Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work

4.20.2016

Tanah Timor LELEBO 5 : Perbatasan Indonesiaku (2)

Desa Rinbesi hat - tempat kami tinggal sekarang - berlokasi di Halilulik, tepatnya 20 km sebelum Kota Atambua. Dan sesuai tradisi kebanyakan desa di NTT, terdapat pasar mingguan yang merupakan tempat berkumpulnya pedagang dari beberapa desa maupun kecamatan terdekat. Demkian juga dengan Desa Rinbesi Hat. Hari ini adalah hari Kamis, hari spesial bagi masyarakat desa karena semua pedagang akan tumpah ruah berkumpul dipasar. Ane, Fredo dan Arin tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Setelah ritual bersih-bersih, kami segera meluncur ke Pasar Kamis Halilulik menggunakan motor pinjaman saudara Mama Tere.


Pertanyaannya gan, terus apakah di hari lainnya tidak ada pasar? Tentu saja ada, tetapi hanya pasar kecil gan. Tidak selengkap, semeriah dan seramai Pasar Kamis ini. Terus bagaimana keramaian Pasar Kamis Halilulik ini? Well, tidak perlu diragukan lagi. Hari ini, baik penjual maupun pembeli akan betumpah ruah memenuhi suatu lapangan yang dialihfungsikan menjadi pasar, bahkan sampai ke badan jalan sekalipun. Dari sini bisa ditebak akan terjadi macet parah. Macet parah di NTT? Ya! Itu mungkin terjadi pada hari pasar hehehe.

Trus apa aja yang dijual di hari pasar ini? Hmm, besong (kalian) mencari apa? Tinggal putar-putar pasti ketemu. Hampir semua kebutuhan rumah tangga mulai dari primer, sekunder, tersier ada semua dengan harga yang sangat terjangkau. Hal ini dikarenakan penjual biasa mengulak secara borongan sehingga ketika dijual kembali, harganya menjadi tidak terlalu mahal.

Secara umum, barang dagangan yang dijual di hari pasar terbagi menjadi 3 yaitu:

Primer
Sembako lengkap, pakaian anak hingga dewasa, lauk pauk dari yang mentah hingga matang, minyak tanah, sirih pinang (disana ini merupakan kebutuhan pokok sebagian besar masyarakat, terutama yang sudah berumur), sagu goreng, jagung, sayur-sayuran, siomay (kebutuhan primer ane hehe), obat-obatan.

Sekunder
Perlengkapan masak, sandal sepatu, payung, pernak-pernik, alat mandi, bumbu-bumbu masak, buah-buahan (kebanyakan pisang dan nanas), singkong, sabun cuci, toples-toples plastik

Tersier
Kaset CD lagu-lagu lokal maupun Ambon dan keperluan lainnya.

Disini, ane sempat belanja beberapa keperluan seperti payung, sisir dan rosario. Selain itu juga jajan pentol serta sagu goreng. Ane memang sangat menyukai pasar tradisional gan. Karena saat disini, kita bisa benar-benar berbaur dengan masyarakat, merasakan bagaimana hidup bersama mereka. Kami disini sampai pukul 10 pagi. Setelah semua keperluan dan perut sudah sedikit terisi, kami pulang sebentar untuk mengantarkan Mama Tere dan bersiap-siap melanjutkan perjalanan.

Kabupaten Timor Tengah Utara, tepatnya Pantai Tanjung Bastian akan menjadi tujuan utama kami hari ini. Untuk menuju Pantai Tanjung Bastian, rute yang harus dilewati yakni Halilulik - Atambua - Jalan Raya Atambua-Atapupu - Jalan Raya Atambua-Sakato - Wini. Karena tidak mau merepotkan Ardjo lagi, dan supaya bisa bebas berpetualang, hari itu kami menyewa motor saudara Mama Tere seharga Rp 60.000,00/hari.  Kebetulan Rinel dan Lena, saudara Mama Tere ikut serta sehingga Fredo harus memboncengkan mereka berdua, sementara ane sama Arin hehehe.

Sampai di Kota Atambua, kurang lebih setengah jam perjalanan dari Halilulik, kami sempatkan untuk sarapan bakso dulu di Kota Atambua dan mengisi full bensin. Karena berdasarkan pengalaman ane, cukup susah menemukan bensin walaupun eceran sekalipun. Perjalanan dari Atambua ke Winnie ini awalnya membosankan dan kita sempat bertanya arah kepada warga, namun seiring meraungnya mesin motor ini, ane benar-benar mendapatkan pemandangan terindah dalam karir traveling ane. 


