Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work

7.13.2016

Diary Menggapai Himalaya 17 : Gunung Es Himalaya

Nagarkot
10 Juli 2016
07.56

[17] bukan pungguk yang merindukan bulan
Aku terbangun dengan jantung berdebar. Kulihat arlojiku, masih jam 00.28 waktu Nepal. Ahh, bisanya aku mimpi hantu di tempat indah semacam ini. Aku menenangkan diri dan melanjutkan tidur. HP sudah kualarm pukul 04.30 dan 04.45. Mau lihat sunrise yang katanya jam 05.15.
Alarmku berbunyi, aku masih malas dan segera membuka gorden kamar. Kabut masih tebal. Gunung-gunung masih bersembunyi, seakan tidak mau menampakkan kemegahannya. Aku menunggu sembari menyeduh kopi panas.
Aku adalah seorang pemimpi. Meski fisikku lemah (mendaki Kawah Ijen aja ngos-ngosan dan berhenti setiap 10 langkah), aku bermimpi bisa menginjakkan kaki sedekat mungkin dengan Pegunungan Himalaya. Jika mendaki Everest atau Annapurna bukan menjadi pilihanku (well, sangat mahal biaya treking setengah milyar dan taruhan nyawa), aku mempunyai mimpi untuk menginjakkan kaki di Everest Base Camp (EBC) atau Annapurna Circuit Treck (mengelilingi lintasan Annapurna). Beberapa orang yang kutahu sudah berhasil menaklukkan rute ini, bukan pendaki expert. Aku yakin aku bisa melalukannya jika fisikku kulatih.
Perlahan-lahan, kabut dan awan tebal mulai meninggalkan peraduannya. Sedikit demi sedikit pegunungan es Himalaya mulai tersingkap. Menakjubkan. Satu kata itu yang ada di hatiku. Melihat ciptaan Tuhan yang begitu indah, tinggi, nun jauh disana membuatku semakin bersyukur. Terimakasih Tuhan, telah membantu anak desa ini, yang semasa kecilnya hanya bisa lihat atlas dunia dan mencatat paket tour dari koran-koran, sekarang aku benar-benar berdiri disini. Mimpilah yang membawaku kesini.







0 comments:

Poskan Komentar