Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work

10.31.2016

Road Trip Bromo via Tumpang 4 : Perjalanan Pulang

Peta jalur Road Trip sejauh kurang lebih 283 kilometer (Google Map dengan Modifikasi GALUH PRATIWI)

Kedinginan menjadi menu wajib kami di Cemoro Lawang. Tidurku tidak terlalu nyenyak semalam. Aku sering terbangun karena kedinginan yang begitu menusuk, padahal sudah pakai kaos kaki dan selimut tebal. Hmmm....aku menjadi kagum dengan orang-orang yang tinggal disini. Bisa menahan suhu belasan derajat setiap hari.

Badanku kaku karena kurang bergerak. Setiap sedikit pergerakan seakan membuat udara dingin menyelinap masuk melalui celah-celah selimut. Aku melanjutkan tiduran sambil main HP, masih terlalu malas memikirkan bersentuhan dengan air untuk ke kamar mandi.

"Eh mau ke Bromo sama Penanjakan nggak nih?" tanyaku ke temanku.

"Boleh. Eh tapi kita nggak punya jaket kan basah semua."

"Iya juga ya, yaudah lihat nanti aja."

Tidak seperti traveler lain di penginapan kami yang sejak pagi-pagi buta sudah menuju Penanjakan, kami menghabiskan sepagian itu untuk tiduran dan bercerita-cerita. Sinar matahari pagi secara perlahan mulai menembus jendela kamar kami, memberi nuansa kehangatan yang dirindukan disini.

Aku melongok lewat jendela. Di luar sana, aktivitas mulai berjalan seperti biasa. Toko-toko mulai dibuka, pedagang sayur naik turun membawa dagangannya, turis-turis hilir mudik, jeep-jeep pelancong naik turun meninggalkan debu asap knalpot yang menghitam.

Karena batas check out adalah jam dua belas, setelah bersantai sepagian akhirnya kuberanikan untuk menginjakkan kaki ke kamar mandi. Aku memutuskan untuk mandi karena sejak kemarin sore belum mandi. Guyuran pertama membawa rasa linu-linu sampai ke tulang-tulangku. Aku menggigil.

"Brrrrrr.....dingin banget," ujarku dengan bibir membeku. " Hebat ya orang yang hidup dan tinggal disini..."

Aku menyelesaikan mandi secepat mungkin, ingin sesegera mungkin membungkus tubuh dengan selimut. Selesai mandi dan beres-beres, kami segera check out dari penginapan dan bersiap menuju Bromo karena temanku akhirnya meminta kesana.

"Brrrrr....dinginnyaa....," ujar temanku sewaktu baru saja melangkahkan kaki keluar penginapan.

"La gimana? Jadi ke Bromo atau nggak?" tanyaku.

"Nggak deh, aku nggak kuat dingin, langsung turun aja ya. Lagian aku males harus lewat medan pasir lagi"

"Hahaha, okelah."

Akhirnya kami tidak jadi ke Bromo dan langsung pulang. Aku langsung melajukan Si Merah ke arah utara menyusuri Jalan Raya Bromo Tosari dan Jalan Raya Lumbang, jarak yang harus kami tempuh sekitar 50 kilometer. Jika perjalanan lancar, maka kami akan tembus di Bayeman, Kabupaten Probolinggo di ujung utara nanti.

Begitu kami turun, pemandangan didominasi oleh perkebunan warga yang menghampar luas. Berbagai macam sayuran seperti sawi, kol, wortel, dan berbagai macam tanaman hortikultura lainnya. Sayur mayur tersebut tumbuh subur akibat limpahan abu vulkanik dari Gunung Bromo yang membawa banyak manfaat. Si Merah terus melaju ke bawah melewati kelokan demi kelokan yang seakan tiada henti. Perubahan suhu mulai kami rasakan seiring ketinggian berubah. Saat tembus di Jalan Raya Lumbang, udara sudah berubah menjadi panas. 

'Selamat datang kembali,' ujarku dalam hati.

Kami membutuhkan waktu satu setengah jam untuk akhirnya sampai di pertigaan Bayeman. Segera saja Si Merah aku arahkan ke Kota Pasuruan. Jalanan datar dan membosankan sejauh 15 kilometer sudah membentang di hadapan kami. Bus-bus, truk, mobil, motor saling bertemu dan meninggalkan asap hitam menggumpal. Aku sudah tidak memikirkan apa-apa lagi, ingin sesegera mungkin sampai di Surabaya. Perjalanan pulang memang berbeda dengan perjalanan berangkat ya soal semangat.

Kami sempat mampir berhenti untuk sarapan di warung penyetan di pinggir Jalan Raya Pantura di Pasuruan. Sepiring nasi ikan gurami dan es teh meluncur mulus di perutku yang kelaparan.

Setelah kembali berhenti untuk mengisi bensin, akhirnya kami melanjutkan perjalanan pulang. Udara panas masih menyengat, asap knalpot beterbangan, dari Kota Pasuruan aku melajukan Si Merah menuju Bangil kemudian membelok ke utara menuju SIdoarjo. Kami membutuhkan sekitar 2 jam sampai Sidoarjo.

Karena perut kembali keroncongan dan tanganku lelah, lagipula sinar matahari masih menyengat, kami memutuskan istirahat kembali di warung Lontong Kupang di Kota Sidoarjo. Sepiring sate kerang dan segelas es degan meluncur mulus ke perutku. Jajan teruuus.

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan pulang. Syukurlah sewaktu keluar dari warung, cuaca sudah berubah. Mendung menggantung dengan begitu manjanya di langit. Segera saja aku melajukan Si Merah sejauh 22 kilometer kembali ke Surabaya. Akhirnya 1 jam kemudian aku, temanku dan Si Merah telah kembali dengan selamat di kos. Kembali menikmati udara panas Surabaya. Udara panas yang sewaktu di Cemoro Lawang begitu aku rindukan, sementara di sini begitu aku benci. Bagaimanapun, perjalanan ini telah mengajarkanku arti bersyukur yang sesungguhnya.

FINISHED

0 comments:

Poskan Komentar