Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work

8.31.2016

[2] Jepara, 6 Mei 2016 : Perjuangan

"Ada apa ini?" aku bertanya kebingungan kepada Arin dan Ega yang sudah mengantri berdesak-desakan dengan ratusan penumpang lainnya.

"Ada tambahan 80 tiket Ekspress Bahari!" jawab Arin sembari meringis menahan dorongan orang-orang di belakangnya yang didominasi oleh lelaki.

WHAT? Tadi kan dikatakan tiketnya sudah habis! Bahkan beberapa bulan sebelumnya!

Antrian semakin rapat dan tak terkendali. Tidak peduli laki-laki maupun perempuan, semuanya berebut untuk mendapatkan tiket Ekspress Bahari. Tidak ada yang mau mengalah. Tidak ada space sedikitpun untukku menyelip di belakang Arin. Aku hanya bisa berpasrah kepada mereka.

Semakin lama antrian mulai tak terkendali dan semakin banyak orang yang berteriak "Antri! Antri!" kepada rombongan orang yang dengan seenaknya memotong antrian dari sisi lain loket. Kejadian ini memaksa polisi pelabuhan turun tangan dan menertibkan calon penumpang. Aku hanya bisa memandang Arin dan Ega yang mulai tak terlihat karena terselip di dalam tumpukan manusia itu.

"Satu orang maksimal beli 2 tiket!" petugas penjaga loket mulai berteriak kesal karena ulah beberapa orang yang membeli lima bahkan sepuluh tiket sekaligus.

Aku mengobrol dengan petugas pelabuhan tentang kekacauan yang terjadi ini. Beliau mengatakan hal seperti ini memang tidak biasa terjadi dan mencurigai adanya konspirasi tertentu dari beberapa pihak. Aku hanya bisa mengangguk dan mendengarkan.

Akhirnya aku melihat tangan Arin masuk ke lubang loket, membawa identitasku dan dia sendiri. Setelah melalui perjuangan panjang, dia akhirnya bisa keluar dari antrian. Kami masih menunggu Ega. Keberadaan Ega masih tersembunyi oleh tumpukan laki-laki yang seperti tanpa ampun terus mendorong dan menutup lubang loket dengan badan mereka. Sesaat kemudian, kami bernafas lega karena telah melihat tangan Ega menyorongkan identitas ke lubang loket.

Kami akhirnya akan berangkat!! Apakah ini mimpi atau bagaimana?

Aku bahkan tidak mempercayai hal ini setelah hal-hal melelahkan yang harus kami lalui dari pagi tadi. Benar-benar suatu berkah yang luar biasa bahwa kami sudah membawa tiket Ekspress Bahari sekarang. Hati-hati sekali aku menyimpannya, laksana menyimpan ijazah.

Kami beristirahat sejenak di warung makan dekat pelabuhan untuk mengisi perut yang sedari pagi buta belum diisi makanan berat. Kapal Bahari Ekspress masih tiga jam lagi dijadwalkan berangkat. Sepiring nasi soto ayam dan segelas es sukses menyegarkan tenggorokanku yang mengering karena banyaknya hal yang harus kami lalui.

Menunggu di warung (GALUH PRATIWI)

Kami duduk di bangku belakang warung yang teduh. Disana terlihat juga para backpacker lain yang sedang istirahat menunggu jadwal keberangkatan kapal. Aku bertemu dengan lelaki muda ini, aku lupa namanya. Kita berbincang cukup seru dan dia memberikan banyak masukan untuk bekal ketika kami di Karimunjawa nanti.

"Saya orang Jepara asli, disini mengantarkan teman," katanya dengan ramah dan senyumnya yang khas.

"Untuk menuju Pantai Kartini, kalian lewat jalan tikus saja. Gratis. Kalau lewat depan kalian harus bayar."

Aku tersenyum nakal dan mengingat petunjuk jalan darinya sebelum menuju Pantai Kartini. Memang benar, sesuai petunjuknya, jalan yang kami lalui adalah melewati pagar yang terbuka dan memang tidak dipungut biaya sepeserpun. Kami sempat melewati semak-semak dan onggokan kapal sebelum mencapai Taman Kartini.

Jalan tikus ke Pantai Kartini (GALUH PRATIWI)

Sebuah taman cukup luas dengan beberapa gazebo kayu sederhana menyambut kami. Panas matahari cukup terik, tetapi terhalangi oleh rimbunnya hijau pepohonan. Beberapa keluarga dan anak-anaknya terlihat menggelar tikar menikmati sejuknya angin laut. Memang suasana yang ideal untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.

Suasana taman di Pantai Kartini (GALUH PRATIWI)

Taman Laut Kura-Kura adalah salah satu tujuan kami memasuki kawasan Pantai Kartini. Bisa dibilang, patung kura-kura raksasa ini merupakan salah satu ikon yang paling dicari orang yang melancong ke Pantai Kartini (selain menunggu kapal ke Karimunjawa tentunya). Bangunan yang diresmikan Bupati Jepara pada 22 Februari 2011 ini memiliki ruangan bagian dalam yang bisa dimasuki, dimana lantai satu digunakan sebagai taman laut dengan akuarium yang berisi berbagai spesies ikan dan penyu, sementara lantai dua untuk wahana pendukung dari Taman Laut Kura-Kura. Karena masuknya berbayar, kami mengurungkan niat dan melanjutkan berjalan-jalan menikmati taman disekitarnya.

Taman Laut Kura-Kura (GALUH PRATIWI)

Taman Laut Kura-Kura (GALUH PRATIWI)

Cukup banyak penjual makanan dan minuman yang bertebaran, mulai menggodaku untuk mengeluarkan lembar-lembar rupiah. Jajanan salome tentu saja langsung kubeli, salah satu makanan kesukaanku sejak kecil. Cuaca yang terlalu panas memang menyebabkan tenggorokan mengering dengan cepat.

Kami melanjutkan berjalan sampai menemukan beberapa gazebo luas yang melingkari patung kura-kura. Setiap gazebo dihubungkan oleh jembatan yang dibangun diatas tiang-tiang di atas laut dangkal. Di sisi kiri kami, beberapa anak kecil usia belasan terlihat berenang-renang meminta koin kepada kami. Cukup atraktif.

Pejuang koin (GALUH PRATIWI)

"Koin mbak, koin!" kata mereka sembari mengayun-ayunkan kaki kecil mereka di Laut Jepara yang berwarna kecoklatan.

Aku melempar koin beberapa kali, menghabiskan koin limaratusan di dompetku yang mulai menggembung.

'Bahagia itu sederhana ya,' pikirku.

Selama dua jam berikutnya, kami habiskan dengan tiduran di tempat duduk yang tersedia di gazebo. Mataku sungguh terlalu berat. Perjalanan kemarin malam tanpa tidur sedikitpun telah sedikit menguras energiku. Mataku mulai berat dan tubuhku merasa rileks, aku sempat tertidur sebentar.

Gazebo (GALUH PRATIWI)

Harum asap sate dari penjual di dekatku memaksaku bangun. Perutku lapar lagi ternyata. Sebungkus sate lontong sukses meluncur ke perutku. Tak terasa, sebentar lagi kami harus kembali ke dermaga karena sudah mendekati jadwal keberangkatan.

Ternyata ujian buat kami tidak berakhir disini.

0 comments:

Poskan Komentar