Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work

5.31.2020

Surabaya, 18 Desember 2019: Pagi-Siang Galau, Malam Berangkat ke Lombok

Hari ini aku sedang galau, galauu banget dan sedih akan sesuatu. Sesuatu yang saat itu begitu menekanku, meski itu hanya karena kelebaianku sendiri. Meskipun maaf tidak akan kuceritakan secara gamblang disini. Intinya aku seperti butuh "self recovery", melihat lagi arti hidupku ini secara lebih utuh. Mencari lagi apa tujuanku lahir dan hidup di dunia ini, serta bagaimana secara bijaksana aku menjalani hidup, tanpa terlalu terfokus ke 1 hal yang sebenarnya tidak terlalu penting-penting amat. Namun hanya aku saja yang melebih-lebihkan.

Aku menelepon beberapa teman, namun sama saja. Tidak ada yang bisa benar-benar mengusir kegalauanku, dan membuatku bersemangat lagi. Salah satunya malah membuatku semakin down, aku memutuskan, aku gak mau berdiam di Surabaya, aku harus pergi ke suatu tempat. Mungkin di tempat itulah, aku bisa mendapatkan pencerahan. Aku bisa memandang hidup dengan bijaksana, tanpa terfokus pada hal-hal yang kurang penting.

Sesaat setelah berpikir, aku memutuskan aku akan pergi ke Bali.

Salah satu temanku mengusulkan, pulang saja dulu ke Solo. Tapi aku benar-benar tidak bisa pulang dalam kondisi galau begini. Aku tidak mau pulang dan  menunjukkan wajah yang suram. Aku ingin pulang ke Solo dengan bahagia.

Aku segera searching tiket ke Denpasar, Bali dan mendapati untuk keberangkatan malam itu, harganya lumayan melambung, 900ribuan lebih perorang. Sedangkan kalau berangkat besok, "hanya" 500ribuan. Aku merasakan dorongan besar untuk berangkat malam itu juga. Aku seperti tidak ingin di Surabaya malam ini. 

Kebetulan saat itu aku punya "credit shell" Airasia sebanyak 350ribuan dari hasil pengembalian pajak penerbanganku ke Tokyo September 2019 yang tidak jadi kulaksanakan. Namun karena malam ini kursi penerbangan Airasia ke Denpasar sudah habis (yang 900ribuan tadi pakai pesawat lain, L*on Air), aku terpaksa mengalihkan penerbangan menggunakan Airasia ke Lombok dan terbang malam itu juga. Untuk penerbangan ke Denpasar, Bali, akan kulakukan keesokan harinya dari Lombok. Jadi penerbangan yang kuambil:

1. Surabaya-Lombok berangkat malam ini jam 21.05
2. Lombok-Denpasar berangkat esok pagi jam 06.20
Sesaat setelahnya aku segera membooking dan membayarnya. Karena ini masih jam 4 sore, aku masih mempunyai waktu beberapa jam untuk bersiap-siap.

Malamnya sekitar jam 19.30 aku segera pesen grab untuk ke bandara. Dan sialnya jalanan menuju bandara malam itu agak ramai sehingga sekitar jam 20.15 aku baru mendekati area bandara. Mana babang grabnya sempat salah menuju Terminal 1, dan keuhkeuh kalau ini turun disitu. Padahal sejak awal aku udah kasih tau kalau Airasia terbang dari Terminal 2.

Saat perjalanan dari Terminal 1 ke Terminal 2 pun babang grabnya malah gak hafal jalan dan seenaknya belok sana sini.

"Aduhh pak.. kekejar nggak ya ini pesawatnya," aku mulai mengeluh karena orientasi arah babang grab ini  untuk area bandara bisa dibilang "agak buruk". Masa salah terus dan gak tau arah. Dalam hati aku sudah pasrah kalau tiketku bakal hangus. Karena setauku, calon penumpang wajib sudah ada di gate 30 menit sebelum keberangkatan. Aku sendiri tidak berani sama sekali lihat jam, aku tidak mau berhenti berharap sebelum aku benar-benar berlari sampai ke gate. 

Setelah si babang grab bertanya kepada beberapa orang, akhirnya sampai juga di Terminal 2 dan ane langsung lari melesat ke area keberangkatan. Sebelumnya aku sudah web check in jadi langsung bisa ke arah pemeriksaan tas dan gate keberangkatan. 

Hhh setelah sampai gate keberangkatan... Ternyata pesawatnya delay. Kesempatan gabut beberapa menit ini segera kumanfaatkan untuk beli mie instan dan air karena aku belum sempat makan malam dari tadi karena tergesa-gesa. Yakali kan.. aku baru beli tiket 5 jam sebelum berangkat.
Akhirnya waktu boarding pun datang dan penerbangan Surabaya-Lombok malam itu berjalan dengan lancar, bahkan hampir gak berasa. Karena penerbangan malam, sepanjang penerbangan selama kurang lebih 40 menit itu, lampu pesawat dimatikan terus sehingga menambah suasana syahdu. Ada momen dimana aku hampir tertidur karena kelelahan, tapu sebelum sempat memejamkan mata aku sudah dibangunkan oleh suara pramugari yang mengatakan bahwa sesaat lagi kita akan mendarat di Bandara Internasional Lombok atau lebih tepatnya Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid.

