Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work

10.16.2013

Pengalaman dengan IMIGRASI 6 negara

Selama ini banyak traveler yang mempunyai pengalaman nggak menyenangkan sama imigrasi, termasuk gue. Well, sebenarnya pengalaman gue itu bervariasi. Gue sering merasa orang-orang dibalik kaca pengecap paspor itu kebanyakan sok-sokan, ntah sok galak, sok selidik, sok tegas. Bwahaha. Biasa aja kalee mbak/masss/pakdhee/budhee...

Berdasarkan pengalaman gue, sejauh ini imigrasi terbaik yang gue jumpai adalah sewaktu mau pulang dari Filipina (Bandara Internasional Ninoy Acquino), imigrasi paling menyebalkan adalah Malaysia (LCCT Airport) dan imigrasi paling ribet adalah Kolkata (India). Lainnya? Biasa-biasa aja lah..Yah, bisa dibilang mendekati ketiga kriteria diatas, Let’s cekidot....

1.       Soekarno Hatta International Airport Terminal 3
Pertama kalinya keluar negeri, paspor masih kosong melompong. Dicap keluar sewaktu mau boarding dengan wajah yang sangat antusias setelah menunggu di bandara selama 6 jam -,- . Untung nggak disorakin, “Cieee yang mau keluar negeri pertama kali..selamat yaa..kamu dapat piring cantik...”, karena kalau sampai bilang gitu gue bakal malu banget sumpeh#toyor.

 2.       Suvarnabhumi International Airport ~ Bangkok ~ Thailand
Lumayan di paspor gue setidaknya udah ada cap keluar dari Indonesia. Bwahaha. Ehm, di Thai ni biasa aja. Petugas pengecapnya ibu-ibu dengan wajah yang datar dan tanpa ekspresi, bahkan tak mengucapkan “Welcome to Thailand” buat gue yang baru pertama kalinya keluar negeri. Alih-alih dia bilang, “Please step backward behind the line” ke gue, jiaaahhh ibu. Ternyata karena gue masih ndeso, gue nggak tau kalau garis merah itu batas buat antrian selanjutnya. Jadi posisi gue saat itu berada persis dibelakang temen gue yang paspornya sedang dicap, malah gue clingak-clinguk ngliat ibunya ngecap #ditoyor~ibunya. Jiaaahhh......Bwahahaha....Maaf ibuukk, namanya juga wong ndeso yang baru pertama kali ke luar negeri, hihihi.

Imigrasi Thailand. Awalnya gue berdiri tepat di belakang temen gue dimana hal itu jelas dilarang. Hahaha....
Sumber: dokumentasi pribadi

 3.       Imigrasi Kamboja jalur darat dari Thailand (Poipet)
Mungkin ini adalah imigrasi paling lamaaaa yang pernah gue lalui selama ini, total gue membutuhkan hampir 2 jam cuma buat dapat cap ungu pudar “Kingdom of Cambodia”. Interpretasi gue hal itu dikarenakan jumlah petugas yang jaga dikit #tempatnya sempit dengan batas triplek dan pohon besar nembus atap didalamnya, OMGG#, serta mereka agak ribet karena pakai scan jari tangan jugaaahh~gue baru jumpai disini~. Hal itu diperburuk dengan jumlah ratusan traveler yang mengantri secara bersamaan dengan backpack segede-gede bagong yang pas nutupin muka gue, kadang kalo mereka nengok ke samping nyampar muka gue#siaaallll...

Ada pohon besar nembus atap di dalamnya, gue yang pas di belakang tas ini dengan muka melas #pfftt
Sumber: dokumentasi Adis

Sumpeh itu pengalaman nunggu ter-boring gue, sampai pundak gue memerah gendong backpack inih. Temen baru gueh dari Jerman namanya Lieberkitz/Lieberkichz/blah-blah susahnya okeh sebut aja Mbakyu ngomong lebih enak kalau backpack digendong aja terus supaya pundak malah nggak terlalu sakit. Tapi menurut gue nasehat mbakyu itu sangat bertentangan dengan hukum Fisika gravitasi sehingga gue seret-seret aja backpack gue dibawah sambil maju kecepatan siput nunggu giliran paspor gue dicap, kalau mood, backpacknya gue gendong. Hasilnya?? KRAM yang luar biasa pada pundak gue malam harinya. Mungkin mbakyu emang benar, karena gue lihat muka dia masih segar-segar aja meski backpacknya 3-4 x lebih besar dari punya gueh, hahahaha..

