Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work

7.05.2020

Jogja, 1 Juli 2020 : Sekeluarga ke Kebun Teh Nglinggo, Kulonprogo

Rabu,1 Juli 2020
Lima hari sejak ane pulang ke Solo sejak Covid 19, udah gatel aja ngajak keluarga ane jalan. Boseeen aja gitu gan rasanya kalau hanya di rumah aja.

Setelah browsing sejenak, lihat postingan temen lama ane di Instagram, ane terinspirasi untuk mengunjungi Kebun Teh Nglinggo di Kulonprogo. Soalnya kok emak ane lagi lagi, dan lagi lagi ngajaknya ke Tawangmangu. Liburan sejak bertahun-tahun yang lalu kok tujuannya pasti ke Tawangmangu :D :D . Untungnya emak dan bapak ane setuju. Terutama bapak ane yang suka kuatiran. Ane sih bilang ke bapak jalan ke Kebuh Teh Nglinggo itu belak-belok biasa kok, nggak ekstrim hehehe. (Padahal ane sendiri sama sekali belum tau rutenya kayak apa).

Jam 08.00, akhirnya kami berempat - ane, ibu ane, bapak ane dan gavriel keponakan ane - berangkat dari Solo menggunakan Kia Rio Matic 2012 kesayangan ane, ane yang nyetir. Rute yang kita lewati adalah Solo - Depok - Sleman - Nglinggo. Sebenarnya bisa lewat Boyolali sih gan google map juga nyaranin lewat situ. Tapi kenapa lewat Jogja? 

Jawabannya adalah..... ntah kenapa kok ane lagi pengen banget yang namanya NOSTALGIA dengan sepanjang jalan kenangan Solo - Jogja - Solo gan. Nostalgia semasa kuliah, dan semua kenangan yang ada di dalamnya. Rasanya lagi pengeeeen banget melewati jalanan yang dulu sering kulewati semasa kuliah. Melewati jalanan yang dulu aku bercengkerama dengan teman-teman dan sahabatku. Jalanan yang dulu aku mampir ke warnet dan ngerjain tugas. Kosan lamaku, burjo lamaku tempat aku biasa makan nasi telur dan nasi sarden hehehe.

Kami sempat mampir ke Sop Ayam Pak Min Klaten untuk sarapan. Aku pesan sop ayam paha atas dan ibu, bapak, serta Gavriel pesan sop biasa. Oya sepanjang jalan pas nyetir ini ane sering kesel sama bapak ane, soalnya orangnya gak percayaan banget kalau disetirin orang. Kata-kata, 

"Awas !"

"Kunci pintunya!"

"Riting."

"Jalan di jalur kiri aja."

"Pelan-pelan aja."

Dll itu-ituuuu aja sepanjang jalan diulang-ulang. Kan ane yang supirnya merasa risih aja wkwk. Bukannya ane merasa jumawa nyetir sih gan. Tapi kalau agan yang di posisi ane, pasti kerasa lah. Gak enak banget nyetir sambil diatur-atur gitu. Mana bapak ane tu gak bisa nyantai gitu gan disetirin. Pandangannya selalu was-was kedepan. Kan ane pengennya ya keluarga ane itu seneng-seneng, santai, menikmati perjalanan gitu gan. Tapi memang sepertinya traveling gaya Road Trip gini memang bukan gaya bapak ane. 

Selesai makan, kami pun melanjutkan perjalanan kembali ke kota penuh kenangan itu, Kota Jogja. Dari Sop Ayam Klaten ke Kota Jogja kutempuh selama 1,5 jam. Oya, sewaktu melewati Rumah Sakit Soeradji Tirtonegoro di Kota Klaten, otak ane kembali bernostalgia kenangan 8 tahun silam (September 2012), sewaktu ane kecelakaan tunggal motor disini. Nanti akan ane ceritakan di part lain yang khusus itu ya. Hihi. Ane masih cukup ingat lo kejadian detailnya.