'Buset.. cepet amat deh. Perasaan tadi baru naik,' ujarku dalam hati.

Turun dari pesawat jujur ane bingung. Jam sudah menunjukkan pukul 11 WITA, sedangkan penerbanganku ke Denpasar kan baru besok jam 06.20 WITA. Pikiran pertamaku saat itu adalah, menemukan tempat dimana aku bisa tidur klesotan di bandara dengan calon penumpang lainnya sembari menunggu pagi. Tapi semakin aku berjalan ke gate kedatangan, tidak terlihat satupun calon penumpang yang tidur klesotan, ataupun tidur di kursi. 😁😁 Gagal total dah ini rencana. Bandara Internasional ZAM /Lombok pun tidak terlalu besar. Saat itu hanya terdapat beberapa penumpang yang terlihat duduk-duduk, namun tidak banyak.

Seperti dugaanku, sesaat setelah aku berjalan di area kedatangan, berbagai supir penyedia jasa transport ke hotel tujuan langsung mengerumuniku. Mereka membujukku dengan segala cara.

"Mbak, ayo mau kemana? Saya antar. Tarif grab saja."

Aku mendengar kata-kata itu hampir dari setiap supir yang menawariku jasa tumpangan. Lah, aku sendiri bingung. Booking hotel aja belum kok udah mau dianter. Emang dianter kemana? Kataku dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.

"Bentar pak. Aku masih mau duduk-duduk dulu." Kataku sambil setengah mengusir mereka dengan halus.

Sebenarnya sih, aku pengen memutuskan dulu. Malam itu mau ngapain hehe. Gabut banget. Mau nginep kok sayang duitnya, soalnya hotel yang deket bandara agak mahal, itupun cuma beberapa jam aja karena jam 04.00 pagi besok aku udah harus ke bandara lagi untuk terbang ke Denpasar. Kalau nggak nginep hotel malam ini kok kayaknya gabut banget. Cuma duduk-duduk doank, mana kursinya gak ada sandaran punggungnya atau pegangan tangannya, murni cuma duduk doang.  Lagipula, malam itu aku juga kerasa agak capek dan butuh tidur.

Akhirnya aku iseng-iseng cek traveloka dan setelah mempertimbangkan sesaat, akhirnya aku booking hotel Dmax Convention yang berjarak hanya 2,7 kilo dari Bandara. Tarifnya gak usah ditanya, sebenarnya cukup bikin backpacker kayak aku bete, 300ribuan hanya untuk 6 jam tidur. Itu seperti halnya membayar 50ribuan untuk setiap jamnya. Wkwk. Jujur ane itu backpacker yang ngirit banget soalnya gan. Tapi yaudahlah.. berhubung ini trip pembunuh galau kan, jadi sekut aja. Dienak-enakin aja dah ini badan. Aku mengamini apa yang kulakukan dan segera mencari driver untuk mengantarkanku ke Dmax Convention Hotel.

Setelah bertransaksi sejenak, akhirnya aku milih salah satu driver yang daritadi tidak menyerah menawariku tumpangan yang katanya "dengan tarif grab". 

"Jadi berapa pak ke Dmax Convention Hotel?"

"40ribu aja mbak."

Buset dah. Aku yang sebelumnya sudah searching diam-diam, dan udah cek aplikasi grab pun langsung protes.

"Tadi katanya pakai tarif grab. Dmax ini jaraknya cuma 2.7 kilo loh pak. Cuman 5 menit aja naik mobil. Ini di grab cuma 20ribu."

"30ribu ya."

"25ribu pak. Fix. Dekat kok. Bapak juga sudah janji pakai tarif grab." Kataku masih dengan pertahanan diriku.

"Okelah.. mari." Kata bapak tersebut.

Ternyata driver yang akan mengantarku ke Dmax bukanlah bapak itu, tapi orang lain. Dengan kata lain bapak itu hanyalah calo yang mencari-cari penumpang di gate kedatangan.

'huh.. pantasan seenaknya aja pasang tarif 40ribu. Dikira aku gak cek ricek apa jarak hotelnya,' ujarku dalam hati.

Selanjutnya perjalanan dengan mobil benar-benar berjalan 5 menit, aku telah tiba di Dmax Convention Hotel. Kamarku berada di lantai atas, dan inilah pemandangannya.
Pertama kali masuk, aku agak takut sebenarnya. Hehe. Meskipun design interiornya cukup modern, tapi kamar ini terlihat suram karena penerangan yang agak kurang. Prosedurku ketika agak ketakutan masuk kamar hotel pasti sama. Aku langsung menyalakan semua lampu, dan menyalakan TV yang menyiarkan saluran olahraga/berita. Selain itu, jika hotel itu ada jendelanya biasanya akan aku buka sesaat, supaya suara dari luar bisa masuk. Tapi eh tapi, inikan Lombok yang gak serame Surabaya. Pas aku buka jendela malah pemandangannya padang luas yang gelap. Autogemeter, aku langsung tutup lagi itu jendela πŸ˜…πŸ˜πŸ˜.

