Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work

3.20.2018

BALADA EROPA 1 : BENAR-BENAR KACAU


Ketika postingan ini sedang diketik, aku baru saja menyelesaikan petualangan dua minggu solo backpacking di Turki, Islandia dan Eropa Barat. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan karena aku melakukan perjalanan sendiri dan ini adalah pertama kalinya aku pergi jauh bahkan hampir ke kutub utara! Aku memulai perjalanan dari Surabaya ke Kuala Lumpur dengan menggunakan Airasia, diikuti oleh Kuala Lumpur ke Istanbul dengan menggunakan Turkish Airline. Dari Istanbul, aku melanjutkan penerbangan ke Paris dengan menggunakan Turkish Airlines.
Masih foto dengan santainya di Stasiun Tram EMINONU, Istanbul. Kamu akan banyak sial setelah ini hahaha. I Love Turkey by the way,

Dan kemudian dari paris, aku terbang lagi ke Reykjavik, Islandia. Di sinilah petualangan sesungguhnya dimulai. Semuanya benar-benar berawal dari kesialan. Oya, cerita di bawah ini berupa potongan-potongan cerita yang paling tidak terlupakan selama disana. Supaya tidak kepanjangan, nantinya akan kubagi menjadi beberapa PART tulisan. Untuk cerita selama di Eropa sendiri, akan kubuat sendiri dengan bahasa yang tidak kalah asik tentunya.

1. Handphone Tertinggal di Mesin X-Ray di Bandara Internasional Kuala Lumpur
Aku sudah begitu santainya naik airport shuttle train dari imigrasi Bandara Internasional Kuala Lumpur ke gate keberangkatanku, gate 34. Perjalanan tersebut memakan waktu sekitar 5 menit sebelum aku tersadar ada sesuatu yang salah, 'KENAPA HP-KU TIDAK ADA DI SAKUKU?!'. Dengan perasaan berdebar-debar dan pikiran yang kalut, aku segera memeriksa tasku. Sudah kubongkar semua dan nihil! Ya ampuunnn...HPku dimana? huhuhu.. Aku berusaha fokus dan mengingat-ngingat kapan terakhir kali aku mengeluarkan HP.

'Seingatku sejak masuk di kereta tadi aku sama sekali tidak mengeluarkan HP...Eh bener nggak ya? Apa aku mengeluarkan dan lupa? Duh..jangan-jangan jatuh lagi... Mati aku. Gimana ceritanya kalau HPku hilang? Nomor sebagian besar klienku aku simpan disitu.. Lalu gimana bisa update cerita juga selama di Eropa nanti? Ya ampun...kenapa aku ceroboh banget sih!'

'Eh..sebentar.. kalau misal HPnya nggak jatuh, berarti terakhir kali aku keluarkan adalah pas pemeriksaan X-Ray barang bawaan sebelum menuju gate keberangkatan. Ya, tidak salah lagi! Oh ya ampunn...semoga masih disana HPku..'

Aku mengutuki diriku sendiri sembari menunggu laju kereta yang seakan menjadi melambat saat aku menyadari HPku ketinggalan. Pikiranku hanya satu, aku harus kembali ke bagian imigrasi. Saat kereta sudah sampai di gate keberangkatanku, aku segera meloncat keluar dan menaiki kereta berikutnya yang kembali ke imigrasi.

'Cepat please...cepat berangkat!'

Perjalanan dengan kereta seakan berlangsung selamanya. 10 menit, tapi terasa seperti satu jam. Saat kereta kembali tiba di area imigrasi, aku segera meloncat keluar dan bertanya kepada sekelompok petugas bandara KLIA, dimana lokasi imigrasi?

Mengikuti petunjuk arahnya, aku segera berlari. Saat itu aku memang cukup pesimis HPku masih disana. Tapi saat melihat area pemeriksaan barang menggunakan XRay, aku tersadar. Pasti HPku disitu. Tidak salah lagi!

Untung saja area pemeriksaan barang Xray sedang sepi, aku langsung saja bertanya kepada sekelompok petugas yang sedang duduk-duduk.

"Bapak..apakah ada HP ketinggalan?"

"Apa itu HP?" tanya mereka setengah tergelak.

"Handphone. Sepertinya saya meninggalkan Handphone saya disini." Aku berkata dengan setengah tergesa-gesa dan kalut. Karena kalau sampai tidak kutemukan disini, aku tidak tau lagi harus mencarinya dimana.

