Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work

9.19.2016

[PART 16] Tinta Hindustan: Sujata Garh, Perempuan Penolong Sang Buddha

Nama Sujata Garh mungkin tidak terlalu banyak didengar. Siapa itu Sujata Garh? Mungkin masih banyak yang akan menggelengkan kepalanya ketika ditanya siapa dia. Bagi umat Buddha di Indonesia maupun di India, mungkin sudah ada yang pernah mendengar. Ya, Sujata Garh adalah seorang perempuan penolong Buddha Gautama. Sujata Garh adalah perempuan penolong yang membantu Buddha Gautama memperoleh pengetahuan baru bahwa penyiksaan diri dan perendahan diri yang terlalu ekstrim bukanlah jalan yang tepat untuk memperoleh pencerahan. Jalan yang tepat untuk mencapai nirwana adalah 'jalan tengah'. Semua pengetahuan itu disadari oleh Buddha Gautama saat menerima tawaran puding beras dari Sujata Garh disaat tubuhnya sudah lemah dan kelaparan karena berpuasa ekstrim sembari bermeditasi. Setelah kejadian ini, Buddha Gautama pergi untuk bermeditasi di bawah pohon Bodhi dan kemudian tercerahkan.

Penjelasan mengenai stupa Sujata Garh (GALUH PRATIWI)

Mobil yang kami tumpangi meluncur menuruni Bukit Dungeshwari menuju dataran luas di sebelah timur Kota Bodh Gaya. Perjalanan menapaki jejak sejarah Sang Buddha kami lanjutkan. Supir memelankan laju mobil di Desa Bakraur. Disinilah dibangun sebuah stupa untuk menandai lokasi kediaman Sujata Garh. Sebuah stupa sederhana dari tumpukan batu bata merah yang berbentuk relatif melingkar. Terlihat sederhana, tetapi tentulah memiliki arti mendalam bagi Umat Buddha sedunia. Hal yang unik, terdapat sebuah pohon peepal tumbuh di bagian atas stupa ini untuk mengingatkan pengunjung hubungan antara Buddha dan pohon suci.

Stupa Sujata Garh dengan pohon peepal di bagian tengah, di sekelilingnya terlihat pohon lontar (GALUH PRATIWI)

Stupa Sujata Garh terbuat dari tumpukan batu bara merah (GALUH PRATIWI)

Stupa Sujata Garh (GALUH PRATIWI)

Selain stupa, tidak banyak hal lain yang bisa dilihat disini. Kami menghabiskan waktu setengah jam kemudian untuk berfoto dan mengelilingi stupa. Pada bagian luar stupa, terlihat beberapa pengemis yang mengharapkan rupee dari para turis. Sepertinya mereka sudah hafal, kebanyakan turis yang kesini tentulah umat Buddha yang melakukan ziarah, sehingga mudah mengeluarkan uang. Aku memberinya beberapa rupee, dan bergegas menuju mobil untuk menuju tujuan berikutnya, Mahabodhi Temple.

Kondisi di sekitar Stupa Sujata Garh, mirip dengan NTT ya? Tapi ini di Bodhgaya, India. (GALUH PRATIWI)

0 comments:

Poskan Komentar