Jalan mulus yang awalnya datar dan penuh padang savana berubah menjadi bergelombang dengan perbukitan hijau yang menghampar tinggi di kiri dan kanan jalan. Disini karena masih jarang rumah, kita bisa mendapatkan jarak pandang yang begitu jauh dan semuanya hijau. Indah! Sesekali kami menjumpai tambak-tambak garam yang berjajar rapi. Jalanan begitu sepi seperti milik sendiri gan. 

Perjalanan Atambua-Wini (MUTYA PRAMESWARI)


Savana di sepanjang perjalanan Atambua-Wini (MUTYA PRAMESWARI)


Savana di sepanjang perjalanan Atambua-Wini (GALUH PRATIWI)

Mendekati Kota Wini, jalanan semakin bergelombang dan meliuk-liuk tajam. Perbukitan Kolboki dan Bastian berwarna zamrud menghampar di kejauhan. Savana menghampar luas. Rumah-rumah penduduk sederhana berbentuk lopo-lopo sesekali terlihat. Anak-anak desa yang bermain dengan permainan sederhana mereka (roda yang didorong dengan kayu, atau sekedar menggelidingkan roda). Sepanjang perjalanan kami tak henti-hentinya dipandangi orang, serasa jadi artis.
Savana di sepanjang perjalanan Atambua-Wini (GALUH PRATIWI)


Savana di sepanjang perjalanan Atambua-Wini (GALUH PRATIWI)


Savana di sepanjang perjalanan Atambua-Wini (GALUH PRATIWI)

Setelah sempat kelewatan, akhirnya kami telah sampai di Tanjung Bastian. Tapi ane kaget dan kecewa! Seperti halnya Kolam Susu, Tanjung Bastian bener-bener sepi banget gan....nggak ada satu pun pengunjung selain kami meskipun penjaganya masih ada dan menarik kami Rp 3000,00/orang. Dan yang membuat ane lebih kecewa lagi, warna laut biru safir yang ane harapkan akan jumpai seperti dulu, harus dibuang jauh-jauh karena airnya berwarna coklat dengan gulungan ombak yang cukup tinggi. Lagi-lagi perasaan nggak enak sama Fredo dan Arin muncul. “Yahh, gimanapun mereka udah mengeluarkan biaya cukup banyak untuk trip ini, dan ane sudah menunjukkan 2 hal yang mengecewakan mereka.”

Untuk mengusir kekecewaan, ane tetap nyebur ke laut gan sama Rinel. Sewaktu sedang nyebur itulah gelombang kenangan sewaktu kesini tahun 2013 muncul. Waktu itu begitu banyak orang, lautnya begitu biru dan segar, ada batang pohon hanyut yang ane jadikan papan seluncur dadakan, ada final pacuan kuda (di pantai Tanjung Bastian memang ada arena pacuan kudanya gan). Hhhh, hembusan keras nafas ane memaksa menghilangkan semua kenangan itu dan fokus kepada 2 teman ane yang sudah ane ajak jauh-jauh kesini. Ane harus terus menunjukkan keindahan NTT kepada mereka, bukan malah galau. Itulah janji ane.


Pantai Tanjung Bastian bulan Juli 2013 (HARYA FRIENDITA)


Pantai Tanjung Bastian bulan Januari 2014 (MUTYA PRAMESWARI)

Sementara ane berenang dengan Rinel, Arin masih duduk-duduk sambil foto dan menikmati pemandangan. Fredo jalan kesana kemari sembari minta difoto Arin. Lena terlihat sedang mencari bebatuan bagus. Setelah puas berenang kesana kemari, ane segera bergabung dengan mereka.

Meskipun lautnya tidak terlalu mengesankan, tapi pemandangan perbukitan Kolboki dan Bastian di sekitarnya tetap bagus banget gan. Perbukitan terlihat menjulang dan meliuk-liuk tajam. Suburnya pepohonan membuat bukir tersebut semakin indah dipandang. Di pesisir Tanjung Bastian ini memang banyak sekali pohon gan sehingga membuat suasana menjadi sangat sejuk. 
Perbukitan dan hijaunya pesisir Pantai Tanjung Bastian (MUTYA PRAMESWARI)

Hijaunya pesisir Pantai Tanjung Bastian (MUTYA PRAMESWARI)

Selesai bersenang-senang, kami pun mendaki ke Gardu Pandang untuk melihat pemandangan dari atas, wuahhh, indahhh banget. Pepohonan tumbuh dengan suburnya menghias pesisir pantai, laut biru safir terbentang luas, langit biru cerah, burung camar berterbangan. Untuk menuju gardu pandang ini sendiri, hanya perlu mendaki sekitar 10 menit ke atas, nggak terlalu tinggi. Kami masih menikmati pemadangan beberapa saat disini, karena pemandangan ini akan jarang kami nikmati pas pulang nanti.
Mendaki ke gardu pandang (MUTYA PRAMESWARI)


