Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work

1.10.2015

Prosedur Persiapatan dan Menyayat Sayatan Petrografi

        Preparasi sayatan adalah suatu tahap untuk mendapatkan gambaran mineral-mineral dalam bentuk sayatan tipis, sehingga membutuhkan alat-alat dan proses tertentu untuk melakukannya. Di dalam pengamatan sayatan tipis, haruslah menggunakan mikroskop petrografi yakni mikroskop polarisasi. Pada praktikum kali ini, kami melakukan tahap-tahap pemrosesan untuk mendapatkan sayatan tipis dari suatu batuan ataupun mineral.
          Adapun alat dan bahan yang diperlukan dalam preparasi sayatan ini adalah:
1. Gergaji mesin, fungsinya adalah untuk mengiris atau menyanyat batuan untuk mendapatkan ukuran yang sesuai. Ukuran diameter gergaji diusahakan antara 36 – 71 cm. Persiapan awal: panjang sayatan: 3,5-5 cm, lebar sayatan 2,5 cm, tinggi sayatan 0,5 cm.
gergaji mesin (warna putih di belakang tangan)

 2. Karborundum (silicon karbida) adalah bubuk abrasif yang berisi kabrida silicon yang terikat dengan tanah liat ataupun bahan-bahan lain. Digunakan dalam instrument putar penggerinda. (Sumber: Kamus Kedokteran Gigi). Fungsinya adalah untuk meratakan preparasi sebelum dan sesudah pengeleman. Pada tahap terakhir, untuk mengetahui apakah suatu mineral terlalu tebal atau tidak (acuan 0,0035 mm), menggunakan dasar warna interferensi mineral tertentu. Misal menggunakan mineral kuarsa. Jika diamati menggunakan mikroskop polarisasi XPL plagioklas berwarna kuning, berarti sayatan masih cukup tebal dan perlu ditipiskan lagi menggunakan karborundum dengan mesh yang lebih besar. Aturan untuk mesh adalah, semakin besar angka mesh, ukuran bubuk karborundum semakin kecil dan semakin akurat jika digunakan untuk menipiskan sampel pada ukuran yang sangat kecil. Digunakan 4 macam ukuran mesh: 320, 600, 1000, 2000.
bubuk karborundum mesh 320

 3. Balsam Kanada disebut juga terpentin (minyak tusam) Kanada atau balsam pohon cemara Kanada. Balsam ini terbuat dari resin pohon cemara (Abies balsamea) yang berasal dari Amerika Utara. Ciri fisik dari resin ini adalah cairan kental, lengket, berwarna kekuningan. Pada pemrosesan selanjutnya, resin ini dilarutkan dalam minyak esensial. Jika minyak esensial telah diuapkan, maka warna resin ini menjadi kekuningan transparan. Karena kesamaan nilai indeks refraksi dengan kaca (n = 1,55), maka balsam Kanada ini biasa digunakan untuk keperluan optik yaitu sebagai lem atau perekat batuan yang telah dipotong dengan slide. (wikipedia.com).
balsem kanada dan tumbuhan yang menghasilkannya Abies balsamea

 4. Lem Entelan berfungsi untuk merekatkan slide pada sampel yang telah disayat. Indeks bias entelan ini sendiri hampir sama dengan Balsam kanada yakni 1,49 – 1,50 . Karena itulah perannya dapat saling menggantikan dengan balsam Kanada. 
lem entelan

 5. Epoksi, juga dikenal sebagai polyepoxide adalah adalah sebuah polimer epoksi yang merupakan hasil reaksi antara resin epoxide  dengan polyamine. Fungsinya adalah untuk merekatkan sampel dengan kaca penutup, dilakukan saat sampel dalam keadaan panas (setelah dikeringkan kandungan airnya dengan dipanaskan di atas lampu spiritus).
epoksi

 6. Mesin grinda, digunakan untuk meratakan sampel. Posisi grinda untuk meratakan sampel ada dua macam yakni horizontal dan vertikal. Grinda yang digunakan pertama adalah yang horizontal, dimana menggunakannya harus dengan menggunakan bubuk karborundum mesh 320. Setelah dilakukan pengeleman, maka baru dilakukan perataan dengan grinda yang vertikal.
mesin grinda horisontal (kiri) dan mesin grinda vertikal (kanan)

