Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work

8.25.2015

[PART 6] Tinta Hindustan : Taj Mahal


“Aku menangis menyaksikan sejarah dibangunnya Taj Mahal seakan menjadi nyata di depan mataku melalui kesempurnaan ukiran yang penuh cinta....”


Taj Mahal
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Taj Mahal...
Mataku begitu terpesona saat memandang bangunan itu secara langsung untuk pertama kalinya.. Bangunan itu begitu megah menjulang dari bangunan di sekitarnya dengan latar aliran Sungai Yamuna.. Sebuah monumen cinta yang dibuat oleh Shah Jahan kepada istrinya yang tercinta Arjumand Banu Begum (Mumtaz Mahal).. Sebuah simbol cinta abadi, yang tercermin pada keelokan, kesimetrisan dan ukiran-ukiran yang begitu sempurna..


Pagi itu cukup cerah di Kota Agra. Dengan langkah sigap, setelah sarapan yang sangat tidak mengenyangkan –honey toast— aku segera melangkahkan kakiku keluar dari penginapan menuju jalanan Agra yang ruwet. Dengan menanyakan arah kepada beberapa orang, kami pun sampai di tempat pembelian tiket Taj yang berjarak 1 km dari Taj itu sendiri. Harga tiket masuk Taj untuk warga India adalah 20 Rs dan untuk turis asing 750 Rs, jujur aku sangat membenci sistem ‘rasisme untuk harga tiket’ seperti ini. Karena itulah dengan iseng aku mencoba menyamar jadi warga India saat beli tiket. Tapi itu semua gagal total karena mereka mengajak bicara Bahasa Hindi, byarr, jadilah deh 750 Rs keluar dari kantong. Hehehe.


Loket pembelian tiket Taj Mahal (South Gate)
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Jika mau belajar kesabaran, pergilah ke India”. Mungkin itu suatu pepatah baru yang bisa aku sampaikan. Setelah selesai membeli tiket dan menitipkan barang (untuk ke Taj Mahal dilarang membawa barang selain kamera dan benda berharga seperti dompet) , tentulah para guide beraksi. Harga para guide tersebut bervariasi, dari yang dekat tempat pembelian tiket menawarkan 900 Rs sampai yang sudah di dekat gerbang masuk Taj 200 Rs. Kuakui, orang India memang sangat ulet dalam bekerja. Mereka akan terus mengejar, merayu dan merayu turis bahkan sampai terlihat memuakkan. Tapi untunglah aku berhasil menepis semua rayuan itu dan sampai di gerbang masuk Taj Mahal. Saat di tempat pembelian tiket, turis akan diberi sebotol air mineral dan plastik pembungkus kaki. Saat berjalan di lantai marmer Taj Mahal, plastik pembungkus kaki itu harus digunakan.

Saat masuk ke lantai marmer Taj Mahal, plastik pembungkus kaki ini harus digunakan.
Sumber: Dokumentasi Pix San

Seperti yang kita tahu Taj Mahal merupakan salah satu tujuan wisata ngetop di dunia karena sejak 1983 dinobatkan sebagai warisan budaya dunia UNESCO (World Heritage Site), maka pemerintah Kota Agra pun cukup sigap dengan menyediakan Free Shuttle Car dari tempat pembelian tiket sampai 200 m menuju tiket masuk. Perjalanan singkat ini dilalui selama 5 menit dan akhirnya aku sampai di gerbang pemeriksaan tiket yang dijaga oleh tentara. 

Naik Free Shuttle Car dari tempat pembelian tiket ke gerbang Taj Mahal
Sumber: Dokumentasi Pix San

Saat itu aku bersyukur berat nggak jadi ngaku jadi warga India saat beli tiket, wah bisa berabe kalau ketahuan tentara aku bohong soalnya gambar tiketnya beda. Hahaha. Saat itu pemeriksaan ada dua tahap. Tahap pertama semua turis harus melalui pintu bersensor pendeteksi logam dan tahap kedua berupa pemeriksaan fisik oleh tentara. Pemeriksaan fisik ini dilakukan oleh tentara wanita untuk turis wanita dan tentara pria untuk turis pria, dengan cara diraba dari atas sampai bawah. 


