Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work

1.05.2020

Solo, 5 Januari 2020: SORE, HUJAN dan SECANGKIR KOPI

Harum kafein selalu menenangkanku. Seakan-akan setiap kepulan asap kopi hitam mampu menenangkan sel-sel di otakku dari permasalahan hidup ataupun kekuatiran yang datang setiap hari.

Satu tegukan kopi hitam masuk lagi ke kerongkonganku, menemaniku menulis saat ini. Karena saat ini, menulis adalah satu-satunya tempat dimana aku bisa mencurahkan isi hatiku. 

Hujan rintik-rintik masih mendera kotaku menciptakan atmosfer yang sejuk menyegarkan. Sore ini aku tidak bisa duduk di taman miniku karena disitu sedang hujan. Aku menyukai momen kesendirian ini, dengan rintikan hujan dan segelas kopi. 

Tahun 2020 memang diawali dengan kekecewaanku terhadap beberapa penambang yang dengan begitu saja melupakanku, tidak memberikan pembayaran yang seharusnya, saat aku sudah bekerja untuk mereka. Memang sakit hati ini dan emosi. Di saat aku sudah bekerja sebaik-baiknya, mereka justru melupakanku disaat sudah mendapatkan apa yang mereka mau. Aku tidak habis pikir, kok bisa mereka tega seperti itu? Aku sempat emosi, namun kini aku hanya bisa diam. Aku menahan dan berusaha melupakan semua perasaan marah yang menyebabkanku menderita ini. Aku tidak berharap, namun aku yakin hukum karma sebab akibatlah yang akan membalas kelakuan mereka. 

Aku juga mengingat temanku. Disaat dia jauh seperti tidak mengingatku lagi, seperti dia sibuk dengan urusannya sendiri. Padahal dia tau disini aku sendirian, hanya bekerja setiap hari. Aku biarkan saja dia menikmati kesibukannya disana, sementara aku mencari dan menemukan kedamaianku sendiri disini. Kedamaian sore ini, dengan secangkir kopi dan uap dari tanah karena kucuran hujan sore ini. 

Siang ini aku sudah selesai melakukan survei lokasi pencairan tambang di Mantingan, Kabupaten Ngawi. Semuanya berjalan dengan lancar. Aku sudah mendapatkan semua data yang kubutuhkan, dan mungkin aku membutuhkan 2 minggu untuk mengerjakan dokumen tersebut setelah bapaknya membayar DP. Biaya penyusunan dokumen tidak banyak, hanya 7.5 juta. Itupun akan dibayar secara bertahap oleh bapak penambang. Tidak masalah. Akupun sedang sedikit lesu untuk bekerja setelah semua kekecewaan yang kualami, namun aku masih ingin membantu mereka yang benar-benar serius.

Aku sudah juga mengabari salah satu penambang Ngawi lainnya bahwa area tambang yang mereka ajukan ternyata tumpang tindih dengan penambang lain. Setelah menikmati kopiku, sejenak lagi aku akan mulai menyelesaikan gambar 9 peta blitar yang WAJIB kukirim malam ini kepada klienku. 

0 comments:

Posting Komentar