7. Resin adalah zat polimer alami ataupun sintetik yang salah satu fungsinya adalah dapat mengikat kation dan anion tertentu.  Resin ini digunakan ketika sampel yang akan diamati dalam sayatan tipis berupa material lepas-lepas. Jadi dengan resin, material lepas-lepas tersebut akan dijadikan satu terlebih dahulu.
resin

 8. Slide dan kaca penutup berfungi untuk meletakkan sampel dan menutup sampel.
9. Kertas perekat berfungsi untuk memberi nama sampel setelah jadi.
10. Alat tulis untuk memberi nama sampel.

TAHAP PELAKSANAAN
1. Tahap pertama adalah menyiapkan sampel yang akan dipreparasi. Sampel bisa batuan beku, batuan sedimen, batuan metamorf, sedimen (material lepas), maupun batuan piroklastik.
2. Tahap kedua adalah pemotongan sampel menggunakan mesin gergaji. Bagian batuan yang dipotong diusahakan adalah yang mewakili sehingga hasilnya bisa maksimal. Pada waktu tahap pemotongan batuan, harus disemprotkan juga air untuk mengurangi panas akibat gesekan yang kuat.

Ukuran pemotongan batuan untuk preparasi adalah panjangnya 3,5 – 5 cm; lebarnya 2,5 cm; tingginya 0,5 cm.
3. Tahap ketiga adalah tahap perataan sampel yang telah dipotong. Perataan ini menggunakan mesin grinda yang posisinya horizontal. Untuk melakukannya, digunakan karborundum mesh 320. Tahap perataan ini diusahakan sampai setipis mungkin.
Setelah selesai, dilakukan lagi perataan sampel dengan menggunakan karborundum mesh 600. Perataan dilakukan di atas media kaca, karena memanfaatkan bidang kaca yang benar-benar datar.

4. Tahap keempat adalah pengeleman. Untuk itu, hal yang harus disiapkan adalah slides dan lem entelan atau balsam Kanada. Pengeleman sampel dilakukan pada bagian tengah slides dan diusahakan sekencang mungkin supaya sampel tidak lepas sewaktu dilakukan perataan dengan mesin grinda maupun karborundum.

5. Tahap kelima adalah perataan kembali dengan menggunakan mesin grinda yang vertikal. Pada waktu perataan kedua ini, juga disemprotkan air untuk mengurangi panas akibat gesekan yang kuat.

Setelah selesai diratakan dengan mesin grinda vertikal, dilanjutkan dengan perataan akhir menggunakan karborundum mesh 320, mesh 600, dan mesh 2000 untuk mendapatkan ketebalan yang benar-benar diharapkan (0,0035 mm). Setiap selesai meratakan dengan mesh tertentu, dilihat kenampakannya dahulu di bawah mikroskop, apakah ketebalannya sudah tepat atau belum melalui ciri-ciri warna interferensi mineral tertentu. Jika belum tepat, digosokkan lagi ke karborundum 2000. Jika sudah tepat ketebalannya, dilanjutkan ke tahap terakhir yakni pengeringan sampel dan perekatan kaca penutup.

 6. Tahap keenam adalah pengeringan sampel dan penutupan sampel dengan kaca penutup dengan epoksi untuk menghindari kerusakan atau kontaminasi pada sampel. Pengeringan sampel dilakukan di atas pembakar bunsen selama kurang lebih 5 – 10 menit, tujuannya adalah menguapkan semua kandungan air pada sampel. Jika dirasa sudah kering, sampel diambil dan diteteskan epoksi pada bagian tengahnya, kemudian diberi kaca penutup. Epoksi diusahakan diberi pada bagian tengah sampel supaya setelah kaca penutup diletakkan, sisa epoksi bisa didorong keluar dari pusat sehingga tidak menimbulkan kenampakan gelembung saat sayatan diamati. Adanya gelembung bisa menyebabkan gangguan pada pengamatan ataupun salah penafsiran.
Setelah sampel selesai ditutup dengan kaca penutup, maka langkah terakhir yang juga penting adalah memberi nama atau kode pada preparasi. Setelah itu, sampel sudah siap untuk diamati lebih lanjut.

0 comments:

Poskan Komentar