Mendekati Kota Jogja, google map-ku mengarahkan melewati Jalan Ring Road Utara, karena langsung akan ditembuskan ke arah Samigaluh, Kulonprogo. Lagi-lagi otakku diserbu gelombang kenangan. Karena jalan Ring Road Utara ini adalah salah satu jalan yang paling sering ane lewatin kalau mau pulang ke Solo. Mengenang masa-masa perjuangan itu :) .

Nyetir terus di sepanjang Ring Road Utara, sampailah ane di cabang Ring Road yang kalau ke kiri ke arah Wates/Purworejo, sedangkan kanan ke arah Magelang. Kalau ke arah Samigaluh kan seharusnya ane ambil yang cabang kiri ke Wates/Purworejo. Eh ane salah ambil yang ke arah Magelang. Alhasil kami diarahkan Google Map melewati jalan alternatif tembusan ke Samigaluh yang lewat jalan-jalan sempit. Wajah bapak ane sudah tegang aja ni di sepanjang jalan, lihat ane dengan begitu lincahnya nyetir ke kanan, banting kiri, lambung kanan, klakson, ngerem, belok tajam, wkwkwk.

Akhirnya, setelah melewati jalan tembusan itu beberapa saat, sampailah kami mendekati Kebuh Teh Nglinggo, namun untuk masuk ke arah Kebun Teh kalau ngikutin google map kok jalannya naik curam banget. Akhirnya ane lurus aja terus untuk menemukan jalan yang agak landai. Sempat kebingungan beberapa saat sebelum bapak ane turun untuk nanya orang setempat mana jalan paling aman dan landai yang bisa dilewatin.

"Kayak gitu itu nanya dulu. Lurus aja terus sampai nemu pertigaan, nanti belok kiri terus lurus aja," kata bapak ane. Nadanya udah agak emosi aja nih gan, karena sebenarnya dia tu paling nggak suka wisata ke jalan-jalan yang ekstrim gini hahaha.

Ane ngikutin arah yang ditunjukkan bapak ane dan mulai masuk jalan yang menuju Kebun Teh Nglinggo. Dan...... ternyata jalannya itu gan........bagi bapak ane bisa dibilang super ekstrim !!! Hahaha. Jalanan hanya selebar +/- 3 meteran, aspal batu, muter-muter dan naiik-naiik terus non stop. Ane 90% menggunakan gigi 1 disini. Bahkan sempat ada tikungan naik yang Kia Rio sudah maksa maksimal, sudah gigi 1 tapi hampir tidak kuat (tapi ane yakin masih bisa teratasi). Kalau bagi ane sih, jalan ini tingkat seremnya 8 dari 10. Serem, tapi belum sampai membuat ane bergidik atau nggak berani menjalaninya.

"Wis! Kapok aku !" Kata bapak ane dengan kesal meihat kondisi jalanan yang naik-naik dan mutar-mutar tanpa henti.

Ane yang lagi konsentrasi nyetir pun agak emosi,

"Yowis to, lain kali nggak usah ikut. Wong aku ki yo pergi-pergi sendiri gpp," kataku dengan sengit. Sebenarnya ini ungkapan emosi aja, ya ane tetep pengen pergi sekeluarga.

"Aku iki yo senenge dolan, main kesana kemari. Kalau di Jawa Timurpun aku sering pergi ke Tulungagung, Trenggalek, Mojokerto, Lumajang, Situbondo, Sampang, semuanya nyetir sendiri. Kalau di Solo cuma suruh di rumaaaah aja ya aku bosen," kataku lagi agak sedikit emosi.

Yah ane nggak bisa nahan emosi aja gan. Maksud ane ngajak mereka jalan kan supaya mereka seneng, dan apapun halangan yang kita hadapin di depan, seharusnya kan diselesaikan bersama. Entah saling mengarahkan, entah saling membantu solusinya, bukan hanya menyalahkan dan malah marah. Pffffttt...Lagipula ane cukup percaya diri nyetir di jalanan ini, itu karena ane sudah sering mobilan di jalanan Jawa Timuran yang banyak bus serta truk. Selain itu jalanan ke lokasi tambang juga biasanya kecil-kecil dan berbatu. Tapi bapak ane memang tingkat ketakutannya sudah terlalu berlebihan.