"Kamu pakai simcard apa?" tanya bapak itu lagi.

"INDOSAT pak.."kataku dengan tidak yakin. Maksudku, apa mereka tau Indosat?

"Ini. Lain kali hati-hati." katanya sambil menyerahkan HP Infinix Hot Note 600 kesayanganku..

"Huaahhh...ya ampuun.. Trimakasih bapak..trimakasih.." Kataku dengan wajah yang sangat lega.

Aku meninggalkan area pemeriksaan dan segera naik kereta yang sama lagi untuk menuju gate keberangkatanku. Namun kali ini perasaanku sudah ringan, aku siap menuju Turki!

Tak lupa aku melakukan insta story dulu di Instagramku. Hehehe.

2. Lupa Tanggal
Siang itu, sekitar jam 14.00 waktu Turki, aku sedang duduk dengan begitu santainya di Tram Istanbul Jurusan T1. Aku sangat senang karena baru saja mengunjungi Area Taksim di jantung kota Istanbul yang cukup terkenal, rasanya benar-benar nggak nyangka bisa menginjakkan kaki disini. Seorang Galuh mengunjungi Turki... Ya ampun..benar-benar sebuah mimpi yang jadi kenyataan. Eh, bahkan aku nggak pernah bermimpi mengunjungi Turki. Ini benar-benar sebuah bonus yang luar biasa dari Tuhan.

Aku terus-terusan memandangi pemandangan Kota Istanbul dari dalam tram. Benar-benar tidak kulewatkan sedikitpun hal yang tersaji di depanku, karena waktuku sangat terbatas disini. Aku hanya mempunyai waktu transit 10 jam sebelum terbang ke Paris sore ini. Jadi aku benar-benar memanfaatkan setiap menit dengan maksimal. 

Sudah terbayang, hari ini tanggal 21 Juni 2017, malam ini aku akan mendarat di Paris, kemudian akan mencari penginapanku dan setelahnya mengunjungi Menara Eifel di malam hari. Kemudian esoknya tanggal 22 Juni 2017, aku akan mengunjungi Musium Louvre di Paris yang terkenal. Ya ampun..itinerary yang menyenangkan. Aku membayangkan sembari tersenyum. Oh..terimakasih Tuhan sehingga aku bisa mengunjungi tempat-tempat ini.

Saat sedang memperhatikan beberapa orang Turki di dalam tram, tidak sengaja mataku menangkap layar digital yang menampilkan tanggal dan jam hari itu, jantungku melompat! Oh Ya Tuhan!! 

Ini tanggal 22 Juni 2017!!

'What the....!!! Hari ini adalah tanggal 22 Juni 2017! Bagaimana aku bisa begitu ceroboh? !! Bodoh! Berarti seharusnya sekarang aku di Paris. Bagaimana dengan penerbanganku ke Reykjavik ??! Itu berarti hari ini juga. Duh! Sekarang posisi saya masih di Istanbul, penerbanganku dari Istanbul ke Paris baru saja mendarat pukul 18.00! Duh..jam berapa lagi penerbanganku dari Paris ke Reykjavik? Kenapa semuanya kacau begini setelah hari yang menyenangkan.. Huhuhu,' tangisku dalam hati sembari tanganku gemetaran mencari Etiket Paris-Reykjavik.

'Pokoknya kalau jamnya gak memungkinkan buatku untuk mengejar penerbanganku ke Reykjavik, aku akan beli tiket lagi. Karena Reykjavik di Islandia adalah tempat yang benar-benar ingin kukunjungi di perjalanan ini.'

Aku membaca E-tiketku dengan gusar dan ingin menangis lega rasanya setelah mengetahui jam keberangkatan pesawatku Transavia dari Paris ke Reykjavik adalah jam 22.00 malam ini. 

'Berarti aku masih mempunyai waktu sekitar 3 jam. Eh tapi ini terbangnya bukan dari CDG (Charles de Gaulle) Airport, tapi dari Paris Orly Aiport. Duh jauh nggak ya? Ya Tuhan.. semoga cukup waktunya. Sama-sama masih di Paris, semoga nggak terlalu jauh.'

