Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work

2.15.2016

Hutan Kera Nepa 10 September 2015: Dilarang mengambil kera!

Perjalanan saya di Madura berlanjut ke Hutan Kera Nepa. Sebuah hutan di pesisir Laut Jawa yang sarat cerita sejarah.

Beberapa kilometer keluar dari Air Terjun Toroan (pada Jalan Sampang - Ketapang - Banyuates), sementara berkendara santai di atas motor, sudut mata saya melihat ada plang bertuliskan "Hutan Kera Nepa". Menurut beberapa sumber yang saya baca, lokasi Hutan Kera Nepa ini ternyata masih satu kawasan dengan Air Terjun Toroan. Hutan Kera Nepa terletak di Desa Nepa, Kecamatan Banyuates. Saya mengarahkan motor mengikuti petunjuk plang tersebut dan kebingungan karena saya malah mutar-mutar di perkampungan dengan jalan sempit.

Saya pesimis. 

"Masak hutan ada di tengah kampung begini? Tetapi plang-nya benar menunjukkan ke arah sini kok."

Akhirnya setelah bertanya kepada seorang bapak, saya pun sampai di Hutan Kera Nepa. Ternyata Hutan Kera Nepa ini memang terletak di ujung kampung, pada pesisir Laut Jawa Utara. Saat kami datang suasana sangat sepi, tak ada wisatawan sama sekali padahal waktu itu sedang akhir pekan. Kami hanya perlu membayar Rp 3000 untuk biaya parkir motor, setelahnya masuk kesini gratis.
 Dilarang menebang pohon dan mengambil kera (GALUH PRATIWI)

Begitu memasuki gerbang bertuliskan Hutan Kera Nepa, saya sudah disambut oleh puluhan kera yang malu-malu mendekati saya. Mereka cukup jinak dan tidak agresif sama sekali. Tetapi saya tetap berhati-hati. Saya sudah tahu trik-trik kera seperti ini, dan menjaga semua bawang bawaan saya dengan super ekstra hati-hati. Hal yang menurut saya sedikit lucu, pada bagian depan gerbang terpampang larangan untuk "mengambil kera". Saya pikir siapa yang akan mencuri kera disini ya? 

Begitu memasuki hutan lebih jauh, di kiri kanan kami terhampar tumbuhan tropika yang menjulang tinggi dan rapat. Sinar matahari sore menyeruak melalui celah ranting dan dedaunan. Kami berjalan semakin ke dalam dan menikmati udara segar yang berhembus melalui dedaunan. Semakin ke dalam, jumlah monyet yang melirik-lirik kami semakin sedikit. 
Kera-kera jinak di Hutan Kera Nepa (GALUH PRATIWI)

 Bagian dalam Hutan Kera Nepa (GALUH PRATIWI)

Rimbunnya pepohonan di Hutan Kera Nepa (GALUH PRATIWI)

  Bangku-bangku kosong (GALUH PRATIWI)

Kera jinak dan tidak agresif (GALUH PRATIWI)

Fasilitas yang disediakan di dalam Hutan Kera Nepa ini sendiri menurut saya sudah cukup yakni terdapat beberapa bangku panjang dan tempat sampah. Sepenglihatan saya, tempat wisata ini sangat bersih hampir tak ada sampah sedikitpun, hanya guguran dedaunan yang menghampar luas.

Berdasarkan literatur yang saya baca, Hutan Kera Nepa ini ternyata bukan sekedar hutan dengan puluhan kera di dalamnya. Konon, di dalam hutan ini ada dua kelompok kera yang menempati dua bagian dari kawasan hutan yaitu sebelah utara dan selatan. Dua kawasan itu dibatasi oleh sebuah kayu yang dianggap sebagai tugu perbatasan. Mitos yang berkembang, masing-masing kelompok kera tidak akan mau menyeberangi atau melewati tugu tersebut kecuali ada kera yang sakit atau membutuhkan pertolongan untuk melahirkan. Mitos lainnya yang berkembang dari masyarakat sekitar, hutan ini merupakan merupakan tempat berpijaknya manusia pertama kali yang babat alas pulau madura bernama Bindoro Gong (pada abad XII-IX).
"Bindoro Gong merupakan pendatang yang mendirikan kerajaan pertama kali di Madura dan mewariskan kerajaannya kepada putranya bernama Raden Segoro (yang dimakamkan di tengah hutan dengan penanda/ nisan berupa kayu pohon). Karena Raden Segoro tidak mempunyai ahli waris maka sebelum meninggal dia menunjuk seorang pemimpin untuk menggantikannya. Karena merasa tidak puas dengan pemimpin yang baru maka kedua kelompok rakyat pun sering bertikai, Raden Praseno bersedih melihat hal ini dan akhirnya beliau membagi wilayah tersebut menjadi dua bagian,
Tapi dasar sifat manusia yang selalu kurang puas dengan apa yang didapatkannya mereka masih sering bertikai antara kelompok satu dengan yang lainya dan pada akhirnya membuat dewata marah dan mengutuk mereka menjadi monyet dan memberi penanda diantara batas wilayah tersebut dengan patok kayu (pohon) dan barang siapa melanggar batas kayu tersebut akan mendapat kutukan bertubi tubi kecuali yang melanggar untuk saling memberi pertolongan dan pengobatan (kera yang sakit dan akan melahirkan)."
Well, sejarah yang sangat menarik dari tempat wisata yang secara tidak sengaja saya temukan dan kunjungi. Saya selalu tertarik dengan tempat sederhana yang menyimpan banyak sejarah, dan Hutan Kera Nepa telah membuktikannya.

0 comments:

Poskan Komentar