Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work

10.04.2013

Geomorfologi Regional Pegunungan Serayu Selatan

Mandala Pegunungan Serayu Selatan  merupakan bagian dari Cekungan Jawa Tengah Selatan yang terletak di bagian selatan propinsi Jawa Tengah. Mandala ini merupakan geoantiklin yang membentang dari barat ke timur sepanjang 100 kilometer dan terbagi menjadi dua bagian yang dipisahkan oleh lembah Jatilawang yaitu bagian barat dan timur.

Seperti Pegunungan Kulonprogo, Mandala Pegunungan Serayu Selatan merupakan kulminasi dari geoantiklin di Jawa. Jika Pegunungan Kulonprogo membentuk kubah terpancung dengan sumbu mengarah Utara-Selatan, Pegunungan Serayu Selatan mempunyai sumbu mengarah Barat-Timur. (Van Bemmelen, 1949 )

Bagian barat dibentuk oleh Gunung Kabanaran (360 m) dan bisa dideskripsikan mempunyai elevasi yang sama dengan Zona Depresi Bandung di Jawa Barat ataupun sebagai elemen struktural baru di Jawa Tengah. Bagian ini dipisahkan dari Zona Bogor oleh Depresi Majenang. (Van Bemmelen, 1949)

Bagian timur dibangun oleh antiklin Ajibarang (narrow anticline) yang dipotong oleh aliran Sungai Serayu. Pada timur Banyumas, antiklin tersebut berkembang menjadi antiklinorium dengan lebar mencapai 30 km pada daerah Lukulo (selatan Banjarnegara-Midangan 1043 m) atau sering disebut tinggian Kebumen (Kebumen High). Pada bagian paling ujung timur Mandala Pegunungan Serayu Selatan dibentuk oleh kubah Pegunungan Kulonprogo (1022 m), yang terletak diantara Purworejo dan Sungai Progo. (Van Bemmelen, 1949).
  

   
                                       
             Gambar 1. Fisiografi Jawa Tengah – Jawa Timur (Van Bemmelen, 1949 dengan modifikasi)

Cekungan Jawa Tengah Selatan secara fisiografi terdiri dari beberapa tinggian dan rendahan yang pembentukannya dikontrol oleh proses endogenik maupun proses eksogenik. Tinggian dan rendahan dari barat ke timur yaitu Tinggian Gabon, Rendahan Citanduy, Tinggian Besuki, Depresi Majenang, Depresi Wangon, Tinggian Majenang, Rendahan Kroya, Tinggian Karang Bolong, Rendahan Kebumen, Tinggian Kebumen dan Tinggian Kulonprogo.

Gambar 2. Fisiografi tektonik Jawa Tengah bagian selatan (Sujanto & Roskamil, 1975)  

Proses endogenik yang paling berperan membentuk fisiografi daerah ini merupakan dua sesar besar yaitu sesar geser sinistral yang memanjang dari Kebumen sampai Muria dan sesar geser dekstral yang memanjang dari Cilacap sampai Pamanukan. Kedua sesar besar tersebut bertemu pada Jawa Tengah bagian selatan membentuk zona segitiga (triangle zone) yaitu suatu zona dimana gaya tektonik terkunci sehingga mengakibatkan pengangkatan pada bagian pusat pertemuan dan sebagai implikasinya terdapat zona isostasi rebond pada bagian utaranya dimana gaya tektonik dilepaskan sehingga membentuk topografi yang relatif datar.

Gambar 3. Sesar geser dekstral Lematang Cilacap dan sesar geser sinistral Kebumen-Meratus sebagai pengontrol utama fisiografi Pegunungan Serayu Selatan (Sujanto & Roskamil, 1975)  

Untuk daerah Kebumen sendiri, Asikin dkk (1992) membagi menjadi 3 satuan geomorfologi yaitu perbukitan berkerucut, perbukitan bergelombang daerah karst dan dataran rendah.

·         Perbukitan kerucut
Daerah ini didominasi oleh perbukitan berbentuk kerucut terpancung dengan kerucut kecil di puncaknya, baik tunggal maupun ganda. Morfologi kerucut kecil tersebut dibentuk oleh batuan terobosan atau intrusi. Pada umumnya satuan ini ditempati oleh litologi berupa breksi dari Formasi Gabon.

·         Perbukitan bergelombang daerah karst
Perbukitan ini berkembang pada daerah dengan litologi batugamping, dengan ciri perbukitan-perbukitan berkerucut kecil dengan lembah yang curam.

·         Dataran rendah
Dataran ini meliputi Dataran Gombong di bagian timur dan Dataran Kroya di bagian barat dengan litologi penyusun pasir lempungan.

0 comments:

Poskan Komentar