Pikiranku langsung kacau begitu mengetahui hari itu tanggal 22 Juni 2017. Rasanya hanya ingin secepatnya kembali ke Bandara Istanbul Ataturk. Aku yang awalnya ingin mengunjungi Selat Bhosporus, langsung mengurungkan niatku. Lagipula itu sudah jam 14.00, sementara penerbanganku ke Paris jam 16.00. Aku segera naik tram untuk menuju bandara. Oh,... benar-benar merusak mood di hari yang sudah diawali dengan indah.

Aku segera teringat, aku mempunyai Etiket Musium Louvre dan tertunduk lesu setelah mengetahui aku baru saja membuang 15 Euro sia-sia, dan kesempatan untuk melihat salah satu museum terbaik di dunia. Kepalaku tambah tertunduk saat aku mengetahui harus membayar tagihan kartu kredit 19 Euro untuk penginapanku di Paris, Hostel Jacob, Karena aku tidak muncul.

Tapi ada rasa syukur yang teramat sangat dalam hatiku! Jika aku tidak melihat layar digital di tram secara tidak sengaja, aku akan mengira itu adalah tanggal 21 Juni 2017, dan setelah mendarat di Paris, aku langsung menuju ke pusat kota Paris untuk mencari Hostel Jacob. Dan tebak apa yang terjadi selanjutnya, Chaotic !! Bahkan, aku mungkin bisa batal mengunjungi Reykjavik dan aku yakin itu akan membuatku menangis.


3. Kamera Sony Alpha 5000 Ketinggalan di Ruang Boarding Bandar Istanbul Ataturk, Turki
Di ruang boarding Bandara Istanbul Ataturk, aku duduk di samping seorang pria Prancis. Sembari menunggu boarding, kita mulai mengobrol topik ringan. Yah kebetulan, pikirku. Dia kan orang Paris, pasti dia tahu jarak dan metode transportasi dari Bandara CDG ke Bandara Orly. Dan apakah waktu 2,5 jam yang kupunya cukup untuk mengejar penerbanganku ke Reykjavik. Supaya memperjelas maksudku, aku berniat memberikannya E-tiketku Paris-Reykjavik supaya dia bisa membacanya.

Karena aku meletakkan kamera di bagian atas daypack, sebelum mengambil E-tiket aku harus mengeluarkan kamera. Aku ingat dengan jelas,aku mengeluarkan kamera dan meletakkannya di sisi kiriku (tepatnya di samping pinggulku). Sewaktu meletakkannya disitu, aku sudah memberikan warning ke otakku, JANGAN SAMPAI LUPA!

Sepertinya keinginanku untuk mendapatkan informasi dari pria Prancis itu sia-sia karena bahkan setelah kutunjukkan E-tiket, dia masih belum juga paham maksudku. Bahasa Inggrisnya memang agak kacau, dia malah bilang begini:

"Tidak, tidak. Ini penerbangan ke Paris, kita akan mendarat di Bandara CDG."

"Bukan Mister, maksudku apakah jarak antara Bandara CDG dan Bandara Orly Sud jauh? Cukupkah waktu 2,5 jam untuk sampai kesana?"

Sekali lagi dia tidak mengerti maksudku dan malah terus menerus berkata kita akan mendarat di Bandara CDG. 

Ah yah, gak ngerti ni orang. Yasudah aku pasrah dan berniat mencari informasi sesampainya di Bandara CDG Paris saja. 

Akhirnya waktu boarding tiba. Dan kalian bisa menebaknya, aku lupa mengambil dan memasukkan barang di samping pinggangku!! Ya, kameraku! Aku mulai mengantri dengan santainya dan kemudian naik bus khusus untuk sampai ke kaki pesawat!

Aku bersiul dengan senang hati. Ah well, aku tidak terlalu peduli dengan masalah kelupaan tanggal ini lagi. Entahlah, rasanya bahagia. Islandia! Aku benar-benar akan mengunjunginya! Bahkan di pikiranku tidak ada rasa menyesal sedikitpun karena tidak sempat mengeksplor Paris. Ah sudahlah Paris suatu saat saja.

Sesaat kemudian, bus telah sampai di kaki pesawat. Aku menemukan tempat dudukku sesuai tiket dan mulai mengatur semuanya untuk persiapan lepas landas ke Paris. Sementara menunggu, aku mulai mencari kamera untuk melihat foto-fotoku selama di Istanbul seharian dan kemudian tercengang.....

Ya ampun, kameraku ??! Dimana Kameraku ???! Masya Allah.....