Akhirnya, setelah putaran dan naikan jalan entah keberapa, sampaiiii juga kami di area parkir tempat wisata Kebuh Teh Nglinggo. Huaaaah lega ! Ane sih sebenarnya biasa aja ya. Tapi ane benar-benar nggak nyaman dengan reaksi bapak ane menghadapi jalanan kayak gini. Wajahnya terlihat tegang dan agak marah karena ketakutan. Apakah mungkin bapak ane ada fobia sama naik mobil di jalanan berliku ya?

Akhirnya ane, ibu ane dan Gavriel pun turun dan duluan santai-santai di warung. Ane segera pesen mi ayam, mendoan, sama teh panas. Ibu ane dan Gavriel pesan menu lain. Bapak ane terlihat masih rokokan di tempat parkir, mungkin masih shock dengan jalanan barusan dan udah memikirkan 'ngerinya' jalan balik nanti versi dia Wkwkwk. Kalau ane sih biasa aja, dan menikmati suasana. Kondisi udara terasa lumayan segar. Ane tiduran sambil menikmati suasana.
"Bu, kebun teh ini bagian lereng gunung apa nggih? Merbabu?" tanyaku ke ibu pemilik warung sewaktu dia mengantarkan makanan.

"Bukan mbak, bukan Merbabu," jawabnya.

"Perbukitan Menoreh ya Bu?" tanyaku lagi.

"Nah iya mbak, Menoreh ! Monggo nggih."katanya sambil menyerahkan mi ayam dan mendoanku. Aku memakannya dengan cukup nikmat.
Sesaat kemudian, Alhamdulillah ketegangan bapak ane sudah cair dan akhirnya kami berjalan ke arah hamparan kebun teh di atas sana. Disana kami habiskan dengan foto-foto. Gavriel terlihat semangat banget foto-foto, pakai kacamata hitam 'gagang satu' yang kubawa dari Solo. Wkwk. Gagangnya coklek 1, untungnya yang satunya masih bisa nyangkut di telinga.
Setelah puas foto-foto di spot tersebut, akhirnya kami pindah ke spot yang lebih tinggi. Kami harus berjalan mendaki sekitar 200 meter. 

Spot kedua inilah ada tulisan "Kebun Teh Nglinggo", dan ketika masuk lebih dalam, ada beberapa spot foto yang anglenya sangat cantik. Gurat-guratan Perbukitan Menoreh terlihat kehijauan dan sangat mempesona. Kami menghabiskan waktu beberapa saat disini.
Setelah puas menikmati keelokan dan kesegaran Kebun Teh Nglinggo, lagipula sudah agak mendung, akhirnya jam 15.00 ane usulkan kita turun ke Kota Jogja sudah. Rencana kami malam itu adalah nginep semalam di Kota Jogja, daerah Malioboro. Karena kok capek banget rasanya kalau langsung pulang ke Solo malam ini juga. Lagipula, ane belum puas bernostalgia dengan Kota Jogja secara lebih detail. Untungnya pas perjalanan pulang dari Kebun Teh Nglinggo kembali ke Kota Jogja, bapak ane tidak terlalu cerewet. Memang sih, wajahnya masih tegang, was-was dan suka mengarahkan, tapi tidak terlalu semarah pas berangkat tadi. Perjalanan pulang berlangsung dengan lancar dan cukup cepat. Setelah browsing sejenak, ane putuskan tidak jadi nginap di Hotel sekitar Malioboro karena harganya mahal banget. Semalam bervariasi antara 700ribu sd jutaan. Sayang aja duitnya. Browsing lebih lanjut, ane menemukan hotel yang lumayan bagus dan luas.