Oiya sebelumnya aku mau cerita sedikit tentang sejarah dibangunnya Taj Mahal ini. Jadi pembangunan Taj Mahal itu membutuhkan waktu 22 tahun dari tahun 1631-1653 di bawah perintah Shah Jahan yang diperuntukkan sebagai makam untuk istri tercintanya, Muntaz Mahal (Arjumand Banu Begum). Sebuah waktu yang sangat cepat untuk pembangunan makam semegah ini kan? Hal itu dikarenakan Shah Jahan mempekerjakan hampir 20.000 pekerja dan ribuan pemahat batu dalam masa pembangunannya. Arsitek-arsitek terbaik dari Persia pun didatangkan untuk memberikan desain terbaik yang sesuai dengan keinginan Shah Jahan. Arsitek-arsitek tersebut antara lain Abd ul-Karim Ma'mur Khan, Makramat Khan dan Ustad Ahmad Lahauri, dimana nama terakhir merupakan arsitek kepala.

Akhirnya sampai juga aku di kompleks Taj Mahal. Oiya sebelumnya gerbang masuk Taj Mahal ini ada 3 yaitu pintu timur, pintu barat dan pintu selatan. Pada bagian utara (kiri-berwarna biru) tidak terdapat gerbang masuk karena terdapat Sungai Yamuna. 


Taman indah nan bersih sebelum masuk gerbang selatan Taj Mahal.
Sumber: wikipedia


Gerbang masuk ini mendapat sebutan The Great Gate (Darwaza-i rauza) dan dibangun dengan sangat megah dari perpaduan antara batupasir merah dan marmer putih setinggi sekitar 15 meter. Lengkungan busur pada bagian depan yang dalam Bahasa Persia disebut iwan mirip dengan iwan yang ada pada bagian depan mausoleum. Pada marmer putihnya, dihiasi dengan ukiran-ukiran tumbuhan yang disebut Parchin Kari serta kaligrafi Qur'an. Pada bagian paling atas, terdapat kubah-kubah kecil dari marmer yang melambangkan percampuran budaya Islam, India, Persia dan Turki Ottoman.

The Great Gate (Darwaza-i rauza)
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Parchin Kari pada dinding marmer Darwaza-i rauza
Sumber: wikipedia

Setelah berfoto-foto sejenak, dengan langkah sigap aku segera memasuki pishtaqs (Bahasa Persia untuk gerbang masuk/jalan masuk menuju iwan) dan saat itulah aku melihat Taj Mahal untuk pertama kalinya. 

Terimakasih Tuhan sudah mengizinkanku kesini..
Sumber: Dokumentasi Pix San

Aku tidak percaya, bangunan yang saat aku kecil hanya aku lihat di atlas benar-benar berdiri di depan mataku dengan megahnya. Taj Mahal begitu megah menjulang dan entah kenapa terlihat sangat...hidup, padahal aku tahu jelas itu sebuah makam. Terlihat empat minaret dengan ketinggian lebih dari 40 m yang berdiri tegak mengelilingi mausoleum utama. Menurut referensi dari Wikipedia, minaret ini menunjukkan kegemaran designer tentang kesimetrisan. Minaret ini didesain dengan tujuan tertentu yaitu sebagai elemen tradisional dari masjid yang digunakan oleh muezzin (orang yang dipilih untuk mengumandangkan adzan) untuk memanggil Umat Islam shalat. Menurut situs tajmahal.com, keempat minaret ini menggambarkan tangga untuk menuju langit/surga. Mungkin dimaksudkan sebagai tangga bagi Muntaz Mahal mencapai surga. Penggunaan minaret ini diduga merupakan pengaruh kebudayaan Kesultanan Ottoman yang selalu membangun minaret mengelilingi masjid. Setiap minaret dibagi menjadi 3 bagian dengan panjang yang sama oleh balkon yang membundar mengelilingi menara. Pada bagian atas menara terdapat balkon terakhir yang diatapi oleh chattri (lubang-lubang) yang sama dengan desain pada makam. Chattri tersebut memberikan elemen dekoratif yang sama dengan desain lotus yang diatapi oleh bingkai finial.
Minaret pada Taj Mahal
Sumber: taj-mahal.net

Di tengah-tengah keempat minaret tersebut terdapat mausoleum utama yang merupakan fokus utama dari kompleks Taj Mahal. Mausoleum raksasa ini berdiri di atas struktur dasar (base) yang merupakan kubus multi ruang dengan pojokan miring, membentuk oktagon unequal dengan panjang sekitar 55 m pada keempat sisinya.

Struktur bangunan utama Taj Mahal yang dikelilingi 4 minaret

Setiap sisinya, terdapat pishtaq atau kubah melengkung raksasa yang dibingkai oleh delapan iwan dengan bentuk yang sama. Iwan pada bagian terluar melengkung sehingga setengah menghadap sisi sebaliknya. Motif pada pishtaq ini sama persis dengan motif iwan sehingga membuat desainnya simetris sempurna pada semua sisi bangunan. Bangunan utama tersebut merupakan tempat sarkofagus tiruan Mumtaz Mahal dan Shah Jahan, dimana makam utamanya berada di tingkat lebih bawah.

