah Air Terjun Bantimurung. Air terjun ini merupakan daya tarik utama karena limpahan air sangat deras dengan ketinggian sekitar  5 meter yang mengalir dari bebatuan gamping. Satu hal yang menarik juga karena bebatuan yang kita injak tidak licin jadi cukup aman untuk bermain di bawahnya, hanya banyak terdapat sinkhole kecil jadi harus cukup berhati-hati dalam melangkah. Di Air Terjun ini juga disewakan ban jika ingin meluncur dari atas ke bawah, benar-benar seru. 




Destinasi kedua kami adalah Gua Batu. Untuk menuju gua ini, kami harus berjalan sejauh kurang lebih 700 meter ke arah sebelah kiri atas air terjun, dengan jalan yang menanjak kemudian menjadi datar. Perjuangan yang cukup melelahkan karena suhu udara yang begitu panas. Gua Batu ini merupakan sebuah gua alami yang terbentuk oleh proses pelarutan pada batuan gamping. Biasanya sebelum masuk wisatawan akan dikerubungi oleh jasa penyewa lampu senter maupun pemandu. Jika ingin cara backpacker abis sebaiknya membawa senter sendiri, atau simpelnya pakai senter HP. Wajib ya bawa senter, karena gelap banget gan. Di dalamnya banyak terdapat stalaktit, stalagmit maupun pilar dengan beraneka macam ukuran dan bentuk. Menarik sekali karena kita bisa melihat keindahan alam bebatuan gamping yang sungguh menawan.








Destinasi ketiga kami adalah Gua Mimpi. Wuahh, untuk kesini benar-benar dibutuhkan perjuangan ekstra keras karena jalan yang terus dan terus menanjak sejauh kurang lebih 800 meter ke arah kanan atas air terjun. Sejak dari bawah, kami sudah dibuntuti oleh beberapa pemandu yang menawarkan jasa untuk memandu kami menjelajah Gua Mimpi. Karena sedikit kesal, ane bilang aja bahwa ane udah pernah ke Gua Mimpi dan sudah hafal jalannya. Hahaha. Satu persatu dari mereka berguguran mengikuti kami. Interior Gua Mimpi tidak jauh beda dengan Gua Batu, hanya lebih sepi pengunjung serta lebih luas dan besar. Kenampakan stalaktit, stalagmit maupun pilar masih mendominasi. Interior gua ini terlihat masih disempurnakan dengan dibangunnya tangga-tangga untuk turunan curam dan pavling-pavling untuk jalan. Saat jalan sudah habis, kami ketakutan dan memutuskan untuk kembali. Hahaha.





Selesai dari Gua Mimpi, kami pun kembali turun ke bawah dan mengunjungi Museum Penangkaran Kupu-Kupu. Dengan membayar Rp 5000/orang kami sudah bisa melihat ratusan koleksi kupu-kupu dari berbagai family yang sudah diawetkan. Kupu-kupu tersebut sebagian besar berasal dari Sulawesi, namun ada juga yang berasal dari luar pulau.



Sangat indah. Selain Museum, biaya masuk yang tergolong cukup murah tersebut juga termasuk ke beberapa tempat penangkaran kupu-kupu yang berada di sampingnya. Disini kami dipandu oleh anak penjaga tiket yang sangat cerdas menerangkan tentang bagaimana kupu-kupu di Bantimurung dikembangbiakkan. Kupu-kupu tersebut dikembangbiakkan dalam

Selain itu, si anak cerdas juga bilang bahwa di sepanjang sungai di samping penangkaran biasa ditemukan iguana saat musim hujan. Kami sempat melihat 1 iguana saat itu. Karena merasa sangat senang dengan kecerdasannya, kami pun memberinya uang 5000 buat jajan. Dan saat itu ane sempat berpesan untuk menyuruhnya kuliah biologi hehehe.

Akhirnya selesailah kunjungan kami di Bantimurung dan kami menaiki pete-pete Rp 13.000 untuk menuju kota Makassar dilanjut dengan pete-pete lainnya Rp 4000 untuk menuju daerah dekat Pantai Losari.

Perjuangan kami tidak sampai disini karena kami masih harus mencari penginapan yang kami belum booking dan tahu alamatnya. Akhirnya total kami berjalan sejauh total 8 km hari ini dan berakhir di penginapan It Inn dengan rate Rp 200.000/malam untuk bertiga orang. Fasilitasnya ada AC, Kamar Mandi dalam, king bed, TV. Cukup fair. Apakah perjuangan berjalan kaki sampai disini saja? Tentu saja tidak karena kami masih punya agenda lain yakni mengunjungi Pantai Losari (yang berjarak sekitar 500 meter dari penginapan) serta mencicipi salah satu kuliner khas Makassar. Namanya juga liburan kejar tayang hehehe.

Selesai mandi dan beristirahat sejenak, malamnya kami lanjutkan berjalan kaki menuju Pantai Losari. Malam itu suasana di sekitar Pantai cukup ramai dan pencarian kuliner kami berhenti di sebuah warung Mie Titi yang cukup ramai pengunjung. Disana kami memesan Mie titi, Mie Kuah dan Nasi Goreng untuk dimakan bertiga. Mie Titi ini bahan dasarnya berupa mie coklat kering yang ditaburi oleh sayur-sayuran campur daging macam cap cay. Rasanya sangat muantap.

Selesai dari sini kami meluncur ke anjungan Pantai Losari. Disana kami sempat berfoto-foto dengan tulisan raksasa PANTAI LOSARI maupun jajan makanan setempat. Di jalan pulang kami sempat membeli pisang epe, salah satu kuliner khas Makassar juga. Awalnya ane sempat kira kalau pisang epe itu rasanya cuma satu aja yaitu rasa manis gula aren, tapi ternyata rasanya ada macem-macem kaya coklat n durian. Cara membuatnya cukup sederhana, yakni pisang dibelah dua dan dibakar, kemudian diberi rasa sesuai permintaan pembeli. Satu porsi dihargai 16ribu rupiah.

Beberapa saat kemudian akhirnya ane sampai penginapan dan istirahat untuk mengumpulkan tenaga kembali karena esok akan menuju Tanjung Bira. Makassar rock and roll!!