Pemandangan Laut dari atas gardu pandang (MUTYA PRAMESWARI)

Perjalanan kami lanjutkan. Dengan berat hati kami turun dari gardu pandang dan menuju destinasi selanjutnya,Perbatasan Sakato. Perbatasan Sakato ini merupakan perbatasan Indonesia dengan enclave Timor Leste yang berada di Kabupaten TTU. Jarak dari Pantai Tanjung Bastian ke Perbatasan ini tidak terlalu jauh, hanya sekitar 5 km. Dalam perjalanan kesini, kami sempat mampir ke Pelabuhan Winnie. Tidak ada yang menarik di pelabuhan ini, hanya beberapa kapal barang yang sedang bersandar, kami segera saja melanjutkan perjalanan.
Gerbang masuk Pelabuhan Wini (MUTYA PRAMESWARI)


Kapal pengangkut barang di Pelabuhan Wini (MUTYA PRAMESWARI)
Perbatasan Sakato ini secara umum mirip dengan perbatasan Motaain, tetapi lebih sepi dengan latar belakang perbukitan yang indah. Sewaktu kami datang, tidak nampak sama sekali adanya penjaga disini, kami justru menjumpai kambing yang sedang berteduh di bawah gerbang perbatasan. Sama sekali tidak terlihat seperti perbatasan negeri sebelum kami melihat pos TNI di sebelah kiri jalan.  Kami pun segera menuju pos TNI untuk meminta izin memasuki perbatasan sampai imigrasi Timor Leste, ternyata kebanyakan TNI yang ditugaskan kesini orang Jawa juga. Sebelum menuju imigrasi Timor Leste, kami harus melalui jembatan dan garis kuning, sama persis seperti perbatasan Motaain. Sebelum sampai imigrasi, kami menjumpai lagi tugu selamat datang Timor Leste seperti yang ada di Motaain.


Enclave Timor Leste (bissauresiste.blogspot.com)


Gerbang perbatasan Indonesia-Timor Leste (MUTYA PRAMESWARI)


Jembatan sebagai pembatas resmi Indonesia-Timor Leste (MUTYA PRAMESWARI)


Imigrasi Timor Leste (MUTYA PRAMESWARI)

Kami pun diantarkan petugas dan disambut dengan salah seorang tentara Timor Leste di imigrasi. Imigrasi mereka sangat bersih gan dan kami diterangkan sedikit tentang daerah ini. Oleh tentara Timor Leste, kami dijelaskan tentang enclave Timor Leste ini, bagaimana mekanisme masuk ke Timor Leste membawa kendaraan, situasi di Timor Leste. Dari logatnya masih sama persis dengan orang Timor, membuat ane berpikir "ah, pastilah dulu kamu orang Indonesia". Kami menghabiskan beberapa saat disini untuk bercengkerama dengan para tentara dari kedua negara. Tentara Timor Leste baik-baik dan ramah orangnya.
Penjelasan oleh Tentara Timor Leste (MUTYA PRAMESWARI)

Karena hari sudah cukup siang kami bersiap melanjutkan perjalanan pulang ke Atambua. Sebisa mungkin  perjalanan malam Winnie-Atambua harus dihindari karena sepi banget, dan hampir tidak ada lampu. Rute yang kami lewatin sama persis dengan pas berangkat tadi. Di jalan pulang, ane sempat mampir di singkapan yang menarik dan cukup unik. Batugamping gan guratan pelarutannya yang cantik. Iseng-iseng, karena ane merasa menemukan, ane beri nama Batu Fetomane. Dari atas batu ini kita bisa melihat padang savana berwarna hijau yang membentang luas. Perbukitan menorehkan keperkasaannya di kejauhan sana. Membuat ane berpikir memang Indonesia itu negara yang sangat indah. 


Batu Fetomane (MUTYA PRAMESWARI)


Batu Fetomane (MUTYA PRAMESWARI)

Tak terasa, tiga jam berkendara, kami telah sampai di rumah Mama Tere lagi. Hari itu ane bahagia karena bisa menunjukkan sisi NTT yang benar-benar indah kepada kedua teman ane. Malam ini adalah malam terakhir kami di rumah Mama Tere jadi malam itu kami habiskan dengan mengobrol kesana kemari sampai mengantuk. Besok perjalanan ke Soe!

Lanjut ke : PART 6

0 comments:

Poskan Komentar