Akhirnyaaaa...
Sumber: dokumentasi pribadi

Okeh singkatnya imigrasi disini biasa ajah, bapak-bapak dengan muka datar dimana wajah dia hanya kelihatan dari kotak bolong 30x20 cm didepan gueh, ventilasi lainnya pakai besi dirangkap kaca. Sumpeh pengen gue cium deh tu bapak-bapak sewaktu dia selesai ngecap paspor gue!

Bosen? Coret-coret aja hihi. Close to Vandalism but it's not.
Sumber: dokumentasi pribadi

4.       Imigrasi Malaysia jalur darat dari Thailand (Kedah)
Aseeenngg, aseeenngg, aseeennnggg..Itulah yang ada di benak gue saat temen gue jawab “nggak tuh, kok bisa?” sewaktu gue tanya dia dimintai uang 10 Ringgit nggak pas di imigrasi Malaysia. Yah ini pengalaman di imigrasi yang menyebalkan, tapi bukan yang paling menyebalkan buat gue. Sampai sekarang gue masih bingung, buat apa dia minta-minta duit gitu dari traveler, bukankah itu ilegal?? 

Ini lokasinya!
Sumber: dokumentasi Alfiana (my travelmate)

Huah, inilah yang gue sebut imigrasi nakal. Setelah gue banyak browsing, hal itu terjadi ketika kita ngisi kartu imigrasinya nggak lengkap, sehingga beberapa torehan tinta ‘petugas imigrasi nakal’ itu bernilai 10 ringgit. Gue merasa aneh karena gue merasa udah ngisi lengkap, entahlah gue mungkin emang lagi dapat zong. Fiuuhhh...Kalau sampai hal ginian terjadi lagi sama gue, gue punya rencana.

Imigrasi: “10 ringgit mam.” (posisi paspor gue masih di tangan dia)
Gue: “Sorry..for what?”
Imigrasi: “Because you’re not write your imigration card completely.”
Gue: “Oh I should pay because of that? Is that new rule?”
Imigrasi: “...../yeah”

Gue: “OK..give me my paspport first (kalau dia nggak bereaksi pakai cara kedua ini : “OK give me my passport first, I think I keep 10 ringgit in the backside of paspport cover.

Kalau dikasihkan paspornya : KABUUURRRRR!! Hahaha, gueh akan benar-benar melakukannya kalau suatu saat hal ini terjadi lagi sama gue. Gimanapun, gue nggak akan jatuh ke lubang yang sama lagi!

 5.       Konter Visa on Arrival ~ Indira Gandhi International Airport~ New Delhi~ India
Karena gueh belum ada visa saat mendarat di New Delhi, gue bikin Visa on Arrival yang berada di konter VOA lantai bawah. Satu kata: LAMANYOOOOOO.... Sumpah, nunggu dapat cap visa ini adalah penantian yang paling membuat gue frustasi!! Hal itu dikarenakan kondisi fisik gue yang sudah sangat lelah (hampir 2 hari nggak tidur) dan gue TAKUT BANGET kalau duit USD yang gue bawa terindikasi palsu. Kenapa gue sampai berpikiran seperti itu?? Karena dua traveler di depan gue (seorang ibu sama anaknya dari Indonesia) duit yang buat bayar (120 USD) diindikasikan palsu oleh petugas VOA yang superlelet ini. Beberapa kali dia melihat, menerawang, diraba-raba, masukin kantong, eeehh, beberapa saat kemudian tuh duit dikeluarin lagi, dia manggil temennya ~yang kayaknya ahli membedakan uang palsu/asli kita sebut saja Raj Malhotra~ buat memastikan keaslian uang itu. Raj  pidato lamanyaaaa...dimana gue cuma bisa nangkap kata “Aseli...aseli..” dari bahasa Hindi-nya..Kata Aseli itu masih diikuti dengan serentetan kata lain yang nggak ada habisnya, WUAH, kenapa nggak bilang ASELI gitu aja teros pergi?!  #toyorRaj

Bikin VOA lama banget.
Sumber: dokumentasi pribadi

Akhirnya tiba giliran gue diinterogasi, tanyain apa gue keturunan Pakistan ~I WISHHH, supaya ketularan manis,eh supaya tambah manis duenk wekeke~, duit gue 60 USD diraba dan langsung dimasukin kantong. Leganyaaaa....Btw, kantong bapaknya itu sampai berjubel gitu penuh duit dollar ngintip-ngintip bwahahaha.
Akhirnya setengah jam kemudian cetak-cetik di komputer, ngecap-ngecap, nama gue dipanggil “ Galouh Pratiwui ” #wuih, nama gue jadi kebule-bulean#, gue dapat visa India selama 15 hari dan melenggang lega. Huaaahh, India.