Pada bagian atas mauseloum ini, terdapat kubah (onion dome) yang merupakan salah satu kenampakan paling spektakuler. Ketinggiannya mencapai 35 meter, berdiri di atas cylindrical drum yang ketinggiannya mencapai 7 meter. Pada bagian atas onion dome, terdapat dekorasi lotus untuk lebih menonjolkan ketinggiannya. Bentukan onion dome ini ditekankan dengan dibuatnya empat onion dome berukuran lebih kecil yang disebut chattris. Chattris terletak pada bagian pojok onion dome utama.

Elemen dekorasi dari bawah ke atas: Onion Dome, Lotus, Finial, Bulan
Sumber: Wikipedia

Dome serta chattris tersebut dipuncaki oleh finial berbingkai emas yang merupakan elemen dekoratif campuran budaya Persia dan Hindustan. Namun pada awal abad 19, finial tersebut diganti oleh bingkai perunggu. Pada bagian paling atas finial terdapat simbol bulan, merupakan motif khas Islami dimana ujungnya mengarah ke surga. Karena peletakan simbol bulan pada puncak menara utama, ujung simbol bulan dan titik finial berkombinasi membentuk trident shape, mengingatkan pada simbol Hindu tradisional Shiva.

Charbagh (taman) di sepanjang jalan masuk Taj Mahal
Sumber: Dokumentasi Pix San



Sebelum masuk ke Mauseloum, kita diharuskan melewati charbagh (taman) sepanjang kurang lebih 100 meter dengan hiasan air mancur yang di sepanjang tepi kolam. Disinilah spot foto favorit para wisatawan karena bisa mendapatkan sudut Taj Mahal dengan frame taman dan air mancur. Saat kami kesana, air mancurnya sedang dalam perbaikan.


Jalan setapak pada taman untuk menuju Taj Mahal ada dua yaitu sebelah kiri  dan kanan. Sebelah kiri taman digunakan untuk jalur masuk turis asing sedangkan jalur kanan taman untuk turis lokal. Aku sempat berpikir, “Untuk apa ya dipisah begini?”. Setelah melalui jalur masuk, sebelum naik ke mauseloum utama harus menaiki tangga kecil. Nah, sebelum masuk tangga kecil inilah plastik pembungkus kaki harus digunakan. Plastik pembungkus kaki ini bertujuan supaya tidak mengotori ataupun merusak lantai marmer Taj Mahal. Untuk turis lokal, mereka tidak diberikan plastik pembungkus kaki, caranya cukup dengan telanjang kaki.

Sebelum naik ke tangga, aku sempat memperhatikan ukiran Parchin Kari yang ada di dinding bawah Taj Mahal. Ukiran tersebut berbentuk seperti daun dengan lengkungan yang sempurna dan ukiran kotak pada bagian atasnya. Interpretasiku dahulu di lekukan ukiran tersebut pastilah terdapat barang berharga seperti batu mulia. Interpretasiku terinspirasi dari novel Taj Mahal yang aku baca,  Shah Jahan mengatakan bahwa makam ini harus dibuat dengan sangat indah dan terlihat hidup, dengan marmer dan batu mulia yang paling berkualitas dimana saat itu biaya bukan menjadi masalah besar untuk Kerajaan Mughal. 
Interpretasiku di dalam lekukan ini pastilah dahulu ada barang berharga seperti batumulia
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Dengan semangat membara, aku melanjutkan perjalananku ke atas untuk masuk ke mauseloum utama. Di bagian depan mauseloum utama ini terdapat sembilan lengkungan, dimana delapan lengkungan berukuran lebih kecil (iwan) dan terletak masing-masing empat buah di samping pishtaqs (lengkungan utama yang berukuran paling besar). Pishtaq merupakan jalur masuk utama ke mauseloum, dimana di sepanjang dinding luarnya terukir kaligrafi Qur'an yang menakjubkan.
Kaligrafi Quran pada bagian samping pishtaqs
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Meskipun pishtaqs  yang merupakan jalur masuk utama ke mauseloum ini mempunyai ukuran paling besar, tetapi sebenarnya pintu masuk ke mauseloum berukuran kecil dan berdinding rendah. Hal memang dimaksudkan seperti itu, supaya setiap orang yang hendak masuk mauseloum bersikap menunduk untuk menghormati makam Shah Jahan dan permaisurinya, Muntaz Mahal. Sebelum masuk ke makam, aku sempat memperhatikan ukiran di samping pintu masuk. Ukiran tersebut berupa berbagai macam bunga beserta daun dan tangkainya yang diukir pada marmer putih dengan begitu sempurna. Di sekeliling ukiran bunga mawar tersebut, terdapat ukiran Parchin Kari.
Ukiran bunga yang dikelilingi Parchin Kari
Sumber: Dokumentasi Pribadi

