Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work

8.18.2015

[3] MALAKA TRIP: Meteran Taksi terus berjalan dengan cepatnya..40RM..45RM..50RM..sementara duit gue tinggal 30 RM. Mati!

Cerita PART 2 disini.

Jantungku terus berdegup kencang..

Mataku terus memandang kotak digital kecil ber-angka itu tanpa berkedip sedikitpun..

Meski tempatku duduk sangat nyaman dan sejuk, bulir keringat mulai berjatuhan..

40..42..44..46..48..50..setiap 100 meter berjalan bertambah 2..

Jalanan kanan kiri adalah tol menuju bandara,

tidak ada kesempatan turun..

Tanganku merogoh kantong,

uangku tinggal 30 ringgit!

Matilah aku!


KUALA LUMPUR, 2 Februari 2013
16.00 waktu Malaysia
              Sesaat setelah turun dari bus Maju yang membawa gue selama 2 jam perjalanan dari Malaka ke Kuala Lumpur, gue sama sekali nggak mendapat firasat bahwa sesaat lagi  akan mendapat kesialan . Sial lagi. Ya, cukup banyak kesialan yang gue dapatkan selama solo trip  pertama gue itu, tapi itu sudah kucatat di buku hitam gue sebagai "things don't ever do it again when traveling".

              Setelah berputar-putar cukup lama, sampailah bus-gue di Terminal Bersepadu Selatan (TBS), Kuala Lumpur. Meskipun gue sudah beberapa kali ke KL, tapi inilah kali pertama gue menginjakkan kaki di TBS. Menurutku TBS ini sangat bagus dimana interiornya sangat modern sampai modelnya mendekati bandara, petunjuk setiap lokasi jelas, bersih, teratur, rapi dll pokoknya beda jauh lah sama terminal di negara gue tercinta. Sesaat setelah turun, gue segera mencari informasi tentang bus yang berangkat ke Bandara LCCT sore itu. Jarak TBS ini sendiri dengan Bandara LCCT sekitar 64 km.


Kenampakan interior Terminal Bersepadu Selatan yang sudah sangat modern
Sumber: tripadvisor.com

             Saat sedang sibuk mencari informasi bus itu mata gue secara nggak sengaja menangkap sebuah poster yang menyebutkan bahwa ada fast train  yang menghubungkan KL Sentral/Bandar Tasik Selatan dengan LCCT (transfer di Stasiun Salak Tinggi) dengan biaya hanya 10 ringgit. Kesalahanku karena aku nggak mencari informasi ini sesaat sebelum traveling. Saat membaca poster itu, aku tengak-tengok kesana kemari mencari orang yang bisa ditanyai. Itu adalah kesalahan besar karena ternyata ada yang mengincar gue sebagai mangsa penipuan. Huhuhu.

             Pose gue yang seperti orang kebingungan itu memancing perhatian seorang bapak berseragam putih biru yang langsung menghampiriku, singkatnya beginilah obrolan kami,
X  : Mau kemana?
G  : LCCT.
X  : Mari ikut saya.
G  : Kemana? Itu ada fast train ya ke LCCT.
X  : Tidak ada, fast train hanya ke KLIA saja. Sudah ikut saya.

Bodohnya gue percaya! dan supir taksi penipu itu jelas-jelas bohong karena memang ada kereta (transfer bus) yang ke LCCT. 

Saat itu gue berpikiran optimis aja, mungkin dia mau nyariin gue bus atau apa. Gue juga berpikir dia nggak akan mungkin berani macem-macem di tengah keramaian terminal kaya gini. Akhirnya gue pasrah aja ikut dia. Entah kemana pokoknya kami turun sampai ke lantai dasar. *semacam tempat parkiran

Gue akhirnya tersadar dia bukan mau bantuin gue cariin bus atau apa, tapi dia adalah supir taksi a.k.a dia nawarin nganterin gue ke LCCT dengan taksinya. Saat itu gue bersikeras menolak karena duit ringgit di kantong tinggal 30 ringgit, dan itupun sebagian bakal gue buat beli makan di LCCT. Tapi supir taksi penipu ini terus maksa, "Flight kamu tidak akan terkejar, percaya awak! percaya awak!"

