Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work

7.26.2016

Yogyakarta, 16 Februari 2015 : Wisuda

Universitas Gadjah Mada
16 Februari 2015

Hari ini aku wisuda. Hari yang pasti ditunggu oleh semua mahasiswa. Hari dimana para orangtua akan tersenyum bangga melihat anaknya sudah menjadi sarjana. Hari dimana para sahabat akan berebut foto bersama dan membawakan kado istimewa. 

Tapi aku biasa saja.

Jujur aku tidak terlalu memandang prosesi wisuda sebagai sebuah prosesi yang membahagiakan. Yah, mungkin karena aku terlalu memikir ke depan. Apa langkahku selanjutnya? Apakah aku siap magang di bank? Atau menjadi pengangguran dahulu beberapa bulan?

Satu-satunya kebahagiaanku hanya, aku bisa terlepas dari beban tugas-tugas kuliah dan ujian semester yang membelengguku selama 4,5 tahun terakhir. Aku terbebas dari kewajiban harus bolak-balik Solo-Jogja memakai motor. Hahaha. Memikirkan itu semua membuat otakku sedikit plong.

Aku melihat orangtuaku tersenyum bahagia dan bangga. Yah, bagaimanapun, mereka tahu bagaimana perjuanganku kuliah sampai wisuda ini. Aku harus berjuang mempertahankan nilaiku tetap diatas kategori 'baik' untuk mempertahankan beasiswaku. Aku harus berjuang memahami materi IPA yang kadang susah kumengerti (karena aku dari jurusan sosial). Tetapi senyum mereka sedikit mengurangi kegalauan hatiku tentang masa depan yang belum pasti.

Bagaimanapun, aku tetap tersenyum.


Malam sebelumnya
Yogyakarta, 15 Februari 2015

'Dimana teman-temanku saat aku membutuhkan mereka?' aku menggerutu kesal. Dari dua orang yang kutanyai apakah aku boleh bermalam di rumahnya untuk malam ini, keduanya menunjukkan kesan penolakan. Aku malas membalas, kututup HPku sembari berkendara tanpa arah.

Sehari sebelum wisuda, aku memang datang sendiri ke Jogja naik motor. Orangtuaku rencana akan menyusul besok pagi langsung dari Solo. Sebenarnya sudah ada satu temanku yang menawarkanku untuk tidur di kosnya. Tetapi sewaktu kuhubungi, dia sedang pergi bersama orangtuanya. Aku harus menunggunya kembali, entah sampai jam berapa.

Kekesalanku memuncak. 'Seharusnya orangtuaku disini! Seperti teman-teman yang lain!' gerutuku.

'Apa aku menginap saja di hotel? Ah, tapi uangku terbatas. Belum lagi besok harus dandan, bangun jam 3 pagi.'

Kebetulan memang aku akan dandan wisuda bersama kedua temanku di kosnya. Kosnya yang rencana kutiduri malam ini. Aku hanya bisa pasrah, berarti aku memang harus menunggunya.

Salah satu temanku yang menunjukkan kesan penolakan tadi, tiba-tiba mengajakku bergabung di salah satu cafedangan di pinggiran Jogja. Aku yang tidak punya tujuan pun menyetujui. Lagipula masih pukul 9 malam. Temanku yang kuinapi kosnya belum ada tanda-tanda akan pulang.

Aku sama sekali tidak menikmati waktuku di cafedangan. Pikiranku kalut, kesal, dan badanku letih. Aku ingin berbaring di kasur! Itulah keinginanku saat itu. Aku memesan minum asal-asalan. Lebih banyak menghabiskan waktu menelfon temanku dan berdiam. Sungguh aku kesal. Akhirnya sekitar pukul sebelas malam, aku undur diri karena temanku sudah menghubungi. Akhirnya aku tertidur juga di kos temanku. Jam tiga pagi dibangunkan untuk dandan, ribet sekali jadi cewek ini ya! Hahaha. Bayangkan cowok, bangun mepet pun bisa. Tinggal mandi, pakai kemeja, celana, sisiran sama pakai toga.


Universitas Gadjah Mada
16 Februari 2015

Prosesi wisuda berjalan cukup baik. Acara dimulai dengan serentetan pidato pembukaan dan ucapan selamat yang seperti tanpa akhir. Sangat klasik. Kuhabiskan waktu dengan main game di HP Oppo Joy-ku. Aku kurang tertarik mendengarkan ceramah.

Acara dilanjutkan dengan penyerahan ijazah. Mahasiswa/i berotak jenius dengan IPK tertinggi di setiap fakultas dipanggil pertama kali. Ada yang IPK-nya 4.00, membuatku berpikir, kenapa dia harus menyiksa otaknya seperti itu. Penyerahan ijazah mereka dilakukan oleh rektor. Well, tentunya menjadi kebanggaan lebih bagi orangtua mereka ya, saat nama anaknya disebut sebagai salah satu yang memperoleh IPK terbaik.

Setelah para jenius dipanggil, giliran kami dipanggil. Dipanggilnya cukup cepat, karena memang banyak sekali yang diwisuda.

"Galuh Pratiwi, Fakultas Teknik, Cumlaude."

Aku menerima ijazahku dari Pak Dekan dengan khidmat. Empat setengah tahun untuk selembar kertas ini. Benar-benar perjuangan yang berbuah manis.

Setelahnya acara masih berlanjut dengan hiburan dan paduan suara.Semuanya terlihat bangga memelototi ijazah masing-masing. Perjuangan berbuah manis kan?

Selesai acara aku menemui kedua orangtuaku dan melanjutkan sesi foto dengan stan foto dadakan yang banyak berjajar di Graha Saba Pramana. Kemudian prosesi wisuda berlanjut ke jurusanku, teknik geologi. Disana kami diberikan momento wisuda dan sertifikat cumlaude. Syukurlah, acara berjalan dengan lancar!

Terimakasih UGM!

0 comments:

Poskan Komentar