            Dengan sikap menunduk, masuklah aku secara perlahan ke mauseloum utama bersama para turis lainnya. Didalam mauseloum utama ini dilarang mengambil gambar maupun video. Saat aku masuk, yang aku jumpai pertama adalah suatu bangunan luas yang gelap dan lembab, serta terkesan dingin. Aku terus berjalan sebelum akhirnya menemukan apa yang menjadi inti dari bangunan megah ini yakni makam Shah Jahan dan permaisurinya, Mumtaz Mahal.
Pemandangan di dalam mauseloum..
Sumber: Internet

      Makam itu berupa dua sarkofagus yang berdampingan, sarkofagus Shah Jahan disebelah kiri dan berukuran sedikit lebih besar dan tinggi dari sarkofagus Muntaz Mahal yang berada di sebelah kananya. Sarkofagus tersebut terbuat dari marmer putih dan penuh ukiran Parchin Kari.
Inilah kenampakan sarkofagus Shah Jahan (kanan) dan Mumtaz Mahal (kiri)
Sumber: Dokumentasi Pribadi (dari poster)

 Sarkofagus tersebut dikelilingi oleh ukiran kayu setinggi 1,7 meter. Ukiran tersebut sangat rapi, rapat dan lagi-lagi menakjubkan. Meskipun ingin sekali rasanya mengambil foto mengabadikan ini semua, tak ingin sekalipun jariku meraih kamera untuk menfotonya. Pikiranku dipenuhi oleh...kesedihan dan rasa takjub. Saat itu aku mulai merasakan, ‘Ah, begitu besar cinta Shah Jahan kepada Mumtaz Mahal’ sampai dia melakukan semua ini hanya untuk sebuah makam. Sebuah makam dimana Shah Jahan tidak bisa melihat bentuk akhirnya karena dia dipenjara oleh anaknya yang memberontak, Aungrazeb sampai kematiannya. Cinta yang begitu besar itu terlihat dari kesempurnaan bangunan ini yang hampir tanpa cacat, kesempurnaan ukiran, kemegahan, keanggunan, rasa sayang... Hampir semua orang tahu bahwa Mumtaz Mahal meninggal dunia karena melahirkan anaknya yang ke-13. Tapi tidak semua orang tahu bahwa saat itu Shah Jahan tidak disampingnya saat istrinya meninggal dikarenakan dia masih berada di medan perang membawa panji Kerajaan Mughal. Saat itu aku mulai berpikir bagaimana perasaan Shah Jahan sewaktu dia pulang dan mengetahui istri yang paling dicintainya sudah terbujur kaku. Seberapa besar kesedihan yang harus ditanggungnya? Seberapa air mata yang dikeluarkannya? Seberapa semangat yang tersisa dalam dirinya? Saat itu tanpa sadar aku mulai menitikkan airmata, aku menangis...Aku menangis menyaksikan sejarah dibangunnya Taj Mahal seakan menjadi nyata di depan mataku melalui semua kesempurnaan ini. Aku menangis membayangkan bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sudah menjadi separuh bagian dari diri kita, sungguh tragis.

Bagaimanapun aku terus melanjutkan perjalanan ini. Sambil mengusap air mataku secara sembunyi-sembunyi, aku mulai melihat beberapa turis yang mengambil foto di dalam mauseloum dimana hal itu jelas-jelas dilarang. Aku kesal. Sungguh aku kesal dengan orang-orang itu yang mungkin tidak mengetahui arti kata peraturan. Tetapi yang kulakukan hanya duduk terdiam sambil sesekali mengawasi beberapa turis disekitarku.
Beberapa saat kemudian aku beranjak keluar dari mauseloum dan menuju ke sisi Taj Mahal yang menghadap Sungai Yamuna. Sungai Yamuna terlihat mengalir dengan sangat tenang, setenang bangunan ini. Sungai bersejarah, yang merupakan saksi bisu dibangunnya Taj Mahal....
Sungai Yamuna, saksi bisu dibangunnya Taj Mahal
Sumber: Dokumentasi Pribadi

0 comments:

Poskan Komentar