PREEETT, padahal waktu itu baru menunjukkan jam 16.30, aku baru bisa check in jam 19.00 karena penerbanganku ke Filipina jam 21.00!

Akhirnya karena menyerah terus dipaksa, gue pun mau naik tapi dengan syarat gue minta diturunin ke KL sentral karena setelahnya gue akan naik bus/kereta dari sana. "Oke", katanya.

Mesin dinyalakan, "DEG!" Argo langsung menunjukkan 6 ringgit. Perasaan gue udah nggak enak aja nih!

Di dalam taksi supir penipu ini masih aja mempengaruhi gue buat langsung ke LCCT aja dengan gaya bahasa yang sangat persuasif, gue yang beberapa kali nolak akhirnya kalah  dan mempersilahkan supir ini bawa gue ke LCCT. Saat itu yang ada di pikiran gue, 30 ringgit itu udah termasuk duit yang banyak. Jadi ya sial-sialnya, gue nggak bisa makan malam ini di LCCT.

Tapi ternyataaa..oh my God, semakin taksi berjalan cepat, argometer berjalan dengan semakin derasnya. Dari 22, 24, 26, 28, 30!!! Mati nggak gue, saat itu badan gue udah lemes dan dipenuhi keringat dingin. 30 ringgit masih menempuh jalan sekitar 13 km ke bandara, mana jalanan kanan kiri seperti tol yang sepii banget -ala jalanan Indonesia kalau mau menuju bandara- sehingga nggak ada pilihan buat gue selain bertahan didalam taksi.

Keringat dingin gue semakin mengucur deras saat argo sudah menunjukkan angka 50 ringgit tapi jarak ke LCCT masih sekitar 40 menit lagi. Gue pun mulai bicara nggak jelas ke supir penipu dengan nada mau nangis.

 G  : "Pak apakah saya bisa diturunkan di sekitar sini saja? Sepertinya uang saya tidak cukup lagi" kata gue dengan muka melas.
 X  : "Tadi bilang punya uang, memang situ bawa uang berapa??"
Gue diem aja, jelas bakal diketawain kalau dia tahu gue cuma punya 30 ringgit.
 G : " Saya kira nggak semahal itu." jawab gue dengan cuek, padahal dalam hati nangis
 X : " Ah bagaimana kamu itu, ini bagaimana, sudah hampir 60 ringgit. Tidak bisa turun disini, nanti diturunkan di Stasiun Putrajaya di depan."

Gue pasrah aja, dalam hati udah nangis-nangis dan nyumpahin kenapa tadi lu bohongin gue tentang fast train, sekarang mungkin ini balasan dari Tuhan, gue bohongin dia balik secara nggak sengaja.

Akhirnya gue diturunin di Stasiun Putrajaya, dan karena duit ringgit tidak cukup terpaksa aku bayar pakai dolar singapore (20 SGD). Penipu ini sempet muni-muni dan menelepon temannya untuk tahu nilai tukarnya, masih sempetnya bilang "Masih kurang 10 ringgit ini, bagaimana?" Dasar, apa nggak tau muka gue udah melas semelas ini, gue pun terpaksa nambahin 5 ringgit lagi. Sebelum pergi, dia sempatnya ketawa-tawa, "Kasian sekali kamu ini." 
Rute fast train
Sumber: lcct.co.my

Akhirnya gue pun ke tempat pembelian tiket fast train  di lantai atas dan membeli tiket cuma seharga 5 ringgit. Dalam hati gue udah menyesal banget kenapa gue nggak naik ini dari awal :( . Keretanya nyaman, luas, ber-AC, cepet banget nyampenya.


Kenampakan fast train yang melayani transportasi ke bandara (KLIA maupun LCCT)
Sumber: wikipedia.org

Ya Tuhaaannn...gue cuma bisa mengucap syukur sedalam-dalamnya saat akhirnya nyampai di LCCT...

PS: Gue cuma bawa duit sedikit di Kuala Lumpur karena emang nggak berencana jalan-jalan kesini, cuma transit aja dari Malaka sebelum terbang ke Filipina. Seharusnya itu sudah lebih dari cukup!!


0 comments:

Poskan Komentar