Akhirnya selesai juga bikin VOA, India, Aku masuk!
Sumber: dokumentasi pribadi Pix San

 6.       Netaji Subhas Chandra Bose International Airport~Kalkuta~India
Imigrasi di bandara Kalkuta ini gue kasih gelar teribet. Kenapa? Check this out!


Karena udah ngeprint boarding pass penerbangan Air Asia Kolkata-KL dari rumah,  gue santai-santai aja pas nunggu temen gue check in di airport (dia belum ngeprint boarding pass). Tapi pas di depan loket imigrasi, gue dibilang bahwa gue nggak bisa terbang dengan boarding pass yang gue bawa itu. Gue merasa sangat aneh karena selama terbang dengan AA dimanapun, boarding pass nya ya boarding pass yang di print dari web itu. Gue berusaha menjelaskan ke bapak-bapak itu, “No, No, It works when I was in Malaysia”. “No, No, you can’t. You won’t be allowed entering the plane with this.” Ternyata gue tetep disuruh check in meski sudah bawa boarding pass, dan dapat boarding pass baru berupa kertas seperti receipt gitu. Terpaksa balik lagi ke konter check in. Owalaaahhhh....bedanya apa coba?

Setelah sukses melewati imigrasi ~dimana kelihatannya bapak ini meragukan VOA gue karena terus-terusan tanya, “this one the visa?” ~ gue pun mendesah lega dan beranjak ke pemeriksaan detektor. Pemeriksaan disini, selain dengan mesin juga dengan tentara di ruangan tertutup dengan cara diraba dari atas ke bawah. Oke disini gue well done. Setelah itu barang bawaan gue discan, setelah discan masing-masing tas akan diberi gantungan kertas kuning sebagai simbol lolos scan. Karena gue kira itu Cuma formalitas, setelah discan gue nggak minta kertas kuning buat tas kecil gue dan langsung aja nungguboarding. Sewaktu mau naik pesawat, tas gue kena periksa karena nggak ada kertas kuningnya dan disuruh balik lagi ke tempat scan tas untuk discan ulang dan minta kertas kuning. Hwuaaahhhhh.....

Sekali lagi, dalam perjalanan masuk ke pesawat setelah semua tas gue sudah ada kertas kuningnya, ada lagi tentara kekar yang stand by  untuk memastikan semua tas sudah aman #ampunBrooo. Gue tersenyum lebar sewaktu dia membiarkan gue lewat, “noh, salah gue apa lagi?!”  hahaha. Memang ini paling ribet, tapi sisi positifnya keamanan akan sangat terjamin. Bruuummmm, ngoooeeeennnggg...See u India!

 6.      Changi International Airport ~ Singapura
2013 datang!! Untuk mengawali tahun ini ane mempunyai rencana untuk mbolang di 3 negara sekaligus yaitu Singapura – Malaysia – Filipina. Berangkat dengan uang seadanya dan tiket Bandung – Singapura Rp 0, Kuala Lumpur – Manila Rp 250rb dan Manila – Jakarta Rp 350rb, ane pun menginjakkan kaki di Bandara Changi yang super big dan mewah gan.

Imigrasi Bandara Changi ini bisa ane bilang biasa aja. Saat itu petugas imigrasi yang ngecap paspor ane orang Melayu keturunan India. Ane hanya ditanya ‘keperluan apa datang ke Singapura?’. Ane jawab ‘holiday, Sir.’ Langsung dicap dan setelah membandingkan wajah ane sejenak dengan foto di paspor, ane pun masuk Singapura. Nggak ada yang spesial gan. Intinya asal kita ke Singapura untuk alasan berlibur dan tidak mencurigakan, pasti aman gan dan langsung bisa masuk.


Ane pun tersenyum lebar dan segera mengambil brosur-brosur berupa peta, panduan wisata, panduan penginapan (yang ane nggak bakal nginep disini karena penginapan mewah semua), refill air minum gratis, serta update status untuk pamer menggunakan wifi gratis bandara wkwkwk.

 7.      Imigrasi keluar Singapura (border land dengan Malaysia)
Ane lupa gan, tapi imigrasinya biasa aja. Nggak terlalu ketat. Ya iya lah, soalnya kan kita udah mau meninggalkan Singapura. Menurut ane imigrasi itu lebih ketat pas masuk gan. Ane melenggang mulus dan nggak ditanyain apa-apa disini.

