Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work

9.04.2016

[3] Jepara, 6 Mei 2016 : Berangkat atau tidak?

Jam sudah menunjukkan pukul 13.00 tapi belum ada tanda-tanda kedatangan kapal Bahari Ekspress. Sesuai jadwal yang tertera di tiket, seharusnya kami sudah di dalam kapal dan bersiap berangkat sekarang. Tapi hal ini bisa dimaklumi karena dengan membludaknya para traveler/backpacker yang akan ke Karimunjawa, Bahari Ekspress harus bolak balik Jepara-Karimunjawa-Jepara sampai dua kali sehari.

Kami kembali menunggu di warung, sembari memesan beberapa gelas es untuk mengusir dahaga yang seakan tiada habis. Udara benar-benar panas dan gerah. Memang benar ungkapan yang selama ini beredar, menunggu adalah kegiatan yang paling membosankan.

"Eh itu kapalnya udah dateng," kata Arin yang langsung membuatku bersemangat kembali.

Kami segera meninggalkan warung dan masuk ke area tunggu. Di ruangan yang tidak terlalu luas tersebut terlihat ratusan traveler yang menunggu, sampai mengular ke luar ruangan. Udara panas masih menyiksa. Bulir-bulir keringat tidak hentinya meleleh di dahiku.

'Begitu berat perjuangan liburan ke tempat mainstream di libur panjang seperti ini...Seharusnya tidak usah kesini saja.....Aku berlibur ingin mencari kesenangan, tapi nyatanya justru harus menghadapi hal-hal seperti ini dari pagi.....'

Aku mulai kesal dan menyesal melaksanakan perjalanan ini. Mental backpacker-ku memang benar-benar belum teruji sepertinya. Dengan memanggul dua tas, aku masih antri berdiri di pintu keluar. Masih belum ada tanda-tanda petugas kapal memperbolehkan kami para penumpang masuk ke kapal. Kakiku mulai lelah berdiri, badanku lengket, mataku letih.

Antrian masuk ke Bahari Ekspress (GALUH PRATIWI)

Dalam penantian yang melelahkan, akhirnya semua penumpang dipersilahkan masuk ke kapal. Tidak mau menunggu lama lagi, aku segera mengajak Arin dan Ega masuk. Setidaknya kita bisa beristirahat di kapal. Tidak ada masalah berarti sampai kami melangkahkan kaki bersiap masuk kapal. Seorang petugas kapal paruh baya memeriksa tiketku dan mengangguk mempersilahkan aku masuk.

"Tiket tambahan di lantai dua, di atas," ujar seorang petugas kapal yang lain.

Kami mengikuti arahan tersebut. Well, tentu saja kami berharap akan mendapatkan tempat duduk yang layak seperti penumpang yang lain (karena kami pun membayar dengan harga yang sama). Sebuah tempat duduk di ruangan ber-AC mungkin akan bisa mengantarkan tidur untukku. Aku sangat lelah karena dari kemarin belum memejamkan mata.

Kami terus berjalan mengikuti backpacker lain yang juga memegang tiket tambahan. Naik ke lantai dua, aku mulai curiga karena kami berjalan terus sampai ke bagian buritan kapal.

'Lho?!'

Ternyata oh ternyata.....tempat duduk kami adalah buritan kapal. Ha ha ha........

Buritan tersebut terlihat sudah dipenuhi oleh puluhan traveler yang sudah masuk sebelum kami. Sudah tidak ada tempat sama sekali untuk kami.

Aku terus berjalan saja ke bagian geladak samping kapal. Yihaa! Ternyata masih kosong. Jangan ditanya, tempatnya sempit, tidak sampai satu meter. Tetapi setidaknya bisa untuk tempat kami bersandar dua jam ke depan. Aku berdesak-desakan dengan Arin dan Ega. Kaki mau selonjor pun susah, harus ditekuk.

Satu jam, dua jam sudah kami menunggu. Cerita hal ini dan itu sampai bibir mengering. Ada apa ini? Kenapa kapal tidak berangkat juga?

"Lhoh, itu kenapa ya kok ada kerumunan di bawah?" kata Arin.

"Eh iya apaan ya?"

Di pintu masuk kapal terlihat puluhan orang yang hendak masuk kapal tapi dilarang oleh petugas kapal. Padahal penampilan mereka necis-necis, sepertinya penumpang yang bahkan sudah mempunyai tiket utama sebelum kami.