Aku berusaha keras untuk sekali lagi tenang dan mengingat kapan dan dimana aku terakhir memegangnya atau mengeluarkannya.

Sialan, pikiranku berteriak dan berkecamuk. Aku tidak bisa pergi ke Islandia tanpa kamera. Karena selain kamera Sony Alpha 5000 yang sekarang tidak jelas ada dimana ini, aku hanya membawa kamera Action dan handphoneku yang kualitas gambarnya kurang bagus. Membayangkan menangkap semua keindahan Islandia dengan kamera yang kurang bagus membuatku putus asa. 

Perlu beberapa saat bagiku untuk menyadari, aku telah meninggalkan kamera di ruang boarding. Bisa kuingat dengan jelas, aku memang belum memasukkan kamera itu!

Sh*t!! Ngapain aku harus aneh-aneh nunjukin E-tiket sih? Ya ampun.. kenapa cobaan tak henti-hentinya datang di perjalanan pertamaku ke Eropa. Setelah semuanya berjalan dengan begitu lancar di Istanbul. Mental dan fisikku benar-benar lelah diserang oleh semua kebodohanku ini. Duh...bisa turun lagi nggak ya.. Mana pesawat udah mau berangkat lagi.

Aku segera berlari ke arah bagian belakang pesawat untuk mengabari Pramugari Turkish Airline, dan bertanya apakah aku bisa kembali ke ruang Boarding untuk mencari kameraku. Wajahku sangat gusar, hatiku tak karuan rasanya. Ya ampun..gimana kalau hilang..

Pramugari muda tersebut segera bertanya kepada pramugari seniornya di bagian depan, dan seperti yang sudah kuduga, jawabannya:

"Tidak, Kamu tidak boleh kembali ke ruang boarding. Begini, tenang saja. Kamu tunggu disini, kami akan mengabari staf kami di ground sana untuk mencari kameramu."

"Please Madam Help me.... Thank you." kataku dengan lesu sembari menunggu di dekat pintu masuk pesawat.

Karena semakin lama penumpang mulai berdatangan, aku berjalan dengan lunglai kembali ke kursiku di belakang. Rasanya benar-benar ingin menangis. Kenapa aku begitu bodoh dan ceroboh? Dari kemarin masalah, masalah dan masalah terus. Bahkan aku belum sampai ke destinasi pertama! Rasanya hanya ingin menyerah, pulang ke Indonesia dan melupakan semua mimpiku huhuhu....

Sesaat kemudian salah satu pramugari mendekatiku (karena melihat wajahku yang sangat gusar) dn menghiburku..

"Kamu tenang saja. Staf kami sedang berusaha mencari kameramu. Kalaupun misalnya tidak ketemu, kamu lapor saja di bagian lost and found di Bandara CDG, okey? Ketika kameramu ketemu, kami akan memberikannya kepadamu."

Aku hanya mengangguk lesu.

'Tidak mungkin sempat. Sampai Bandara CDG saja aku harus cepat-cepat menuju Bandar Orly, aku nggak akan sempat mengurus di Lost and Found. Aku memejamkan mataku.. berusaha menahan air mata yang seakan ingin merangsek keluar dari sudut-sudut mataku. Semua bayangan tentang keindahan Islandia seakan menguap.. Aku tidak akan bisa mengabadikannya dengan kamera yang bagus.. Oh ya Tuhan...tolonglah aku..'

Selanjutnya pandanganku hanya terfokus pada pintu masuk pesawat. Kalau sampai pintunya tertutup dan tidak ada pramugari yang mendekatiku dengan membawa kamera, berarti aku memang harus menerima kenyataan. Kameranya memang hilang.

Tepat 10 menit sebelum jadwal keberangkatan, tiba-tiba pramugari yang tadi menghiburku terlihat membawa kamera berwarna hitam dengan senyum yang sumringah. Sepertinya dia tahu aku bakal sangat bahagia ketika melihatnya menghampiriku dan menyerahkan kameraku! "Oh yaaaa Tuhaaaannn...terimakasih-terimakasih.." kataku dengan perasaan lega yang langsung menjalar ke semua bagian tubuhku.

Oh Ya Tuhan, Galuh Pratiwi, You're really stupid lucky people!! Welcome to Paris! Welcome to Iceland!

*Cerita akan berlanjut ke PART 2, apakah benar kesialanku sudah berakhir??? Nantikan episode selanjutnya.


0 comments:

Posting Komentar