Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work

10.03.2013

[PART 1] Tinta Hindustan : Ributnya New Delhi

Delhi
21 Agustus 2012

              Semangat membara, nggak sabar untuk memulai petualangan, nggak sabar menunggu hari esok!!

              Ketiga perasaan itulah yang gue rasain saat pesawat Malaysia Airlines MH 190 yang gue tumpangi mendarat dengan sempurna di bandara Indira Gandhi New Delhi. Gue bersyukur berat semua penerbangan gue hari itu lancar, karena jujur, hal yang paling gue takutin saat naik pesawat adalah take off dan landing. Jantung gue selalu berdegup kencang jika menunggu kedua hal itu. Btw, bagi anak kampung kayak gue, bisa naik pesawat kaya Malaysia Airlines hasil transferan Air Asia sungguh merupakan pengalaman tak terlupakan. Bagaimana ceritanya sampai gue bisa ditransfer ke Malaysia Airlines? Lihat ceritanya disini.

Pelayanan di sepanjang perjalanan begitu sempurna yaitu staffnya super duper ramah, dikasi makanan yang macem-macem, ditawari minum sepanjang jalan (mulai dari jus, bir, susu, teh, dll) --> tentu aja gue milih bir, eh,,sama dikasi tipi kecil dan headset pribadi. Perjalanan ini sempat disertai dengan hujan lebat yang terlihat dari kaca jendela disamping gue. Turbulensi sesekali ada tapi nggak terlalu menakutkan. Perjalanan ke New Delhi dari Kuala Lumpur ditempuh selama 5 jam, dan kedatangan gue disambut oleh hujan rintik-rintik yang berhenti begitu kaki gue menginjak India untuk pertama kalinya.

Welcome to India :-)
Sumber: dokumentasi pribadi

Unik, aku baru menjumpai disini (Bandara Indira Gandhi). Ini adalah petunjuk untuk masuk toilet.
Sumber: dokumentasi pribadi Sony (my travelmate)

Sambutan Bandara Indira Gandhi New Delhi, perhatikan bahwa setiap tangan mempunyai posisi yang berbeda
Sumber: dokumentasi pribadi Sony (my travelmate)

Bikin visa on arrival dulu mas bro
Sumber: dokumentasi pribadi 

 Setelah pengurusan visa on arrival yang lumayan lama, akhirnya gue naik bus umum sambung auto rickshaw menuju pusat backpacker (Paharganj). Kesan pertama gue tentang India waktu itu adalah: biasa aja. Jalanan macet seperti halnya Jakarta, orang-orang banyak berlalu lalang, udara lembab dan panas karena saat itu memang sedang musim hujan.

 Bencana terjadi sewaktu tukang rickshaw gue diberitahu penduduk setempat (entah penduduk setempat atau penipu) bahwa jalanan Main Bazarr Paharganj ditutup karena sedang ada festival (Ini BOHONGG) dan implikasinya semua hotel disana tutup. Dengan bodohnya kami percaya dan akhirnya dibawa ke sebuah pusat tourisme yang bentuk luarnya sama sekali nggak meyakinkan (yang akhirnya gw sadari bahwa itu pusat tourisme PALSU, oh myy). Saat itu jam setengah 1 malam, kami habis penerbangan panjang dan sudah sangat lelah. 

 Akhirnya kami masuk ke kantor tourisme yang super duper kecil itu. Si bapak tourime palsu terlihat sangat profesional, dengan lagaknya dia menelpon setiap hotel dengan bahasa India, dan katanya pasti setiap ruangan hotel budget udah fully booked. Kami diberi tawaran daripada nggak dapet penginapan malam ini, apa mau booking jeep temen dia dan bermalam di luar kota dulu namanya Haridwar. Kita menolak dengan tegas, tidak ada budget untuk itu! La wong sewa jeep nya aja sudah 5000 Rs (Rp 1.000.000,00), belum biaya nginapnya di Haridwar yang mungkin nggak dapet murah juga, yo mending cari penginapan di Delhi aja di luar Paharganj!

 Akhirnya kami dibawa oleh tukang rickshaw ke hotel West Inn yang semalam mahal banget, aku masih enek aja inget tarifnya, masak 2 malem 2,4 juta untuk 2 kamar hwaaaa. Awalnya aku nolak dan mending pilih tidur di terminal, sempat terjadi perdebatan keras dengan 2 travelmate masalah ini, tapi karena harus ada penyelesaian akhirnya aku ngalah. Aku udah pose setengah mewek, kenapa hari pertama sudah seperti ini?? Intinya saat itu modus penipuan adalah seperti ini: orang-orang itu tidak memberiku pilihan, hanya 2 pilihan yang keduanya sama-sama menguntungkan mereka yakni booking jeep temen dia (dia dapat untung) sama nginep di West Inn (dia dapet komisi).