 7.      Imigrasi masuk Malaysia (border land dengan Singapura)
Petugas imigrasinya ibu-ibu, baik dan ramah gan. Ane nggak terlalu menjumpai masalah berarti disini. Menurut ane semakin besar dan megah sebuah imigrasi, biasanya semakin serem gan dan sebaliknya.

 8.      Imigrasi Bandara LCCT ~ Kuala Lumpur ~ Malaysia
Mungkin ini imigrasi paling menyebalkan yang pernah ane lalui gan. Padahal ane udah sering keluar masuk KL lewat LCCT tapi entahlah, kali ini ane merasa sebal tingkat dewa aja. Ceritanya ane lupa kalau di tas masih ada air minum, itu pun tinggal sedikit, nggak sampai 1 liter seperti aturan penerbangan internasional. Pas X-ray imigrasi, kena deh ane gan. Akhirnya tas ane yang penuh baju kotor + kolor dibongkar-bongkar pas habis imigrasi. Pas botol minumnya udah ketemu, ane langsung ambil dan minum tapi ane dimarahi gan. Katanya, “If you want to drink it, drink it outside”. Nadanya galak banget lagi, ane pun segera keluar dan meminum dengan jengkel gan. Jengkel karena air minum ane sebenarnya nggak sampai 1 liter.

 9.      Imigrasi Bandara Diosdado Macapagal, Angeles City, Filipina
Setelah penerbangan yang lumayan melelahkan selama 4 jam dari Kuala Lumpur, akhirnya mendarat juga gan ane di Filipin. Ane masih buta gan, nggak tau sama sekali tentang negara ini, dan petualangan pun dimulai.
Imigrasi Bandara Clark
Sumber: dokumentasi pribadi 

Ane mendarat jam 12 malam waktu setempat gan, segeralah menuju imigrasi untuk mendapatkan cap masuk Filipina. Awalnya ane yakin 100 % gan, ane bakal nggak mendapatkan masalah berarti sampai ada 2 TKI di depan ane yang mendapatkan masalah dengan paspor mereka yang antrinya di depan ane. Ane bisa tahu kedua orang di depan ane TKI karena melihat paspor mereka yang mirip paspor ane/paspor hijau. Saat itu entah karena masalah apa, mereka cukup lama bersitegang dengan petugas imigrasi  dan akhirnya malah mereka keluar dari antrian imigrasi tanpa cap masuk. Entahlah ane nggak tau masalahnya gan.

Setelah kedua TKI itu mundur dari antrian, ane pun maju gan. Deg-degan abis, ‘jangan-jangan Filipina mempunyai aturan bagi orang Indonesia yang nggak ane tau ya’. Ane jadi semakin deg-degan aja saat si ibu petugas imigrasi membaca data paspor ane. Pertanyaan ane terjawab saat si ibu memberikan cap masuk Filipina ke Ane.. Huaahh, syukurlah. Ane lega banget dan segera saja melangkahkan kaki menginjak Filipina yang sebenarnya. Welcome, FILIPINA!!

 10.    Imigrasi Bandara Ninoy Aquino, Manila, Filipina
Dari semua imigrasi yang ane lalui, mungkin imigrasi Bandara Ninoy Aquino adalah imigrasi terbaik dan teramah. Gimana nggak? Inilah satu-satunya imigrasi yang memberikan senyuman dan kemudahan buat ane. Gimana ceritanya gan? Cekidot!

Selama di Filipina, kecuali berurusan dengan tukang-tukang rickshaw dan delman nggak jelas yang hobinya ngasi scam ke turis, ane benar-benar menyukai masyarakat lokal disini. Menurut ane, masyarakat Filipina itu sangat baik gan, kayak ane dibantuin nyari stasiun LRT, ane dibantuin nemu Fort Santiago, ane didiskon pas naik bus, dan lain-lain. Dan kebaikan ini berlanjut pas ane di Bandara Ninoy Aquino saat mau pulang ke Indonesia.
Saat itu imigrasi keluar nggak terlalu rame, dengan PD dan semangat tinggi karena akhirnya mau pulang ane segera antri untuk mendapatkan cap keluar Filipina sebelum boarding. Petugas imigrasi di depan ane ibu-ibu gitu gan, udah tua dan murah senyum. Akhirnya tiba giliran ane gan:

“Sobekan kertas imigrasinya mana neng?” tanya ibu itu dengan ramah dan senyum.
“Aduh buk, harus pakai itu ya?Maaf buk saya nggak tau.” Jawab ane.
“Yaudah, diisi dulu aja. Ambil kertasnya disana. Nanti balik lagi kesini ya kalau udah” Jawab ibunya lagi-lagi dengan ramah sambil menunjuk tempat pengambilan formulir kertas imigrasi.
“Iya buk. Makasih ya buk.”
“Iya neng.”