Mereka tidak diperbolehkan masuk (GALUH PRATIWI)

"Jadi kalian mau kapal ini berangkat atau tidak?!" kata petugas kapal setengah membentak terhadap puluhan penumpang di belakangnya.

Aku benar-benar bingung. Apa yang terjadi?? Kenapa mereka yang mempunyai tiket utama justru tidak diperbolehkan masuk? Kenapa kami yang punya tiket tambahan justru dipersilahkan masuk begitu saja?

Perdebatan sengit antara calon penumpang yang membludak dengan petugas kapal terus terjadi. Bahkan beberapa penumpang terlihat menunjuk-nunjuk kami - penumpang tambahan yang duduk di geladak samping dan buritan kapal - memprotes kenapa kami bisa masuk sedangkan mereka tidak. Kami serasa dalam posisi yang membingungkan, kenapa mereka menyalahkan kami? Wong kami saja membayar dengan harga yang sama.

Bagaimanapun, kami tetap menyembunyikan wajah kami di balik payung. Entah apa yang kami sembunyikan, kami kan bukan penumpang gelap.

Perdebatan sengit terus terjadi, belum ada satupun penumpang yang diizinkan masuk oleh petugas kapal. Beberapa traveler yang frustasi dan kelelahan bahkan sudah terlihat kembali berjalan ke ruang tunggu. Sepertinya mereka menyerah.

"Gimana nih kita berangkat nggak?" kata Arin setengah merengek.

"Gimana kalau kita disuruh turun?" tambahnya lagi.

"Tenang aja Rin, kita tetep disini aja. Selama nggak ada perintah buat turun ya kita tetep disini aja," kataku menenangkan.

Semakin lama, tumpukan traveler yang mengantri masuk di pintu masuk kapal semakin sedikit. Mungkin mereka sudah terlalu frustasi dan kelalahan sejak pagi. Entah angin apa, tiba-tiiba saja petugas mempersilahkan beberapa penumpang tersebut masuk. Atau mereka yang punya tiket benar-benar resmi? Entahlah.

Beberapa penumpang yang lain terlihat menyusul masuk. Mereka yang menunggu di ruang tunggu mulai lari-lari kembali ke kapal. Rupanya kapal akan benar-benar segera diberangkatkan!

Oh my God, akhirnyaa.....!

***

Kapal Bahari Ekspress yang kami naiki membelah Laut Jawa dengan begitu gagahnya. Sesuai dengan namanya, tentunya kapal ini cepat. Lautan yang membentang 297 kilometer antara Pulau Jawa dan Pulau Karimunjawa ditempuh dalam waktu dua jam saja.

video
Bahari Ekspress membelah Laut Jawa (GALUH PRATIWI)

Angin tentu saja sangat kencang, apalagi bagi kami yang duduk di geladak sampaing kapal. Tapi kami bersyukur, setelah perjuangan dari pagi tadi, bisa naik kapal ini bahkan hanya di geladaknya adalah suatu hal yang sangat patut disyukuri.

Matahari mulai turun ke peraduannya. Pulau Karimunjawa mulai terlihat samar. Kapal Bahari Ekspress terus membelah lautan dengan kencangnya. Tidak ada keraguan, gagah berani.

Kami akhirnya sampai di Karimunjawa pukul enam malam. Pelabuhan terlihat sangat ramai. Banyak dari mereka yang sudah dijemput atau ditunggu agen travel. Tinggal berjalan ke penginapan dan beristirahat. Beda dengan kami yang bahkan belum memesan penginapan untuk malam ini. Entah masih ada atau tidak.

Pelabuhan Karimunjawa di kala senja (GALUH PRATIWI)

Kami berjalan saja mengikuti arus orang-orang yang keluar dari pelabuhan. Berjalan ke arah alun-alun, aku bertanya kepada seorang bapak yang langsung membantu kami mendapatkan penginapan. Sebuah penginapan sederhana berharga Rp 150.000/malam untuk bertiga. Cukup adil.

Malam itu tidak kami sempurnakan dengan makan sea food di alun-alun Karimunjawa untuk menutup hari. Esok kami akan melakukan kegiatan utama di Karimunjawa, snorkeling dan berkeliling pulau.

Sea food di alun-alun Karimunjawa (GALUH PRATIWI)

Sea food bisa dimasak dengan berbagai macam pilihan (GALUH PRATIWI)

Penjual oleh-oleh di Alun-Alun Karimunjawa (GALUH PRATIWI)

Aku benar-benar di Karimunjawa!

0 comments:

Poskan Komentar