Hotel Sagan Yogyakarta. Itulah nama hotel tempat kami akan nginap malam ini. Nama yang tidak asing bagi ane. Karena....Sagan itu kan daerah dimana mantan kosan ane pas pertama kali kuliah di Jogja gan. Kebetulan banget dapat hotel disini, sempurna deh nostalgia ane. Kos dengan segala macam kenangannya yang campur aduk disana. Awwwhhhh rasanya gimanaaa gitu ! Kebetulan Hotel Sagan Yogyakarta hanya berjarak 100 meteran aja dari mantan kosan ane itu gan.
Malam itu setelah mandi dan beristirahat sejenak, kami sempat muter-muter Kota Jogja. Si Kia Rio kuarahkan dari Hotel Sagan - menuju Malioboro - menuju Alun2 - menuju Museum Dirgantara - menuju Stasiun Lempuyangan. 
"Aku wes lupa ee jalan ini," kata ane berkali-kali. 

"Mungkin kowe wes pernah lewat. Hanya lupa aja," sambung ibu ane.

"Iyo, terakhir kapan to kowe?" Sambung bapak ane lagi.

"2015. Berarti 5 tahun yang lalu," jawab ane setengah bernostalgia.

Tapi jujur emang udah banyak banget jalanan di Jogja ini yang ane benar-benar lupa gan. Mungkin ane memang pernah lewat, tapi untuk kenangan pastinya benar-benar lupa. Dulu ane harusnya bikin jurnal ginian tiap hari ya gan, biar gak lupa sedikitpun momen penting ! Karena jurnal pas kuliah (selama 2010-2015) dan jurnal selama kerja di C**B N***a Jakarta (April 2015 sd Juni 2015) adala 2 jurnal favorit ane. Karena disitulah semua perjuangan ane berawal, dari mulai bermimpi, dapat beasiswa, pernah broke, benar-benar broke parah nggak punya uang sama sekali.

Awalnya kami berencana akan makan Bakmi Jawa di depan Stasiun Lempuyangan. Bakmi Jawa itu adalah favorit ibu ane sejak 5 tahun yang lalu, dimana ibu ane setiap ke Jogja jenguk ane selalu makan disini. Namun ane pesimis warung itu masih ada, karena seingat ane terakhir ane dan ibu ane kesitu, itu warung udah nggak ada. Akhirnya kita memutuskan makan nasi goreng di warung depan Hotel Sagan. Ane masih inget banget, warung ini udah ada sejak zaman dulu kala ane ngekos, cuma seinget ane nggak pernah makan disini. Malam itu kami makan nasi goreng seafood.

Malam itu sempar diperibet dengan pencarian 'pampers' untuk Gavriel yang susahnya minta ampun. Kota Jogja memang tidak Lockdown, PSBB, atau semuanya ya, tapi kebanyakan supermarket ternyata udah tutup dari jam 9 malam. Alhasil sehabis makan kami mencari pampers kesana kemari tanpa hasil. Bapak ane akhirnya kepikiran buat minta tolong ojek online yang banyak berseliweran di sekitar warung. Tarifnya tentu aja jadi abu-abu. Ane sendiri sempat ragu bilang iya pas bapak ane ngusulin itu, takutnya ya, ditarif seenaknya gitu ! Eh beneran donk, pas akhirnya dia dapat pampers, dia mematok jasanya nyari aja itu Rp 50.000, sementara pampersnya sendiri Rp 48.000. Bapak ane terlihat agak gelo, tapi ane ingetin. 

"Itu idemu loh," kata ane nahan ketawa😁😁. Mana pampersnya akhirnya salah, pampers dewasa. Ibu ane akhirnya memodifnya menjadi pampers anak. Disobek sana sini.

Dan ternyata pas dipasangin ke Gavriel, semalaman dia gak ngompol. Padahal biasanya kalau di rumah ngompol banyak-banyak lo 🤣🤣🤣🤣. Seratus ribu hilang sia-sia wkwk.
Malam itu entah kenapa ane menjadi susah tidur. Ada sesuatu yang terus menerus kupikirkan di otakku ("selfish people"). Ane akhirnya baru bisa tertidur setelah subuh jam 04.30 pagi. Zzzzz.  Hari ini benar-benar melelahkan.
***
Selfish ppl 🤐🤐 (Je me souviens encore de toi et ne t'oublie jamais.  Je vous aimerai toujours.)

0 comments:

Posting Komentar