Bencana tidak berakhir disitu, tiba2 aja nih tukang Rickshaw yang awalnya udah janjian tarif 20 Rs (Rp 4000) buat nganter kita ngomong gini. "Now, because you three make me wait so long. Each of you give me 100 Rs." Hal itu dikatakannya dengan mukanya yg nyebelin. Waktu itu gw udah benar2 emosi n pengen marah2 aja nih. "NO, you said 20 Rs earlier."Jawab gw dengan tegas. Tapi dengan santainya dia jawab,"See madam, this is 100 Rs, not 100 Dolar.". Gw tetep jawab, "NO (emang 100 Rs nggak duit?!)" dan diapun pergi tanpa duit dari gue, dimana 2 temen gue kasi dia 100 Rs. Haduh. Ini maksudnya bukan pelit, tetapi ini adalah salah satu bentuk SCAM/ penipuan yang paling sering terjadi disini selain hotel-hotel tutup karena festival tadi.

Autorickshaw di India. Hati2 ketika menggunakannya karena sering terjadi pemalakan harga. Harga harus dipastikan dari awal dan katakan dengan tegas ke supir "No additional cost, No waiting cost."
Sumber: telegraph.co.uk

Akhirnya hari pertama di Delhi yang penuh bencana itu berakhir juga saat gw memejamkan mata di kamar gue yang MAHAL. :-( 

Hotel West Inn di West Patel Nagar, New Delhi
Sumber: agoda.com

Suasana di kamar kami, memang bagus, tapi bukan ini yang dicari backpacker kan?
Sumber: dokumentasi pribadi

Keesokan harinya, karena buku Lonely Planet temen gw hilang (bencana apa lg ini), terpaksalah kami harus cari map-nya Delhi di pusat tourisme. Dan setelah book mobil dari hotel untuk nganterin kita keliling kota , kami diantarkan ke sebuah kantor kecil dengan tulisan di depannya "TOURISM CENTER GOVT.of INDIA". Pertama aku udah curiga lihat kantornya yang kecil (aku pernah baca scam atau tipuan di india salah satunya adalah pusat tourime pemerintah palsu), tapi yaudah temen gw A masuk. Ditunggu-tunggu, minta map aja kok lama banget?? aku dah curiga ada sesuatu. Dan ternyata emang BENAR! Mereka bilang bahwa tiket kereta api kami yang udah kami book lewat cleartrip.com TIDAK BERLAKU! Bahkan mereka lihat tiketnya pun belum, cuma tanya pesen dari mana. Karena temen gw cewek udah muak dan ga mau masuk, terpaksalah gue yang masuk ke tuh kantor. Cape...

Di dalam kantor, mereka mendesak-ndesak aku supaya mengecek tiketku via komputer mereka dan mengatakan tiketku tidak valid. Aku sudah tahu ini BOHONG! Karena sudah banyak traveler di grub backpacker yang memesan dari situs cleartrip dan sukses2 saja jalan dengan kereta api. Gue ngomong aja alasan, "We want to seeghtseing. We don't have time." Tetep aja nih penipu keuhkeuh, "No, no, you should try.Try." dia nyodor-nyodorin komputernya ke gw supaya gw ngecek tiket. Akhirnya gw minta temen gw A minta map (yang ternyata map-nya fotokopian, hadddooh) dan keluar dengan paksa.. "Sorry, i want to seeghtseing. This is wasting time, wasting time." Akhirnya keluarlah gw dari tempat itu. Huaaaahhhhhhh....

Tiket kereta api pesen via cleartrip.com, jelas berlaku, langsung dipakai saja tidak perlu ditukarkan dengan apapun
Sumber: dokumentasi pribadi

Jujur saat itu kesan pertamaku terhadap India sangat buruk, terutama di Delhi ini. Setiap orang seakan menghalalkan segala cara untuk mencari uang, sepanjang jalan menuju destinasi pertama aku merenung dan sedih. Tetapi setelah sampai di tujuan wisata pertama, RED FORT, semua kesedihan itu seakan hilang karena bangunan peninggalan kerajaan Mughal ini sungguh luar biasa bagusnya. Benteng dibangun dengan batupasir merah dan terlihat sangat cantik. Pemerintah India memang sangat bagus dalam hal penanganan peninggalan cagar budaya, karena hal inilah RED FORT mendapatkan gelar World Heritage UNESCO. RED fort cukup mudah dicapai karena berada di tengah kota. Dan satu hal, disana kami seakan jadi artis karena sering dilihatin orang lokal. Hahaha. Ini mungkin karena mereka jarang melihat muka Melayu dari kami (kebanyakan turis dari eropa dan jepang).

