Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work

10.23.2016

Diary Menggapai Himalaya 26 : Thamel

Thamel adalah surganya backpacker!

Bisa dikatakan, disinilah kita bisa mendapatkan segala kebutuhan dasar backpacker. Mulai dari ratusan penginapan murah, tour dan travel,perlengkapan treking, restoran dengan menu makanan barat sampai lokal, toko kaset yang terus menerus memutar mantra suci "Om Mani Padme Hum" dari pagi sampai malam, toko berbagai macam pernak-pernik mulai dari patung Buddha Gautama, perlengkapan bersembahyang umat Buddha, kaos-kaos, kartu pos, gantungan kunci, dan lain sebagainya. Bisa dibilang, semua kebutuhan dasar manusia bisa ditemukan di kawasan backpacker dengan ratusan cabang jalan yang membingungkan ini.

Kawasan Thamel dihubungkan oleh jalanan sempit (kira-kira 2-5 meter lebarnya) yang saling sambung-menyambung satu sama lain. Jangan heran kalau "tersesat" menjadi menu utama kami disini. Bahkan untuk mencari penginapan kami pun, kami harus sedikit memutar otak. Semua jalan dan gang terlihat sama, membuat kami harus mengingat-ingat beberapa bangunan otentik untuk menentukan arah.

Kami menginap di Thamel, sebuah guest house sederhana bernama Shangrilla Lodge. Letaknya sangat tidak strategis, kami harus membelok-belok masuk melalui sebuah gang kecil. Jalan di depan penginapan tersebut bahkan hanya selebar 1,5 meter. Cukup fair dengan tarif Rp 115.000/malam, kami mendapatkan sebuah kamar dengan 3 kasur berjajar, kamar mandi dalam, air panas, jendela lebar dengan angin sepoi-sepoi yang menyegarkan.

Di kawasan Thamel ini, traveler dari berbagai macam negara tumpah ruah disini. Mulai dari turis Eropa, Amerika, Asia, Amerika Latin, China, Jepang, Afrika, hilir mudik kesana kemari dengan menjinjing ransel mereka. Ada yang sekedar jalan santai, melihat-lihat paket tur, melihat berbagai macam souvenir, mempersiapkan perjalanan untuk mendaki gunung. Atmosfer yang benar-benar santai. Beban kehidupan seakan menguap disini, semuanya berjiwa muda. Bangga telah berhasil menaklukan separuh bola dunia untuk menginjakkan kaki di tanah kelahiran Sang Buddha.

Ritme perjalanan kami menurun. Kami yang sebelumnya di India menggunakan ritme jalan cepat, disini gerakan kami sedikit melambat. Rasa malas menyergap, seakan hanya ingin tidur dan menikmati suasana. Aku rasa semua orang disini juga begitu, ingin berdiam sembari menikmati hidup.

Ah Thamel, aku kangen.........
Kawasan Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu di pagi hari masih sepi (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu di pagi hari masih sepi (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

0 comments:

Poskan Komentar