Wuaahh, baik banget gan ibu imigrasi ini. Selama ane traveling, baru kali ini ane dapat senyuman dan perlakuan ramah seperti itu dari imigrasi. Ane benar-benar tersentuh dengan kebaikan masyarakat Filipina. Hikz hikz hikz (si gembeng nangis lagi).

Ane pun segera menuju meja pengambilan formulir imigrasi dan menulis data bersama beberapa calon penumpang pesawat yang lain. Saat itu karena harus mengambil bolpoin, tanpa sadar ane menaruh tas slempang ane yang berisi 2 kamera, dompet, dan beberapa benda berharga lainnya di meja formulir. Dan yang terjadi selanjutnya......bisa ditebak....ane lupa bawa tas itu lagi gan. Huaaa!!

Selanjutnya karena masih nggak sadar tas slempang ane ketinggalan di meja, ane pun segera melangkahkan kaki ke loket imigrasi ibu tadi. Si ibu tersenyum lagi dan segera memberikan cap ke ane. Ane pun segera melangkahkan kaki dengan PD untuk mencari tempat boarding pesawat ane, Cebu Pacific.

Saat berjalan itulah ane merasa ada sesuatu yang aneh gan, biasanya daerah sekitar leher ane itu akan sakit karena tali tas slempang. Kok sekarang nggak sakit ya?? Ya TUHANNN....ane lupa tas slempang ane. Ane berusaha menenangkan diri dan fokus, ane berusaha mengingat-ingat, kapan terakhir kali ane duduk atau melepas tas dan ane ingat itu di meja pengisian formulir imigrasi. Ya Tuhaann....ane kan udah di cap keluar, sekarang gimana caranya ane bisa masuk lagi untuk mengambil tas ane? Itupun kalau masih ada. Ane benar-benar mengutuki kecerobohan ane saat itu.

Sampai loket imigrasi lagi, segera saja ane mencari imigrasi yang nggak terlalu rame. Saat itu ane menemukan satu lagi ibu-ibu muda, dan ane pun menunjukkan paspor yang udah ada cap keluar Filipina sambil menjelaskan situasi ane kalau ada tas yang tertinggal. Dan ajaibnya, ibu itu langsung menganggukan kepala gan nggak banyak tanya. Wuaaahh, ane bersyukur berat dan segera meluncur ke meja formulir imigrasi untuk mencari tas ane dan ternyata.....MASIH ADA!! Ya Tuhaann...ane nggak berhenti-berhentinya bersyukur saat itu. Ane pun keluar Filipina lagi melalui loket imigrasi ibu muda tadi. Menjelaskan kalau ane sudah menemukan tas ane, dan kembali menunjukkan paspor yang sudah ada cap keluar. Wah terimakasih Tuhan, inilah bandara dan imigrasi terbaik ane selama jalan-jalan gan. Di Filipina, tepatnya Bandara Ninoy Aquino.

Selanjutnya, perjalanan selama 4 jam dari Manila ke Jakarta dengan pesawat Cebu Pacific Airline ane lalui dengan lancar gan. Hal menakutkan yang terjadi, sepanjang jalan dari Manila ke Jakarta itu suering banget turbulensi gan pesawatnya. Saat itu yang ada di pikiran ane cuma hal buruk aja, ane mikir ane bakal kecelakaan pesawat karena sumpah pesawatnya goyang terus gan. Ane tatut. Tapi akhirnya sekitar pukul 12 malam, sampailah ane di Jakarta gan. Saat melihat lampu gemerlapan Bandara Soekarno Hatta, ane mengucap syukur sedalam-dalamnya. Rasanya senang sekali melihat tanah air tercinta ini setelah beberapa minggu terpisah. I LOVE INDONESIA.

Sementara, itulah pengalaman-pengalaman ane dengan imigrasi yang bisa ane bagikan gan. Tahun 2014 secara keseluruhan ane habiskan dengan traveling ke tanah air tercinta gue, INDONESIA. Ane akan update cerita baru lagi tentang imigrasi jika keluar negeri lagi. CIAO.

0 comments:

Poskan Komentar