Lahore Gate dengan bendera India yang berkibar-kibar
Sumber: dokumentasi pribadi Pix San (My Travelmate)

Chatta Chowk, sebuah pasar setelah Lahore Gate yang dibangun tahun 1638 oleh Shah Jahan
Sumber: dokumentasi pribadi Pix San (My Travelmate)

Saya dan travelmate berpose bersama di Naubat Khana sebelum memasuki Diwan-i-Aam
Sumber: dokumentasi pribadi Pix San (My Travelmate)

Wisatawan lokal di Diwan-i-Aam (Berfungsi sebagai Gedung Pertemuan Umum pada masa Kekaisaran Mughal)
Sumber: dokumentasi pribadi Pix San (My Travelmate)

Diwan-i-Khas (Berfungsi sebagai Gedung Pertemuan Pribadi pada masa Kekaisaran Mughal)
Sumber: dokumentasi pribadi Pix San (My Travelmate)


Ukiran pada batu marmer Diwan-i-Khas 
Sumber: dokumentasi pribadi Pix San (My Travelmate)

Kenampakan interior Diwan-i-Khas yang sangat cantik
Sumber: dokumentasi pribadi Pix San (My Travelmate)

Selesai dari sini kami menuju ke destinasi 2 yaitu Humayun's Tomb, peninggalan kerajaan Mughal juga. Dalam hati aku mbatin, wah Kerajaan Mughal ini emang kaya banget ya, kuburan buat beberapa orang aja dibuat segede borobudur gini.Humayun merupakan anak dari Babur, pendiri Kerajaan Mughal. Humayun ini kakek buyutnya Shah Jahan, yang mbikin Taj Mahal. Tapi meskipu namanya Humayun's, kuburan ini tidak hanya empunya kakek Humayun aja, tapi ada beberapa kuburan pejuang lain seperti Isa Khan Tomb, Afsarwala Tomb dan Barber's Tomb.
Kenampakan Humayun's Tomb yang dibangun tahun 1570
Sumber: dokumentasi pribadi 

Setelah itu kami ngomong ke supir mobil pengen makan, tapi malah dibawa ke restoran2 mahal. Hikz. Karena ada sistem di tourisme, kalau supir berhasil bawa tamu ke restoran/tempat belanja elit  mereka, mereka bakal dikasi tip sama restoran/tempat belanja. Karena males, kami minta supir ke tempat yang lebih murah, karena bahasa inggris dia lack, dia malah ngebawa kami ke tempat yang lebih mahal. Addooohh, cpd. Akhirnya kami jalan sendiri dan nemuin warung yang cukup bersih di pinggir jalan dan murah meriah tanpa sepengetahuan supir, hahahah.
Melahap salah satu makanan jalanan India, Roti Chapati
Sumber: dokumentasi pribadi 

Setelah makan, kami menuju ke India Gate dan Qutab Minar. WUih Qutab ini bagus banget dan aku banyak berfoto sendiri maupun beberapa dengan masyarakat lokal. Senang sekali aku disini, dan terakhir kami foto di Lotus Temple. Pas mau pulang, kami minta ke supir dibawa ke pasar (Pasar ya, kayak pasar malem, sekaten). Tapi apa daya, dia malah bawa kami ke sebuah pusat oleh2 mahal yang 1 bijipatung  gajah harganya 4000 Rs (800.000 rupiah-padahal aku beli di kota berikutnya gajah persis cuma 70.000 rupiah). Setelahnya dia bawa kami lagi ke tempat shooping serupa dimana kami menolak masuk dan karena sudah capek kami meminta "Just go back to the Hotel."
Menara Qutub dengan ketinggian 72,5 m dengan ukiran Qur'an yang menakjubkan
Sumber: dokumentasi pribadi 

Berpose di bawah Menara Qutub 
Sumber: dokumentasi pribadi 

Berpose di India Gate, Gate yang dibangun untuk mengenang tentara India yang tewas saat PD II
Sumber: dokumentasi pribadi 

Berpose di Lotus Temple
Sumber: dokumentasi pribadi 

Lucunya, sebelum minta pulang, temenku sempat minta tolong ke dia suruh bawa ke Chandni chowk, pasar murah yang sangat terkenal di Delhi dan sangat luas. Dengan datar dia bilang, "It's close.". Besoknya kami kesana sendiri pakai metro dan melihat dengan mata kepala sendiri pasar BUKA dan SANGAT RAMAI...
Chandni Chowk yang superibut,mana mungkin tutup??
Sumber: dokumentasi pribadi 

Owalah Delhiiii...Delhii...

Masih mau membaca kelanjutannya? Simak ceritaku menjelajah salah satu pasar paling terkenal di Delhi, Chandni Chowk disini. JAI HO mamaji papaji!

0 comments:

Poskan Komentar