Selain itu sebenarnya aku juga masih agak takut dengan gempa-gempa yang terjadi di Lombok beberapa bulan silam. Yah kan aku di lantai atas ya, masih gak ngerti gitu gimana prosedur keselamatan kalau tiba-tiba sampai terjadi gempa. Mana tangga darurat, mana jalur evakuasi, aku gak ngerti sama sekali.

Tapi aku berusaha meyakinkan diriku, bahwa 'everything is gonna be okay'. Aku mencoba main HP untuk mencari ngantuk, tapi tidak bisa. Lalu aku menyadari kalau aku lapar. 

Aku segera membuka-buka pamflet di meja untuk melihat daftar menu makanan restoran mereka. Sesaat setelahnya aku menelepon resepsionis untuk memesan nasi goreng dan teh panas. Buset dah masih sakit ati aja, habisnya 100ribu lebih hehehe, mana nunggunya lama banget sampai hampir setengah dua pagi baru dateng. Tapi ya lagi-lagi aku berpikir, ini trip untuk membunuh galau. Jadi tidak usah lah terlalu sayang-sayang duit, asal masih logis ya tapii 😁😁😁. Namun jiwa ngiritku tetap ada. Aku sengaja memakan nasi goreng itu hanya separo, separonya untuk nanti sarapan sebelum OTW ke bandara lagi pagi ini hihi.

Selesai makan aku kembali mencoba tidur, namun tidurku tidak benar-benar nyenyak. Aku seperti antara sadar dan gak sadar apakah tidur benaran atau nggak. Aku hanya guling sana, guling sini. Sampai akhirnya jam menunjukkan pukul 04.00 WITA dan aku sadar aku harus segera siap-siap untuk balik ke bandara lagi untuk terbang ke Bali.

Rasanya kok badan ini malessss banget gitu. Maksudnya, aku belum bener-bener tidur pulas dari tadi. Jadi rasanya sebeeel aja udah harus bangun dan beraktivitas lagi. Mana udah bayar mahal, malah gak bisa tidur hahaha. UUBD = Ujung-Ujungnya Balik ke Duit. Alhasil, di tengah waktu yang terus berjalan, aku masih males-malesaaaan aja, tiduran di kasur. Padahal aku udah ada janji sama hotel ini, mau ada "wake up call" jam 04.30, karena aku udah janji mau ikut transport gratis mereka jam 05.00 WITA. Alhasil pas ditelfon "wake up call", aku hanya ngeiyain aja, trus males-malesan lagi. Belum mandi, sisa nasi gorengku belum kumakan, belum siap-siap hihi. Padahal tidur juga enggak. Cuma tiduran doang gitu kayak manusia gak berguna😁😁.

Baru jam 04.45 aku akhirnya mengangkat tubuhku dari kasur dan aku langsung mandi air hangat. Nggak bisa menikmati lama karena telfon kamarku kembali berdering, mengingatkan aku untuk segera turun naik mobil transportasi gratis (dari hotel) untuk menuju bandara.

"Iya pak. Ini saya siap-siap dikit lagi turun," kataku. 

Padahal aku masih baru selesai mandi, baru mau masuk-masukin barang. Sisa nasi gorengku juga belum kulahap habis.

Jam sudah menunjukkan pukul 05.05. Karena aku merasa sudah gak ada waktu lagi, aku hanya makan nasi gorengku sesendok dan langsung berlari ke bawah. Ahhhh sial! Sayang nasi gorengku kanπŸ˜πŸ˜….

"Maaf mbak, mobil sebelumnya sudah berangkat tepat jam 05.00 tadi. Soalnya harus tepat waktu mbak," kata resepsionis saat aku akhirnya check out dan menanyakan mobil transport gratisnya ke bandara.

"Yahhh.. maaf pak. Terus bagaimana ya?" Balasku dengan sedikit tidak bersemangat.

"Nanti tunggu mobilnya balik mbak. Akan diantar lagi."

"Waduh, gpp pak? Maaf banget merepotkan pak. Maaf banget saya telat pak," kataku dengan bersemangat lagi.

"Gpp mbak. Tunggu aja di kursi sana ya."

Yeaa.. gak perlu ngeluarin duit buat grab deh. Hehe. Dasar si malas dan si pelit.

10 menit kemudian mobil hotel datang lagi dan setelah meminta maaf kepada bapak driver karena aku telat, aku sampai di Bandara ZAM/Lombok lagi untuk persiapan terbang ke Bali. Perkiraanku, penerbangan ini bakalan berlangsung sangat singkat karena kedua kota ini sebenarnya jaraknya dekaaat banget. 

Bali, semoga daya magismu menyembuhkan kegalauanku ya! Kataku dengan tersenyum sembari menatap semburat sinar matahari pagi yang mulai merekah.

0 comments:

Posting Komentar