Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work

8.31.2016

Surabaya, 31 Agustus 2016 : Mimpi di siang bolong?


Pernahkan kamu merasakan frustasi dengan semua mimpi-mimpimu?

Mimpi yang sudah kamu bangun, katakan, dari sepuluh sampai sebelas tahun yang lalu?

Aku pernah, rasanya begitu menyesakkan.

Aku tahu, terkadang aku mempunyai mimpi di luar nalar. Well, katakanlah, seperti mengunjungi Antartika. Bukankah itu gila? Siapa pula yang mempunyai pemikiran seperti itu sewaktu masih duduk di bangku SMA.

Semua orang yang aku kenal mempunyai mimpi yang sama. Lulus kuliah dengan IPK terbaik (predikat cumlaude), bekerja di perusahaan ternama dengan gaji fantastis, menikah dengan orang yang dicintainya, mempunyai anak-anak yang lucu, membesarkan anak, melihat anak sukses, menua dan berbahagia bersama pasangan di hari tua. Bukan mimpi yang muluk, bukan?

Tetapi bukan mimpi seperti itulah yang terbangun di pikiranku sejak aku duduk di bangku SMP.

Aku ingin berkeliling dunia!

Aku seorang remaja yang mempunyai rasa ingin tahu lebih tinggi dari kakakku. Mempunyai rasa penasaran yang terlalu besar, 'bagaimanakah dunia luar itu?'

Aku bahkan tidak akan betah berdiam diri di satu tempat dalam waktu lama, hanya melakukan hal itu-itu saja setiap hari. Aku tidak ingin hidup monoton sampai aku tua dan mati.

Aku ingin mengisi hari-hariku dengan pengalaman yang menakjubkan. Melihat setiap sisi indah dunia, berkenalan dengan orang asing, mencicipi makanan baru, budaya baru, bahasa baru.

Saat itulah mimpiku mulai kubangun. Hawai'i adalah tempat pertama yang benar-benar ingin kukunjungi sejak aku SMA. Keinginanku tercipta setelah aku melihat sebuah film berjudul 'Forgetting Sarah Marshall' yang lokasi pengambilan filmnya di Pulau Oahu, Kepulauan Hawai'i, Amerika Serikat.

Aku begitu takjub dengan keindahan Hawai'i.

Aku mulai mencari-cari informasi. Dimana Hawai'i? Berapa harga paket tur kesana? Apa bahasa yang digunakan? Bagaimana biaya hidup disana? bla bla bla.

Aku mengumpulkan foto-foto, membaca forum-forum, mendownload video-video gratisan, mempelajari peta bus, membuat rencana perjalanan, bahkan sempat mempelajari Bahasa Hawai'i.

Aku seperti begitu menikmati mimpiku. Aku menikmati merencanakan semua itu. Selama bertahun-tahun.....

Pada tahun kelima, aku mulai frustasi dengan semua mimpi-mimpiku. Selain Hawai'i, tentulah aku mempunyai daftar destinasi impian lainnya. Mulai dari Thailand, Vietnam, China, Jepang, India, Selandia Baru, Mesir, Italia, Inggris, Spanyol, Antartika.

Aku mulai merasa semua mimpi itu hanyalah omong kosong! Akui saja, aku memang tidak mempunyai sumber daya untuk mewujudkan mimpiku. Disaat seperti itu, aku hanya bisa berdoa.

Mungkin akan banyak yang berpikiran, 'kenapa tidak mencoba mengikuti kejuaraan/paper/sejenisnya?'. Well, jujur aku mengakui, aku tidak terlalu suka hal-hal seperti itu lagi. Ketidaksukaanku itu berawal dari SMA sewaktu aku sering menjuarai lomba-lomba mata pelajaran, bahkan hingga tingkat nasional dan melakukan seleksi untuk tingkat internasional. Entah kenapa, dengan semua prestasiku itu justru membuatku tertekan. Setiap orang seakan melihatku sebagai seorang pintar yang harus sempurna nilainya dalam segala hal. Ekspetasi itu membuatku tertekan dan aku merasa menjadi bukan diriku sendiri. 

Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri, seseorang yang biasa saja. Tidak ada yang mengharapkan apapun dari aku, tetapi aku bisa melampaui apa yang orang lain bisa pikirkan.

Tuhan menjawab doaku. Tahun 2010 akhir, aku mendapatkan beasiswa kuliah yang untuk ukuranku jumlahnya cukup fantastis. Dengan uang itu, bahkan bisa aku sisihkan sebagian untuk mulai mewujudkan mimpiku. Negeri pertama itu adalah Thailand. Disusul Kamboja, Malaysia, India (2012); Singapura, Malaysia, Filipina, Timor Leste (2013); Timor Leste (2014); India, Nepal (2016); China, Myanmar, Rusia, Vietnam (2017). Semuanya aku wujudkan dengan hasil keringatku sendiri

Dengan pekerjaanku sekarang yang lebih banyak di lapangan, sebenarnya memungkinkanku untuk menyisihkan sebagian dan mewujudkan mimpi paling pertamaku, Hawai'i, tahun depan.

Tapi kenapa aku takut??

Aku takut Hawai'i tidak seperti yang kubayangkan. Fantasi-fantasi indah selama 11 tahun itu, entah kenapa aku ingin semuanya menjadi sempurna. Aku takut akan ditolak visa USA. Aku takut Hawai'i tidak jauh berbeda dengan Indonesia karena sama-sama beriklm tropis. Kenapa semua ketakutan ini datang disaat aku sudah sedikit mampu untuk mewujudkannya? Bahkan, perlukah semua rasa takut ini datang?

Waktu akan menjawab, semoga ini bukan hanya menjadi mimpi di siang bolong. Quote di bawah ini akan menjadi panduanku,

"I don't want to regret!"


*curhatan di tengah malam, di saat mata belum sanggup terpejam

0 comments:

Poskan Komentar