Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work

4.28.2016

[PART 13] Tinta Hindustan : Kami mau dibawa kemana?

Saat menyusun rencana perjalanan ke India, sebenarnya Gaya tidak aku masukkan dalam daftar kota yang ingin kukunjungi. Aku lebih memilih Kota Allahabad, sebuah kota 131 km sebelah barat Varanasi sebagai alternatif kota penyambung antara Agra dan Varanasi. Tetapi karena kehabisan tiket kereta Agra-Allahabad, aku memutuskan Gaya sebagai alternatif kota penyambung antara Varanasi dan Kolkata. Alasan klasik, aku tidak mau berada terlalu lama di kereta sehingga membutuhkan satu kota penyambung.

Ternyata Gaya inilah yang membuatku mendapat travelmate. Salah satu travelmate-ku yang beragama Buddha merasa terhormat dia bisa mendapatkan kesempatan mengunjungi Bodhgaya, tempat dimana Sang Buddha Sidharta Gautama memperoleh pencerahan. Bodhgaya bisa dikatakan merupakan salah satu tempat tersuci bagi umat Buddha. Sungguh India merupakan negara yang sangat unik dan beragam terbukti dengan lahirnya beberapa agama besar dunia di negara ini.

“Jreengg...jrenggg...Krepyar..Gaya Railway Hai.”

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam saat kami tiba di Stasiun Gaya. Begitu turun dari kereta semburan udara panas langsung menyerbu kami kembali meskipun tidak sepanas di Varanasi. Kami segera melangkah ke depan dengan harapan segera menemukan Auto Rickshaw untuk mengantarkan kami ke penginapan. Di pusat informasi, kami sempat bertemu turis wanita asal Amerika yang menyarankan kami untuk tinggal di stasiun saja sampai pagi, esok hari baru naik Auto Rickshaw ke Bodhgaya. Karena menurutnya adalah sangat rawan naik Auto Rickshaw tengah malam begini ke Bodhgaya. Jarak Stasiun Gaya dan Bodhgaya sendiri adalah 11 km.

Dengan kekeras-kepalaan kami, kami bertiga tetap saja mencari Auto Rickshaw untuk mengantarkan kami ke Bodhgaya saat itu juga. Mendapatkan supir yang cukup terpercaya – setidaknya dari wajahnya – dengan tarif 300 Rs, kami mulai berjalan meninggalkan Stasiun Gaya. Entahlah apa yang akan terjadi, kami hanya butuh udara dingin dan sebuah kamar untuk malam ini.

Semakin menjauhi Stasiun Gaya, jalanan menjadi semakin sepi dan gelap. Di kanan kiri hanya terdapat sawah dan sesekali rumah penduduk yang sudah tertutup rapat. Di depan hanya ada jalan gelap kosong yang seakan tak berujung. Hati ini mulai gelisah, sebenanya kami mau dibawa kemana? Aku sudah memikirkan berbagai alternatif jika supir ini mau berbuat jahat kepada kami. Salah satu alternatif yang aku pikirkan adalah langsung melompat dan bersembunyi di semak-semak. Sungguh alternatif yang sangat pengecut.

Menit demi menit berjalan seakan membuat keringat dinginku semakin mengalir deras. Aku juga bisa melihat di wajah kedua travelmate-ku, bahwa mereka juga ketakutan. Pix San mulai bertanya beberapa kali kepada supir, “Where you will taking us?” Si supir hanya menjawab dengan gumaman yang tidak jelas. Ketakutan kami semakin di ujung syaraf. Kami seharusnya mendengarkan nasehat turis wanita Amerika tadi!

Setengah jam kemudian, kami sampai di sebuah pertigaan dan supir Auto Rickshaw bertanya kepada kami, “Where you will stay?”. Pix San segera menjawab nama penginapan yang sudah kami  incar sebelumnya berdasarkan rekomendasi pemilik penginapan di Varanasi. Supir terlihat kebingungan dan mulai berbicara dengan Bahasa Hindi kepada beberapa temannya yang berada di sekitar pertigaan. Keringat dingin mulai bercucuran, ‘Apa yang mereka bicarakan? Apa mereka sedang merencanakan sesuatu untuk berbuat jahat kepada kami?’ Aku benar-benar benci perasaan ketakutan seperti ini. Tidak ada satupun dari kami yang bisa bela diri atau semacamnya. Kami pasrah sewaktu supir mengemudikan Auto Rickshaw menuju gang kecil yang cukup padat pemukiman.

Tiba-tiba, dengan sentakan rem ringan, supir Auto Rickshaw meminta kami turun. Kami diturunkan di depan sebuah rumah besar yang belakangan kutahu adalah penginapan yang akan kami inapi malam ini. Ternyata kami sudah sampai! Aku bersyukur, kami masih selamat malam ini. Seharusnya ini merupakan salah satu pengalaman yang tidak boleh kami ulang, apalagi jika solo backpacker.

Berunding singkat dengan penjaga penginapan, kami mendapatkan sebuah kamar – Air Conditioner – ya, AC dengan tarif 1000Rs per-malam. Penjaga penginapan itu adalah seorang  laki-laki India yang terus menerus bertanya kepada kami  tentang semua hal. Kami yang sudah bosan dan capek memaksa untuk cepat tidur dan masuk kamar. Kondisi penginapan terlihat kotor (di bak cuci saya jumpai piring kotor bertumpuk-tumpuk), tapi ah sudahlah, saya capek. Besok kami akan menjelajah Bodhgaya!

PS: Maaf tidak ada foto yang saya dan travelmate ambil karena posisi kami dalam keadaan capek karena sampai Gaya sudah tengah malam.


0 comments:

Poskan Komentar