Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work

10.23.2016

Diary Menggapai Himalaya 27 : Menyewa motor untuk keliling Kathmandu

Kathmandu kota yang cukup luas dan berdebu untuk ditelusuri dengan berjalan kaki. Karena jujur, tersesat di kawasan Thamel saja sudah membuat kakiku gempor, apalagi kalau harus berjalan keliling kota untuk mengunjungi tempat-tempat menarik disini.

Sewa motor menjadi pilihan kami untuk menghemat tenaga sekaligus uang. Menghemat tenaga karena kami berencana akan mengunjungi beberapa tempat wisata yang lokasinya cukup berjauhan dari hostel tempat kami menginap. Menghemat uang karena jika tidak menggunakan motor sewaan/jalan kaki, satu-satunya transportasi ke tempat-tempat tersebut adalah taksi yang mematok harga 200-400 Npr (Rupee Nepal) sekali berangkat (sekitar Rp 20.000 sampai Rp 40.000). Apalagi jika dapat supir nakal yang suka mematok harga seenaknya ke turis asing, tambah apes lagi.

Cukup banyak persewaan motor yang berjajar di ruko-ruko padat Thamel. Setiap ruko menawarkan harga dan jenis motor yang berbeda-beda, tapi kebanyakan adalah motor matik, motor bajaj, dan motor tril. Paling murah tentunya motor matik.

Setelah berkeliling sesaat kami mendapatkan sewa motor yang menurut kami cukup murah, berada di sebuah ruko yang menjual bahan makanan di dekat Dharmadhaatu Stupa. Di depan ruko tersebut ada sebuah plang kecil bertuliskan "Rent Motorcycle". Pemiliknya lelaki Nepal bernama Mr. Sunil. Ramah dan informatif. Harga sewa motornya adalah 500 Npr/sampai sore. Cukup fair untuk sebuah motor matik (bentuknya seperti Honda Beat dengan perawakan yang lebih gemuk). Kami menyewa motor selama tiga hari. Hari ini berkeliling Kota Kathmandu, dua hari setelahnya untuk menuju Bhaktapur Durbar Square dan Nagarkot yang berada 32 kilometer di sebelah timur laut Kathmandu.

Paspor adalah syarat yang diminta Mr. Sunil untuk menyewa motornya. Karena kami berdua dan pasporku akan kugunakan untuk check in di hotel Nagarkot nanti, temanku yang meninggalkan paspornya. Kami sempat mengecek dan menfoto kondisi motor sebelum diberi dua buah helm dan fotocopy surat kendaraan.

" Bagaimana jika kita melakukan pelanggaran lalu lintas dan polisi menangkap kita? Apakah fotocopy surat motor ini bisa digunakan?" tanyaku penasaran. Bagaimanapun aku tidak mau berurusan dengan birokrasi disini.

"Tenang saja. Bilang saja Mr. Sunil. Mereka (polisi) teman saya. Pasti akan baik-baik saja," jawab Mr. Sunil.

Antara percaya dan tidak percaya, aku pasrah. Kami akan berusaha mengemudi sebaik mungkin, menghindari melanggar lalu lintas. Setelah menanyakan arah keluar dari Thamel menuju jalan raya utama dan menerima dua buah helm, kami segera meninggalkan ruko Mr. Sunil.

Mungkin ini kesalahan terbesar kami. Menyewa motor tapi sama sekali tidak tau arah. Memang banyak informasi arah di Kathmandu (seperti papan hijau penunjuk arah di Indonesia), tetapi semuanya nama-nama asing yang belum pernah kudengar. Tujuan kami adalah Stupa Bouddhanat. Kami sama sekali tidak tau arah, hanya berputar-putar kesana kemari.

Debu Kota Kathmandu yang tebal dan menggumpal sedikit membuatku pusing. Aku mengusulkan ke travelmate untuk mencari ruko yang menjual kartu internet. Harus menggunakan google map. Susah sekali jalan tanpa arah dan tujuan seperti ini. Untung saja google bukanlah sesuatu yang diblokir di negara ini.

Setelah berputar-putar cukup lama, kami mendapati sebuah warung kelontong yang menjual kartu internet. Setelah bertanya-tanya cukup banyak tentang kartu internet terbaik di Nepal, kami disarankan menggunakan NCell. Katanya sinyal NCell bisa menjangkau sampai ke Nagarkot (tujuan kami besok). Tetapi karena untuk menggunakan kartu internet harus aktivasi dahulu, penjual warung tersebut - seorang lelaki muda Nepal berperawakan tinggi - menyarankanku untuk membeli kartu perdana sekaligus pulsa internet di konter NCell langsung. Kami mengikuti arahannya dan menemukan konter yang dimaksud.

Seperti di India, membeli kartu perdana di Nepal harus melewati prosedur yang lumayan ribet. Aku diharuskan memberikan paspor dan visa nepal untuk difotocopy, mengisi formulir yang meliputi data diri, memberikan foto close up (waktu kuberi foto dengan kertas foto tipis mereka sempat menolak). Setelah melalui proses yang lama, akhirnya mereka memberikanku kartu perdana seharga 150 Npr. Tentu saja itu hanya kartu perdana yang berisi pulsa reguler, aku masih harus membeli paket internet. Karena hanya untuk 3 hari, aku membeli paket internet 100Mb seharga 100 Npr. Penjaga konter mengaktivasi nomorku dan akhirnya aku bisa menggunakan internet!

Tetapi, bukan berarti masalah selesai....

Alamat ruko Mr. Sunil :
di depan Stupa Dharmadhaatu, Kawasan Thamel, Kathmandu (search "Stupa Dharmadhaatu" di google map)
Nomor telepon Mr. Sunil :
+9803239539



Sewa motor matik di Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Plat motornya hampir kami tidak bisa membaca sama sekali (GALUH PRATIWI)

Sebelum berangkat semua kondisi motor dicek dan difoto terlebih dahulu (GALUH PRATIWI)

Stupa Dharmadhaatu (GALUH PRATIWI)

Mr. Sunil (sebelah kanan) (GALUH PRATIWI)

0 comments:

Poskan Komentar